Senin, 31 Agustus 2015 | 20:18:03

Rabu, 01 Agustus 2012 , 17:21:00

Mendikbud M Nuh saat sidak pelaksanaan UKG di hari pertama di Jakarta. Foto: Arundono/JPNN
Mendikbud M Nuh saat sidak pelaksanaan UKG di hari pertama di Jakarta. Foto: Arundono/JPNN
JAKARTA--Uji Kompetensi Guru (UKG) yang digelar setiap hari sejak 30 Juli hingga 12 Agustus 2012 dirasakan para guru malah merugikan para peserta didiknya. Pasalnya, para guru yang mengikuti UKG harus meninggalkan sekolah.

Sekretaris Jenderal Federasi Guru Seluruh Indonesia (Sekjen FGSI) Retno Listyarti mengatakan, untuk guru yang berada di kota besar mungkin bisa lebih mudah menuju lokasi UKG yang dapat ditempuh dalam waktu satu jam. Akan tetapi, guru yang berada di daerah dan kampung-kampung harus ke pusat kabupaten/kota, mesti menginap 2 - 3 hari dan mengeluarkan biaya transport yang cukup mahal dengan biaya pribadi.

"Inilah yang merugikan para guru dan peserta didik. Ada pihak lain yang kebagian untung, tapi guru terus buntung," ungkap Retno di Jakarta, Rabu (1/8).

Dikatakan, pelaksanaan UKG dengan sistem online ini telah merugikan banyak pihak. Dari sisi guru, lanjut Retno, secara pribadi telah mempengaruhi psikologis dan ekonomi.

Selain itu, banyak siswa yang tidak bisa belajar di sekolah karena sekolah terpaksa meliburkan siswanya mengingat banyaknya guru yang harus mengikuti UKG.

"Sebut saja SMAN 70 Jakarta, SMAN 55 Jakarta, SMAN 6 Garus, beberapa SMP di Tangerang, dan lainnya," seru Retno.

Maka itu, terang Retno, kerugian guru dan siswa makin menumpuk jika UKG harus diulang karena gagalnya koneksi internet. "Untuk guru yang dijadwal ulang dan sekolahnya diliburkan, maka akan terjadi kerugian dua kali. Itulah, UKG online dilaksankan terlalu terburu-buru, tanpa perencanaan yang matang dan tak mau mendengar masukan pihak lain. Akhirnya seperti ini," tuturnya. (Cha/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar