Sabtu, 31 Juli 2010  
   
OLAHRAGA - SEPAKBOLA
Senin, 16 Maret 2009 , 08:31:00

PENGHORMATAN TERAKHIR- Jenazah gelandang Bontang PKT Jumadi Abdi ketika akan dimasukkan ke dalam liang kubur di Pemakaman Taman Merdeka, Balikpapan, Minggu (15/3). Foto: THOMAS D PRIYANDOKO/KALTIM POST
MINGGU (15/3) menjadi hari duka bagi sepak bola Kaltim. Satu putra terbaik Banua Etam,  Jumadi Abdi harus menghadap Yang Kuasa setelah 8 hari tidak sadarkan diri di Rumah Sakit PKT Bontang.

Pesepakbola kelahiran Balikpapan ini meninggal dalam umur 26 tahun lebih satu hari, karena infeksi kuman pada usus halusnya akibat kebocoran saluran pencernaan akibat terkena sepakan pemain belakang Persela Lamongan pada laga Sabtu 7 Maret 2009.

ROBI JOHAN, Samarinda

Dering telepon pada Minggu (15/3) sekitar pukul 08.45 Wita sungguh mengejutkan. Asisten manajer Bontang PKT, Andi Faisal Sofyan Hasdam memberikan kabar dari Bontang bahwa Jumadi Abdi telah mengembuskan nafas terakhir kurang lebih pada pukul 08.00 Wita.

Jumadi yang terkenal dengan panggilan Pele ini memang sudah mendapat perawatan intensif dokter RS PKT, sejak dilarikan dari lapangan ketika membela timnya menghadapi Persela Lamongan. Jumadi yang menjadi starter pada pertandingan yang berkesudahan 0-0 ini ditandu ke luar lapangan setelah menjalani insiden dengan Deny Tarkas, pemain belakang Persela. Lambungnya terkena sepakan Deny yang berusaha membuang bola di depan Jumadi. Nahas, Jumadi yang sudah dalam posisi rebah terkena sepatu di pemain tersebut. Kejadian itu membuatnya terguling di lapangan. Muklis Alifatoni, wasit yang memimpin pertandingan itu menghadiahkan kartu kuning kepada Deny Tarkas dan Jumadi akhirnya digantikan Satria Feri.

Usai dilarikan ke rumah sakit, ternyata pacar dari Robiatul ini kondisinya tidak kunjung membaik. Usus halusnya yang pecah dan terlanjur membuat bakteri menyebar di luar area pencernaan disinyalir menjadi penyebab memburuknya kondisi pemain yang dilahirkan pada 14 Maret 1983 ini.

Bukan hanya itu, organ lain pemain yang memperkuat Kaltim pada PON XVI di Palembang ini juga ikut-ikutan tidak berfungsi, kecuali jantung yang masih bekerja dengan normal. Akhirnya, pemakai nomor punggung 7 di Bontang PKT ini mengembuskan nafas terakhir, Minggu (15/03 pagi.

Kabar yang tersebar berbarengan dengan simpati dan ucapan duka, langsung bermunculan. Rasa kehilangan menjadi hal yang paling kentara dari rekan satu tim. Apalagi, sebagian besar pemain lain tidak sempat memberikan penghormatan terakhir secara langsung karena masih berada di Wamena Papua dalam rangkaian Liga Super. Meski begitu beberapa pemain yang tidak diikutkan dalam tur ke ujung timur negeri ini, seperti Rusdianysah, M Sandi dan Trias Budi menyampaikan simpatinya melalui Kaltim Post (Grup JPNN).

Rusdiansyah yang mengaku sempat bertemu pada malam sebelum Jumadi Abdi meninggal dunia berujar, rekannya tersebut meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya di dalam lapangan, bahkan di luar lapangan sosok pemain yang pernah memperkuat tim Sea Games 2005 ini ternyata juga panutan. Salat lima waktu yang tidak pernah telat dikatakan Rusdiansyah sebagai satu teladan yang patut ditiru pemain lain.

"Seletih apapun dia berlatih, saya belum pernah lihat dia meninggalkan salat. Pernah sewaktu saya satu kamar dengannya di Semarang, ia tidak lupa membangunkan saya salat subuh. Padahal malamnya kami habis bertanding," ujar pemain yang menlani musim pertama bersama Jumadi di Bontang PKT ini.

Hal senada juga diutarakan Trias Budi dan M Sandi. Sebagai junior, jika dilihat dari umur, Trias mengakui Jumadi adalah sosok yang pantas dijadikan teladan. Semangatnya di dalam lapangan dengan tidak pernah kendur melakukan serangan atau membantu pertahanan, dinilainya menjadi kunci suksesnya berperan sebagai gelandang. Pun demikian, ia tidak melupakan sikap pemain ini di luar lapangan. "Saya benar-benar kagum dengan sikapnya yang tidak banyak omong. Ini patut menjadi contoh pemain muda," ucap Trias Budi.

Menjadi panutan pemain muda juga dikatakan Joko Sidik, pemain yang dipromosikan dari tim junior Bontang PKT. Menurutnya, Jumadi adalah panutan pemain muda dalam menjalankan tugas di lapangan atau kehidupan sehari-hari. "Orangnya tidak neko-neko. Saya senang melihat dia main sejak saya belum di PKT. Dia pantas menjadi panutan dan tempat belajar junior seperti saya," ungkap mantan bek Kaltim di PON XVII lalu.

Dan yang paling merasa kehilangan dari pekerja keras macam Jumadi Abdi adalah pelatih Fachri Husaini. Selain harus kehilangan stok pemain tengah, ia juga mengaku sangat kerja keras Jumadi kerap menjadi inspirasi pemain lainnya. Meski bersamanya di Bontang PKT belum sekalipun kemenangan digapai, namun ia tidak pernah absen menurunkan pemain tersebut, meski sebagai cadangan. Namun meninggalnya Jumadi menjadikan stok pemain tengah Bontang PKT kian tipis. Ini juga akan membuat beban tim yang dibesarkan perusahaan pupuk terbesar ini akan semakin berat menghindari zona degradasi.

"Ini cobaan berat bagi kami. Namun apa yang sudah dikorbankan Jumadi akan menjadi penambah semangat kami menjalani pertandingan selanjutnya. Dan pengorbanannya tidak akan sia-sia," tutur Fachri Husaini.

Dan untuk memberikan penghormatan kepada Jumadi, sebelum pertandingan di Stadion Pendidikan Wamena, pemain Bontang PKT melakukan prosesi menundukkan kepala selama 1 menit. Selain pita hitam juga dikenakan sebagai tanda berkabung. Dan malam harinya, usai salat isa, pemain yang beragama Islam melakukan doa bersama dan salat gaib. (***)

RELATED NEWS


Komentar (0)

Nama :
Email :
Komentar :

 
  TOP STORY
Dani Pedrosa Chris John
Nilai Saya Hanya Enam Bersiap Gantung Sarung Tinju