Foto : Collegecandy
RESESI ekonomi dunia sejak 2008 lalu banyak memukul sektor industri. Namun seiring resesi yang tak kunjung pulih, justru ada industri yang mengalami booming, yaitu industri seks.
Harian
The Scottish Sun di Skotlandia membuat sebuah laporan tentang booming industri seks di saat krisis akhir-akhir ini. Miliaran pondsterling berputar di bisnis esek-esek. Tahun lalu saja, kaum adam di Skotlandia menghabiskan £4,2 miliar untuk urusan esek-esek. Bisa dibayangkan betapa besarnya uang itu jika dirupiahkan. Angka itu bahkan meningkat 8 persen dibanding tahun 2008.
Di Skotlandia, akibat krisis sebanyak 202 ribu orang harus bersaing untuk memperebutkan lowongan pekerjaan yang diiklankan di media. Akibat krisis pula, semakin banyak kaum pekerja perempuan yang membolos dari tempat kerja guna mendapat penghasilan tambahan untuk membayar beragam tagihan.
Mereka bersikeras mengumpulkan uang, dan terjun menjadi bagian bisnis esek-esek itu adalah cara untuk melewati masa-masa sulit akibat resesi. Sampai-sampai, di Sekotlandia muncul sebutan Sexcession.
Sebut saja Kylie, wanita cantik berusia 20 tahun asal Aberdeen. Kylie terjun menjadi lady escort di Skotlandia ketika resesi mulai mendera. Sebelumnya, Kylie bekerja sebagai perawat di Amerika Serikat.
Ia tak berfikir apapun lagi tentang pakaian sexy, mengenakan stocking dan sepatu hak tinggi demi membayar tagihan bulanan. Jika mendapat harga yang cocok, Kylie bahkan bersedia mengenakan seragam perawat 'nakal', atau menenteng sebuah cambuk untuk mengesankan sebagai perempuan yang dominan
"Ini terlihat glamor. Aku pun berfikir mengapa tak mencobanya" Seperti pekerjaan biasa, cuma anda mesti menanggalkan pakaian," ucap perempuan yang mengaku terjun ke dunia 'remang-remang' sejak usia 18 tahun.
Dengan profesi barunya itu penghasilan Kylie memang melonjak. Jika lagi apes, Kyle cuma mengantongi £300. "Tetapi jika sedang bagus, seminggu bisa mengantongi £3,000," bebernya
Meski demikian, Kylie tetap punya cita-cita untuk bisa lepas dari bisnis esek-esek itu. "Aku dan temanku akan membuka sebuah nightclub ketika resesi berakhir," harapnya.
Demikian pula dengan Claire Drummond, perempuan asal Glasgow berusia 21 tahun. Sebagai perawat di sebuah klinik gigi, dirinya tak sanggup membayar banyak tagihan bulanan. Ia pun memutuskan untuk menjadi penari erotis.
Cita-citanya, ingin punya klinik gigi sendiri. Namun Claire sadar bahwa dirinya tak akan mendapat pinjaman dari bank untuk mewujdkan cita-citanya. Ia pun memutuskan pindah dari Glasgow ke Aberdeen dan menjadi penari si sebuah klub eksklusif bernama Private Eyes.
Di jagad remang-remang itu, Claire menggunakan nama Kandi. Dari aksinya menari di meja bar, ia bisa mengumpulkan £1,500 dalam seminggu, atau enam kali lebih besar dari gaji bulanannya sebagai perawat.
Meski berpenghasilan tinggi, Claire tak mau terjebak dalam gaya hidup mewah dengan menghabiskan uangnya untuk membeli tas, sepatu ataupun pakaian rancangan designer kondang."Ini akan mengantarkanku menjadi yang aku inginkan dalam hidup dan aku akan punya masa depan yang lebih baik dengan melakukan ini," ujarnya.
Dengan modal uang panas yang diperolehnya, Claire ingin meneruskan studinya dan menjadi ahli gigi sekaligus membuka klinik gigi sendiri. "Aku melakukan ini hanya untuk uang," tandasnya.
Namun claire menolak jika disebut pelacur. "Saya seorang penari, bukan pelacur menyebalkan," belanya. Meski demikian ia mengaku tak peduli dengan stereotip orang-orang terhadapnya.
Sementara seorang perempuan berusia 33 tahun Glasgow lainnya, Roni Napier, melakukan hal berbeda meski tetap saja menyerempet bisnis esek-esek. Tahun lalu, ketika ada yang menawarinya berposes telanjang, Roni hanya menimpalinya dengan senyum.
Namun resesi telah mengubahnya. Roni tak berpikir lagi tentang pose-poses seksi tanpa bra dan hanya mengenakan celana yang provokatif. Roni yang menggunakan nama Carmen untuk pose seksinya, memilih menjadi model waktu luang. "Aku mengenakan pakaian yang jauh lebih minim di pantai," ujarnya.
Perempuan cantik berambut kecoklatan itu pun tak merasa canggung jika rekan-rekan kerjanya tahu tentang pose panasnya. "Tak ada masalah dengan pekerjaan karena itu," ujarnya. "Mereka baik-baik saja dan apa yang mau aku lakukan teserah diriku. Jujur saja, saya tak peduli apa yang dipikirkan orang-orang yang tak aku kenal di tempat kerjaku," tandasnya.
Sejak terjun menjadi model panas pada Agustus tahun lalu, Roni setidaknya mendapat job sekali dalam sebulan. Ia mengantongi £30 per jam, yang sering digukakan untuk mendekorasi rumahnya. Pekerjaan tambahan itu juga menambah penghasilan dari kantornya yang hanya £300 per minggu.
(ara/jpnn)