Rabu, 22 Oktober 2014 | 15:01:09
Home / Olahraga / Basket / NBA Cares Kunjungi Sekolah Nyaris Roboh

Minggu, 13 Juni 2010 , 00:37:00

NYANYI - Personil Denver Nuggets Dancers menghibur anak-anak pelajar di SDN Wonorejo V, di kegiatan NBA Cares yang menjadi rangkaian NBA Madness presented by Jawa Pos, Sabtu (12/6). Foto: Dita Putri/Jawa Pos.
NYANYI - Personil Denver Nuggets Dancers menghibur anak-anak pelajar di SDN Wonorejo V, di kegiatan NBA Cares yang menjadi rangkaian NBA Madness presented by Jawa Pos, Sabtu (12/6). Foto: Dita Putri/Jawa Pos.
BERITA TERKAIT

SURABAYA - NBA Madness presented by Jawa Pos boleh mengusung label even entertainment dengan nuansa basketball lifestyle. Namun, even yang kemarin (12/6) memasuki hari ketiga penyelenggaraan di atrium Tunjungan Plaza (TP) 3 itu tak hanya bernuansa hura-hura. Para personel Denver Nuggets Dancers yang menjadi bintang tamu pekan pertama even tersebut juga menunjukkan kepedulian kepada sesama lewat acara NBA Cares.

Kemarin Kali, Nikki, Katie, Devyn, Nicole, dan Chelsea mengunjungi SDN Wonorejo V di kawasan Jalan Kedungdoro. Mereka ditemani sang manajer, Amy Jo Wagner, Events and Attractions Group Director NBA Asia Ritchie Lai, Direktur Jawa Pos Azrul Ananda, serta beberapa staf NBA Asia dan DBL Indonesia.

Begitu tiba di gerbang sekolah itu, gadis-gadis cantik tersebut langsung mendapatkan sambutan meriah. Hampir seluruh pelajar SDN Wonorejo V, yang jumlahnya sekitar 219 anak, tumpah ruah di lapangan sekolah yang luasnya tak sampai 20x20 meter persegi. Mereka mengalungkan rangkaian bunga melati kepada Nicole, Katie, Chelsea, Kali, Nikki, dan Devyn.

Sebagian murid mengenakan topi dari kertas yang ditempeli foto-foto para dancer yang diambil dari pamflet. Enam siswa juga membawa papan, yang masing-masing ditempeli foto para dancer dalam ukuran besar. Para siswa menyambut mereka dengan nyanyian Welcome Denver Nuggets yang diiringi angklung. Nada lagu itu mengadopsi nada lagu Ambilkan Bulan Bu. Hanya, liriknya diganti.

Untuk enam penari tersebut, disediakan kursi sederhana di depan ruang guru. Begitu mereka duduk, tujuh siswi SDN Wonorejo V menyuguhkan tarian santren tanan. Setelah itu, para penari cilik tersebut menghampiri para dancer dan menyerahkan kenang-kenangan berupa celemek yang mereka buat sendiri. Tiap-tiap celemek itu sudah diberi sulaman nama para dancer. "So sweet. Bagus sekali," komentar Chelsea.

Setelah menyaksikan tarian, para dancer itu diajak memasuki ruang kelas II SDN Wonorejo V. Di sana mereka disambut 29 murid kelas II. "Hello," sapa para siswa tersebut sambil melambai-lambaikan tangan kepada para dancer. "Cantik-cantik, ya," celetuk Oksa Satrio, salah seorang siswa, sambil berkacak pinggang dengan genit. Celetukan itu tentu saja membuat semua yang hadir tertawa terbahak-bahak.

Para penari tersebut kemudian satu per satu memperkenalkan diri kepada para siswa. Ketika itulah kelucuan kembali terjadi. Para siswa mengira sang guru, Istiana, meminta mereka meniru ucapan para dancer. Karena itu, setiap kali salah seorang dancer menyebutkan nama, dengan kompak dan bersemangat mereka menirukan ucapan sang dancer.

Misalnya, ketika Kali berucap, "Hai, I'm Kali," dengan spontan mereka menirukan ucapan tersebut. "Hai, I'm Kali," kata mereka kencang-kencang. Demikian seterusnya hingga enam penari selesai memperkenalkan diri. Hal tersebut tentu saja membuat gelak tawa kembali membahana.

Melihat ulah para siswa itu, sang kepala sekolah yang kebetulan punya dasar sebagai guru Bahasa Inggris, Subandi SPd, berusaha membenarkan. "Maksud mereka itu memperkenalkan diri. Jangan ditirukan," tutur Subandi. Mendengar penjelasan sang kepala sekolah, anak-anak tersebut tersipu malu.

Setelah tawa di ruang tersebut agak reda, para dancer menyatakan bahwa hari itu mereka datang untuk mengajarkan sebuah nyanyian kepada para pelajar SDN Wonorejo V. Judul lagu itu adalah Itsy Bitsy Spider, berkisah tentang petualangan seekor laba-laba yang memanjat talang saat turun hujan.

Itu adalah lagu anak-anak yang populer di Inggris dan negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Termasuk, Amerika Serikat, negara asal Denver Nuggets Dancers. Cara menyanyikannya diikuti gerakan tangan dan mimik untuk menggambarkan lirik yang dinyanyikan.

"The itsy bitsy spider climbed up the water spout. Down came the rain and wash the spider out. Out came the sun and dried up the rain. And the itsy bitsy spider climbed up the spout again," demikian nyanyian para dancer ketika mengajari para siswa kelas II.

Kala mengajarkan nyanyian itu, para dancer juga memberikan contoh gerakan yang menggambarkan isi lirik dengan tangan mereka. Misalnya, gerakan laba-laba merayap, hujan turun, serta matahari bersinar. Pelajaran itu dengan cepat ditangkap para siswa. Mereka langsung bisa menirukan apa yang diajarkan oleh para dancer. "Great. Hebat sekali," kata Nicole sambil bertepuk tangan dan tertawa.

Sesudah mengajarkan nyanyian, para dancer itu berfoto bersama para pelajar. Mereka juga menyerahkan kenang-kenangan dari NBA dan Honda kepada sang kepala sekolah, Subandi. Mereka juga memberikan white board yang disiapkan oleh PT MPM Motor Honda, salah satu partner NBA Madness.

Kunjungan dan segala yang diberikan oleh NBA Cares tentu saja membuat sekolah tersebut merasa sangat bangga. "Saya sangat senang. Suatu kebanggaan bagi kami dikunjungi para dancer dari NBA," terang dia.

Atas kunjungan itu, Subandi merasa sekolahnya diperhatikan oleh orang-orang dari luar negeri. Terlebih, sekolah yang dipimpinnya sejak Januari 2010 tersebut tidak termasuk sekolah dengan kondisi bangunan yang bagus. Kuda-kuda atap kelas III dan V sekolah itu hampir roboh sehingga harus disangga dengan bambu.

Ruang itu awalnya juga ingin ditunjukkan kepada para dancer. Akan tetapi, karena takut membahayakan keselamatan mereka jika ada eternit yang jatuh, rencana tersebut dibatalkan. "Tapi, saya harap, setelah ini perhatian pemerintah sedikit tertuju ke sini. Semoga bangunan sekolah kami bisa segera diperbaiki," ucap Subandi.

Kunjungan para dancer itu tentu saja sangat berkesan bagi pelajar SDN Wonorejo V. "Senang, bisa ketemu langsung. Orangnya cantik, baik, dan ramah. Saya pengin bisa seperti mereka," kata Eva Febiana Dani, siswa kelas IV SDN Wonorejo V.

Bagi para dancer, kunjungan tersebut juga sangat berkesan. "Itu memori yang tidak akan pernah hilang sampai kapan pun," ujar Nikki. Hal tersebut dibenarkan oleh Devyn. "Anak-anak di sekolah itu sangat luar biasa. Mereka belajar dengan cepat apa yang kami ajarkan," terang dancer yang saat ini masih berstatus mahasiswi tersebut.

Setelah NBA Cares, para dancer kembali ke venue NBA Madness di atrium TP 3. Mereka tampil untuk menghibur penonton dan menjadi juri di babak Top Ten Flexi Dance Competition. Merekalah yang menentukan lima tim yang melaju ke final kompetisi tersebut hari ini.

Sorenya, Denver Nuggets Dancers berkunjung ke ruang redaksi Jawa Pos di Graha Pena lantai 4, Surabaya. Di sana mereka menandatangani poster bergambar pose mereka saat di berada Monumen Tugu Pahlawan serta halaman depan Jawa Pos.

"Jawa Pos memiliki lebih dari seratus anak perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Ketika berita Anda dimuat di Jawa Pos, otomatis itu akan tersebar ke seluruh Indonesia pula," jelas Azrul. Pada dancer bangga mendengar penjelasan itu. "Wow!" ucap mereka.

Hari keempat NBA Madness presented by Jawa Pos hari ini bakal menjadi salah satu yang terheboh. Sebab, hari ini dilombakan final Flexi Dance Competition. Bagi yang belum menyaksikan aksi Denver Nuggets Dancers, hari ini adalah kesempatan terakhir.

Karena penampilan terakhir, tentu saja Denver Nuggets Dancers bakal menyuguhkan aksi terbaik. Aksi mereka akan dimeriahkan oleh dua dancer pilihan yang mereka seleksi dari peserta Flexi Dance Competition. Selain itu, mereka bakal menjadi host NBA Dance Clinic bersama lima finalis Flexi Dance Competition. (rum/c11/ang)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 18.06.2010,
        13:08
        RATNA WILIS
        bagus juga tu