Senin, 21 April 2014 | 22:31:49
Home / Nasional / Dua Teroris Digerebek di Bandung

Minggu, 08 Agustus 2010 , 05:36:00

Suasana penggerebakan tersangka teroris di Kampung Sukaluyu, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Bandung, Sabtu (7/8).

Foto : Radar Bandung/JPNN
Suasana penggerebakan tersangka teroris di Kampung Sukaluyu, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Bandung, Sabtu (7/8). Foto : Radar Bandung/JPNN
RELATED NEWS

BANDUNG – Tim Densus 88 menangkap dua orang yang diduga teroris dalam penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Kampung Sukaluyu, nomor 49 D, RT 02/RW 12, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Sabtu (7/8) sekitar pukul 11.00 WIB. Dalam penggerebekan yang berlangsung singkat itu, tidak sampai terjadi baku tembak.

seperti dikutip dari Radar Bandung (grup JPNN), selain mengamankan dua orang diduga teroris, Tj dan Hz, polisi juga membuat police line sekitar rumah yang diduga sebagai tempat meracik bom. Pasalnya, dari keterangan warga sekitar, rumah itu dijadikan pabrik dan terdapat bahan kimia cair di drum yang disimpan dalam gudang.

Kapolda Jawa Barat  Irjen Pol Sutarman kepada wartawan mengatakan, dua tersangka yang ditangkap berinisial Tj dan Hz. Ketika ditanya wartawan dari jaringan mana tersangka berasal, Kapolda mengatakan, dua pria yang ditangkap masih dari jaringan teroris yg selama ini beroperasi di Indonesia. "Penerus dari dr. Azhari dan Noordin M Top," jawabnya singkat.

Sementara itu salah seorang saksi mata, Kustiati Haryani, 41, mengakui jika rumah tersebut dikontrak pria yang mengaku bernama Hilmi. "Rumah tersebut punya kakak saya, Tri Susilo Wati (42). Pada awal tahun 2010, Hilmi datang bersama seorang wanita menanyakan kontrakan. Setelah sepakat soal harga kontrak Rp 3 juta setahun, Hilmi langsung membawa barang-barangnya pakai mobil," katanya.

Kustiati mengatakan, penggerebekan dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB. "Tiba-tiba ada suara ribut-ribut disertai teriakan. Tapi saya tidak dengar suara tembakan. Pas saya tengok, semua polisi sudah ngepung rumah, terus yang ada di rumah disuruh keluar, " paparnya.

Diceritakan, sampai saat ini Hilmi telah tinggal selama 6 bulan. "Ngakunya dia bujang. Dia bilang kalau rumah itu mau dijadikan pabrik, dia nunjukkin ada bahan-bahan untuk buat gantungan kunci, ada bahan kimia cair di drum sama tepung seperti terigu, semuanya disimpan di gudang," ceritanya.

Namun Kustianti mengaku sedikit aneh. Pasalnya rumah kontrakan Hilmi selalu tertutup rapat. "Kaca ditutup pakai koran, dan nggak pernah terdenger suara ribut-ribut. Padahal kan dia bilang pabrik,” ungkapnya.

Warga lainnya, Iis Komariah, 29, menyatakan, sehari-hari  Hilmi termasuk orang yang ramah. "Orangnya kelihatan alim. Pakai kacamata, dan suka menyapa. Tapi kalau ngomong, nggak panjang lebar," ujar Iis yang rumahnya bersebelahan dengan rumah tersangka.

Iis mengatakan, pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB, para tersangka minta tolong kepadanya untuk minta memperbaiki pompa air. Karena Iis tidak bisa memperbaiki, maka dipanggillah Bambang, 37, masih warga sekitar.

Bambang yang saat wawancara berada di sekitar lokasi mengiyakan hal itu. "Ya, pagi sekali ada anak kecil ngasih tahu saya untuk memperbaiki pompa. Saya malah sempat belanja pipa sama Fahri buat keperluan perbaikan pompa. Setelah satu jam, memperbaiki pompa, saya mandi. Kurang lebih 30 menit kemudian, terjadi penggerebekan. Saya ikut disuruh keluar sama polisi, padahal saya masih telanjang dada. Mungkin polisi nyuruh keluar supaya terhindar dari penembakan," paparnya.

Sehari-hari, cerita Bambang, Fahri dan Hilmi terlihat sebagai orang baik-baik. "Mereka bicara seperlunya. Fahri pernah izin ke Palembang selama dua minggu, baru kemarin pagi pulang," tambahnya.

Bambang juga mengaku merasa sedikit aneh dengan sikap para tersangka. "Di rumahnya nggak ada lemari, nggak ada kasur, yang ada cuma ada bahan-bahan bikin gantungan kunci, karung berisi kaya tepung, jerigen dan drum yang katanya bahan cair. Paling-paling ada piring, gelas dan sendok yang seadanya," jelasnya.

Dari pengamatan di lapanan hingga tadi malam belum ada barang yang dievakuasi di dalam rumah tersangka. (Dhi/JPNN)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar