Minggu, 21 September 2014 | 17:06:37
Home / Berita Daerah / Sumbar / 6 Jam Tertimbun Lumpur, Bocah 2 Tahun Selamat

Jumat, 27 Juli 2012 , 13:42:00

BERITA TERKAIT

PADANG--Bocah berumur dua tahun itu bernama Yura. Anak petani miskin Limaumanih yang akhirnya menjadi buah bibir di pengungsian korban galodo. Dia berhasil selamat meski enam jam dilamun lumpur. Tuhan seakan menunjukkan kuasanya lewat bocah yang lahir sunsang tersebut.

Yura ditemukan pukul 00.30 WIB, dalam kondisi tak sadarkan diri oleh tim Search and Rescue (SAR) di tumpukan kayu, sudut rumahnya yang sudah tak berbentuk dihondoh gelodo. Separoh badan anak bungsu pasangan Yadi (40) dan Nur tersebut tertimbun lumpur. Awalnya, tim SAR menyangka, dia sudah tiada.

Namun tuhan berkehendak lain, sewaktu diangkat, Yura terbatuk. Dari mulutnya keluar air dan langsung dilarikan ke Puskesmas Pauh untuk diobati. “Anak saya selamat. Dia sempat terlepas dari pegangan. Saya kira, sudah terseret jauh, namun ternyata hanya ke pojok rumah. Ini suatu keajaiban. Kami terkurung galodo hampir enam jam,” ungkap Yadi.

Ditemui di pengungsian, Yura tidak mau lepas dari pangkuan ayahnya yang terlihat pucat karena kurang tidur. “Dia agak demam. Sejak pagi tidak mau lepas dari pangkuan,” ungkap Yadi, sembari menepuk-nepuk lembut punggung anaknya.

Yadi sebentar tertegun ketika diminta untuk menceritakan lagi, pengalaman pahit yang dialaminya. Dia mengangguk, memandang kosong sesaat dan mulai bercerita. “Saya menyebut itu sebagai pertempuran dengan maut,” ucap Yadi memulai cerita.

Diceritakan Yadi, Yura sempat lepas dari genggamannya, kala air bah menghantam rumah.  “Saya sudah angkat tangan. Yura terlepas dari genggaman, kala air bah menerjang. Masih terngiang tangisnya. Dia tak berbaju, karena baru saja dimandikan ibunya. Saya kira, dia tidak selamat. Ternyata salah, anak saya masih hidup,” tutur Yadi. Dia memeluk anaknya, seakan enggan terpisah lagi.

Kisah yang dialami keluarga kecil Yadi memang dramatis. Rumah kayunya terletak persis di belakang Masjid Raya Limaumanih, atau berjarak sekitar 300 meter dari Batang Gunuang Nago, hanya menyisakan tiang. Dindingnya entah kemana dihempaskan air.

“Kami baru siap berbuka. Saya merokok di pojok, memandang hujan dari balik jendela. Sayup-sayup, suara gemuruh terdengar semakin keras. Hanya hitungan detik, air menghambur ke dalam rumah. Kami terperangkap. Saya berteriak, memagut istri dan anak-anak. Kalut. Kala itu, saya hanya bisa berserah diri kepada Allah. Berharap anak-sanak selamat. Hanya mereka yang terpikir,” ungkap Yadi.

Yadi terombang-ambing. Badannya perih dihantam material yang dibawa air. Namun, pertahanannya tidak jebol. Ada dua anak dan seorang istri yang mesti dilindunginya. Berjam-jam sudah bertahan, tak ada pertolongan. Rumah yang awalnya berjarak 300 meter dari sungai, kini malah berada di tengah derasnya air.

Dalam kondisi kalut, konsentrasi lelaki kurus itu terpecah, antara memegangi istri, memangku Yura, anaknya yang paling kecil atau mempertahankan keseimbangannya. “Sudah sekitar tiga jam bertahan. Dinding rumah sudah pada tanggal. Air meninggi, sampai ke dagu. Istri megap-megap. Yura saya tinggikan. Di atas kepala. Awalnya aman. Tapi, saat rumah dihantam kayu gelondongan, dia terlepas. Tercebur ke air,” ungkap Yadi. Dia seperti menangis menceritakan lagi kisah dramatis yang dialaminya.

Menyadari anaknya terlepas, Yadi belingsatan. Dia berteriak tak karuan. Meraung seperti orang sakit. “Ya Allah, ya Allah, anak saya. Selamatkan dia. Selamatkan. Itu yang terucap. Saya di antara dua pilihan. Mencebur mencari Yura, berarti melepaskan pegangan istri dan satu anak yang paling tua. Hanya bisa berdoa dan berharap Yura selamat. Saya masih sempat melihat tangannya. Waktu itu, saya anggap Yura sudah tiada,” ungkap Yadi.

Masuk enam jam, Yadi dan Nur mulai kehabisan tenaga. Bertiga beranak, mereka hanya memeluk tonggak. “Harapan sudah habis. Air mata tak berhenti mengalir. Saya sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Setidaknya saya berpikir, kalau mati, kan bersama keluarga,” ungkap Yadi.

Saat harapannya sudah habis, sayup-sayup dia mendengar suara orang-orang berteriak. “Saya mendengar ada suara. Berkali-kali berteriak, menanyakan apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Saya mengumpulkan tenaga untuk membalas teriakannya,” ungkap Yadi.

Ternyata yang berteriak adalah tim SAR yang memang akan mengevakuasi korban. Teriakkan Yadi sampai ketepian dan didengar. “Lalu, saya melihat tim SAR itu melemparkan tali. Ada tujuh kali lemparan, baru saya bisa memegangi tali dan mengikatkannya pada tonggak. Lalu, tim SAR turun menjemput kami. Saya mendahulukan anak istri,” sebut Yadi.

Ketika tim SAR menjemputnya, Yadi berbisik kalau anaknya masih berada di dalam rumah, belum dikeluarkan. “Saya berharap mereka mencari Yura dan menemukannya selamat. Ternyata mereka mau mencari,” ujar pria yang memang asli Limaumanih.

Setelah berhasil mengevakuasi Yadi ke pinggir, tim SAR kembali ke rumahnya. Ada sekitar 15 menit melakukan pencarian, salah seorang tim SAR yang turun menemukan tubuh Yura yang sudah lemas. “Saat melihat dia dipangkuan orang lain, saya berusaha menggapainya, tapi tidak boleh. Saya kira Yura sudah tiada. Tangis tidak putus-putus. Lagi-lagi anggapan saya salah, ternyata Yura dibawa ke Puskesmas,” lanjut Yadi.

Selain Yura, istri dan mertuanya juga dilarikan ke Puskesmas. Sedangkan Yadi, hanya diobati di posko sementara. Paginya, barulah dia bertemu kembali dengan Yura. “Semangat saya kembali datang. Seluruh keluarga selamat. Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya. Kami dipertemukan kembali,” Yadi mulai menerawang, berusaha menahan tangis.

Meski sudah berkumpul, Yadi belum sepenuhnya bahagia. Dia masih risau menyongsong hari depan. Rumahnya sudah hancur, pakaiannya hanyut. Tak ada yang tersisa. Untuk saat ini, dia masih bertahan di pengungsian. “Lebaran sudah dekat, tapi kami entah akan tinggal dimana. Semuanya sudah lebur,” tutur Yadi.

Meski rumahnya hancur, Yadi ternyata masih punya semangat. Tekadnya kuat untuk kembali menata hidup. Mencari lahan baru untuk mendirikan rumah. Harapannya tidak mati. “Saya kepala keluarga, punya tanggungan yang mesti dihidupi. Tak guna bermenung, bersedih dan berpangku tangan. Saya harus bertahan demi mereka, anak-anak yang masih memiliki jalan panjang untuk masa depan,” ucap Yadi tegas. Semangatnya tiba. Betapa jelas, keluarga menjadi pemicu untuknya bertahan hidup. (**)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 28.07.2012,
        04:34
        Yati
        Subhanallah, Engkau benar2 menunjukkan kebesaranMU, berilah kekuatan, kesabaran dan ketabahan kepada semua orang yang tertimpa musibah banjir di Padang.....
      2. 27.07.2012,
        15:08
        KAMARIAH
        SEMOGA PAK YADI DAN KELUARGA DIBERI KESABARAN DAN KETABAHAN DLM MENGHADAPI MUSIBAH INI.