Kamis, 23 Oktober 2014 | 20:06:28
Home / Berita Daerah / Aceh / Polres Aceh Besar Temukan Bangkai Pesawat Malaysia

Jumat, 06 Agustus 2010 , 09:54:00

BERITA TERKAIT

BANDA ACEH - Sebuah bangkai pesawat yang diduga adalah SC-7 Skyvan Malaysia (Pan Malaysia Air Transport) yang dikabarkan hilang di Gunung Seulawah, Aceh Besar, 30 Januari 1993 lalu, dikabarkan ditemukan oleh pihak kepolisian di Aceh. Terkait hal itu, saat ini 15 personil kepolisian dari Polres Aceh Besar, dilaporkan telah diturunkan untuk menelusuri keberadaan bangkai pesawat tersebut.

"Tim sudah diturunkan, dan titik koordinatnya sudah diketahui. Namun, hari ini tim masih melakukan perjalanan untuk pencarian ke titik itu," kata Kapolres Aceh Besar, Kombes Pol Agus S, kepada Rakyat Aceh (grup JPNN), ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis (5/8).

Ketika dikonfirmasi soal kapan pertama kali bangkai pesawat itu ditemukan, Kapolres tidak menyebutkan kapannya. Namun, sumber wartawan mengungkapkan bahwa bangkai pesawat ditemukan ketika anggota kepolisian melakukan penelusuran memburu jejak-jejak teroris yang melarikan diri dari Desa Jalin, Aceh Besar, tempat latihan militer para teroris itu dulu.

Diakui Kapolres, perjalanan menuju titik koordinat seperti diperkirakan sebagai posisi bangkai pesawat itu, yang teronggok di lereng atau kaki Gunung Seulawah, memakan waktu dua hari dua malam. Bahkan katanya pula, bisa jadi lebih dari dua hari.

Menurutnya pula, kalau benar itu bangkai pesawat SC-7 Skyvan Malaysia, berarti hilangnya adalah setelah kapal itu lepas landas dari Bandara Polonia, Medan, menuju Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) di Blangbintang, Aceh Besar. Makanya, pihaknya kini turun ke lokasi, untuk memastikan apakah benar bangkai pesawat itu merupakan bangkai pesawat milik Malaysia.

Adapun kronologis jatuhnya pesawat SC-7 Skyvan Malaysia (Pan Malaysia Air Transport) itu disebutkan, yaitu sekitar pukul 10.00 pagi (saat itu), pesawat tiba dari Singapura. Lalu, pukul 11.30 waktu Singapura, pesawat lepas landas menuju Banda Aceh, dan pukul 12.00 pihak bandara terputus kontak dengan pesawat (berdasarkan sumber Berita Harian terbitan Malaysia, 5 Agustus 2010, Red).

Masih berdasarkan sumber koran, dari data manifesnya diketahui bahwa ada 16 orang yang menaiki pesawat jenis SC-7 Skyvan itu. Dari jumlah tersebut, lima orang merupakan kru pesawat, 3 berasal dari Malaysia dan pilotnya adalah warga Myanmar. Selebihnya, ada 10 penumpang dari Singapura serta seorang lagi berkebangsaan India.

Adapun lima orang kru pesawat termasuk tiga warga Malaysia, tercatat adalah Pengarah Urusan PMAT, Piaruddin Fathodin (48), co-pilot Achuthan Ramadas (27) dan juru teknik Augustine Joseph. Selain itu, ke-10 warga Singapura masing-masing yaitu bernama Mansur Usman, Kaharudin Salamat, Zuraini Syakdan, Saharudin Jaldi, Samsul Bahri, Janri Isa, Lee Mon Thong, Palamisami, Abu Nasir dan Lim Pun Wan, plus Prem Kumar yang warga India.

Seperti diberitakan pula, pesawat tersebut saat itu disewa oleh perusahaan Esso Singapura. Di mana pesawat berencana menuju ke Kepulauan Nicobar, untuk memeriksa kapal tanker Denmark, Maersk Navigator, yang bertabrakan dengan kapal lain di Selat Melaka, 21 Januari 1993. (ian/ito/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar