Kamis, 23 Oktober 2014 | 09:21:14
Home / Nasional / Kesehatan / Jumlah Penduduk Lansia Meningkat

Kamis, 19 Juni 2008 , 14:02:00

JAKARTA – Salah satu Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Dalam rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Depkes diharapkan UHH meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2009.

Dengan meningkatnya UHH, maka populasi penduduk lanjut usia juga akan mengalami peningkatan bermakna. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9,77  persen dari total jumlah penduduk.

Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Budihardja menyatakan, peningkatan jumlah penduduk usia lanjut akan diikuti dengan meningkatnya permasalahan kesehatan. “Ini seperti masalah kesehatan indera pendengaran dan penglihatan, kesehatan jiwa dan sebagainya,” ujar Budihardja.

      Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ditetapkan pada tanggal 29 Mei 1996 dan terus diperingati setiap tahunnya. “Melalui tema ini diharapkan dapat memotivasi dan menggerakkan para lanjut usia, keluarga, organisasi sosial, masyarakat dan dunia usaha dalam meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan mengembangkan jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial,” paparnya.

      Budi menambahkan bahwa pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif.

      “Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial dan membebani perekonomian baik pada lanjut usia maupun pemerintah karena masing-masing penyakit tersebut cukup banyak memerlukan dana baik untuk terapi dan rehabilitasinya,” ungkapnya.

      Dikatakan, rencana hidup lansia idealnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa lanjut usia, paling tidak individu sudah punya bayangan aktivitas apa yang akan dilakukan kelak sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

      Diharapkan para lanjut usia melakukan pola hidup sehat yakni dengan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik/olahraga secara benar dan teratur serta tidak merokok. “Kegiatan ini perlu terus untuk disosialisasikan bagi masyarakat sejak berusia muda maupun yang telah berusia lanjut,” tambahnya

      Pemerintah, dalam hal ini Depkes telah merumuskan berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang dapat menunjang derajat kesehatan dan mutu kehidupan lanjut usia. Program pokok kesehatan menanamkan pola hidup sehat dengan lebih memprioritaskan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif), tanpa mengabaikan upaya pengobatan (kuratif) dan rehabilitatif.

      Pelayanan bagi para lanjut usia yang tergolong miskin diupayakan untuk dapat diberikan secara gratis melalui prosedur yang berlaku.

      Adapun tujuan Program Kesehatan Lanjut Usia adalah meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia agar tetap sehat, mandiri dan berdaya guna sehingga tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat.

      Menurut Budihardja, konsep Successful aging yaitu keadaan lanjut usia yang tercegah dari berbagai penyakit serta tetap berperan aktif dalam kehidupan dan memelihara fungsi fisik dan kognitif yang tinggi harus terus dikembangkan.

      Artinya, para lanjut usia masih dapat bekerja aktif terutama pada sektor informal (productive aging), berbagi pengalaman dalam kebijaksanaan pendalaman spiritual dan kehidupan (conscious aging) serta mengoptimalkan kesempatan dalam keikutsertaan program kesehatan dan kesejahteraan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup usia lanjut (active aging).

      “Dengan makin berkembangnya pengetahuan yang mempelajari tentang lanjut usia (ilmu Geriatri) melalui upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif, dengan sendirinya telah mengupayakan agar para lanjut usia dapat menikmati masa tua yang bahagia dan berguna,” lanjutnya.

      Budi menyebtukan bahwa beberapa aspek-aspek yang dapat dikembangkan adalah upaya pencegahan agar proses menua (degeneratif) dapat diperlambat, sebaliknya yang merasa sudah tua perlu dipulihkan (rehabilitatif) agar tetap mampu mengerjakan kehidupan sehari-hari secara mandiri.

      “Dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan Lansia yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 propinsi pada 2006, diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita adalah penyakit sendi (52,3 persen), hipertensi (38,8 persen), anemia (30,7 persen) dan katarak (23 persen). Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyebab utama disabilitas pada lansia,” imbuhnya. (iw/jpnn)

Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar