Rabu, 22 Oktober 2014 | 16:39:32
Home / Features / Kisah di Balik Sukses Rhenald Kasali Meraih Gelar Profesor

Selasa, 07 Juli 2009 , 07:00:00

BERITA TERKAIT

Sabtu pekan lalu (4/7) adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Rhenald Kasali PhD. Pakar manajemen pemasaran yang juga konsultan bisnis ternama itu dikukuhkan sebagai guru besar ilmu manajemen di Universitas Indonesia. Ada kisah menarik di balik raihan yang membanggakan itu.

------------------------------------
TITIK ANDRIYANI, Jakarta

-----------------------------------


Mungkin kau pernah mengejar gunung yang diberkahi.

Ia adalah gunung yang tertinggi di dunia.

Yang begitu kau mencapai puncaknya, engkau hanya punya satu hasrat untuk turun ke dalam dan hidup bersama mereka, hanya tinggal di lembah terdalam.

---

KUTIPAN syair Khahlil Gibran itu memotivasi Rhenald untuk meraih impiannya. Dan, dia telah berhasil meraih puncak karir akademik, menjadi guru besar. Bagi dia, itu sama dengan meraih gunung yang telah diberkahi itu.

Saat dikukuhkan Sabtu pekan lalu, Rhenald yang lahir pada 13 Agustus 1960 ini membacakan karya ilmiahnya berjudul Keluar dari Krisis: Membangun Kekuatan Baru Melalui Core Belief dan Tata Nilai.

Menurut Rhenald, dirinya membutuhkan seluruh hidupnya untuk menghasilkan karya ilmiah tersebut. Sebab, perlu proses panjang untuk membuat orang-orang di sekitarnya memahami makna perubahan. Sebuah grand pemikiran yang selalu dia tekankan selama ini dan tertuang dalam berbagai karyanya.

''Ini seluruh hidup saya, yang saya pikirkan dari hari ke hari. Yang kemudian, saya endapkan selama sebulan untuk ditulis menjadi karya ini,'' cerita Rhenald, sambil menunjuk karya ilmiahnya yang mengantarkannya menjadi guru besar.

Dia menambahkan, gelar profesor seharusnya bisa dia raih tiga tahun lalu. Namun, lantaran ada pihak-pihak yang menghambat proses peraihan gelar itu, pengukuhannya menjadi tertunda dan tertunda. Surat keputusan (SK) pengukuhan guru besarnya dari Universitas Indonesia (UI) ke Depdiknas sempat mandek. ''Begitu banyak cobaan waktu itu,'' ucapnya. Meski demikian, Rhenald tidak mau menyebut pihak yang ingin menjegal laju karirnya.

Ketika acara pengukuhan itu dihelat, Rhenald merasa sangat terkesan. Sebab, acara itu dihadiri gurunya semasa SD, Mardiyanti. Dia adalah guru yang sempat tidak menaikkan kelas Rhenald. Ya, Rhenald, yang kini berhasil menjadi profesor itu pernah tidak naik kelas. "Saat itu saya duduk di bangku kelas V SD Tarakanita," katanya. Entah apa penyebab dirinya tidak naik kelas ketika itu. ''Guru saya tidak ingat. Yang pasti, kata beliau, bukan karena saya tidak mampu mengejar pelajaran. Tapi, kemungkinan karena saya nakal dan suka berkelahi,'' tutur ketua Program Magister Ilmu Manajemen UI itu.

Semasa kecil Rhenald mengaku sering berkelahi. ''Ayah saya memang mendidik agar saya jadi lak-laki. Jadi, jika merasa benar, saya harus berani mempertahankan martabat,'' ungkapnya.

Rhenald tidak bisa melupakan pengalamannya semasa kecil. Ketika itu dia tercambuk untuk membuktikan diri. Tak urung, ketika harus mengulang di kelas V, Rhenald bisa menyabet ranking V di kelas. Setelah itu, dia hampir tak pernah lepas dari prestasi. Lantaran melekat erat dalam memorinya, menjelang pengukuhan, Rhenald meminta keluarga mencari sang guru yang pernah tidak menaikkan kelasnya itu. Tak disangka, koleganya, Michael Baskoro, direktur Perusahaan Gas Negara (PGN) itulah yang berhasil menemukan jejak sang guru dan menghadirkannya saat pengukuhan Rhenald.

Sang guru, Mardiyanti, pun turut menghadiri pengukuhan sang murid. Selama pengukuhan, cerita Elisa -istri Rhenald- Mardiyanti terharu. Dia sempat menitikan air mata. ''Beliau mengatakan bahwa undangan ini bagaikan mengantarkannya ke langit ke tujuh. Beliau amat bersyukur diberi kesempatan hadir di acara pengukuhan Bapak,'' tutur Elisa yang saat itu turut mendampingi Rhenald.

Apalagi, ketika berpidato, Rhenald sempat menceritakan pengalamannya tidak naik kelas. Dia juga menghaturkan rasa terima kasihnya terhadap sang guru. Peluk hangat sang guru ketika itu menjadi pelipur lara dan menuntaskan kekecewaan dirinya di masa lampau. ''Beliau memeluk saya hangat, dan lama sekali,'' ucapnya.

Kebahagiaan Rhenald tidak berhenti di situ. Pulang dari acara pengukuhan, dia dan keluarga disambut pesta meriah yang digelar warga di kampungnya. Senyum semringah dan haru meliputi mereka sekeluarga. Sekitar 300 warga tumpah ruah berpesta dan mengucapkan selamat kepada Rhenald.

Mereka adalah warga kampung yang tinggal di sekitar rumah perubahan, sebuah rumah yang dibangun Rhenald di Jalan Raya Hankam, Jatirangon, Bekasi. Di rumah perubahan itulah Jawa Pos menemuinya. Rumah dan pekarangan yang memiliki luas sekitar dua hektare itu memang amat berbeda dengan rumah kebanyakan.

Lahan yang cukup luas itu terdiri atas beberapa bangunan. Ada yang dimanfaatkan sebagai tempat tinggal atau peristirahatan, ada juga ruang yang dipakai untuk pelatihan marketing yang kerap diadakan Rhenald. Sekeliling bangunan itu adalah sungai dan perkebunan.

Maklum, kata Rhenald, sekitar empat tahun lalu, lahan itu bekas tempat pembuangan sampah. Dia pun membeli lahan di daerah itu hektare demi hektare. Kemudian, dia berupaya menyulapnya menjadi sebuah rumah yang bisa dipakai untuk banyak orang. Dia pun menamakan dengan rumah perubahan. Sebuah rumah yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mau berubah.

Rhenald pun memperluas kegiatan di rumah yang dibangunnya sejak 2007. Selain menggelar pelatihan bagi mahasiswa dan warga sekitar, Rhenald mengajari warga sekitar untuk berwirausaha. Mereka diajari berkebun dan memasarkan hasilnya. Termasuk, cara mengolah sampah kering maupun sampah basah untuk dijadikan kompos. UKM pun dibentuk dan dikelola dengan profesional. Tak urung, pemberdayaan warga sekitar pun tercipta. Upaya itu, menurut Rhenald, merupakan bagian dari bentuk pengabdian seorang dosen terhadap masyarakat.

Hingga kini Rhenald intens mendampingi warga di sekitar rumahnya untuk berwirausaha. Dia menginginkan mereka berani berubah. Perubahan itulah yang dia tekankan dalam karya ilmiahnya.

Rhenald mengatakan, beberapa orang amat berperan penting dalam hidupnya. Selain mengagungkan kedua orang tua yang selalu mendampingi Rhenald saat suka dan duka, istri dan kedua anaknya juga banyak menginspirasinya.

Termasuk Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti yang telah banyak membantu karir akademiknya. ''Beliau adalah guru hidup saya,'' ucapnya. Dorojatunlah yang membukakan pintu-pintu menuju jalan sukses untuk Rhenald. Salah satunya saat Dorojatun membantu Rhenald untuk berangkat belajar ke negeri Paman Sam, di University of Illinois at Urbana-Champaign. ''Beliau membantu saya mencari sponsor,'' ujarnya. (kum)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 17.10.2013,
        22:06
        rangga ega santoso
        saya jadi terharu