Sabtu, 31 Juli 2010  
   
POLITIK - PARPOL
Kamis, 28 Mei 2009 , 19:31:00

JAKARTA - Seruan kepada istri SBY-Boediono untuk menggunakan jilbab oleh elit PKS, Zulkieflimansyah, tidak diterima baik oleh elit PKS lainnya. Walhasil, Zulkieflimansyah yang akrab disapa Zul, mendapat teguran dari DPP PKS.

Adanya teguran ini diakui Presiden DPP PKS Tifatul Sembiring, di Jakarta, Kamis (28/5). "Lontaran Zul hanya pernyataan pribadi. Bukan officially. (Zul) sudah kita peringatkan. Ternyata dia baca survei LRI (Lembaga Riset Informasi)," ujar Tifatul.

Sebelumnya, Zul meminta Kristiani Herawanti Yudhoyono dan Herawati Boediono memakai jilbab, untuk mendulang simpati dari pemilih Islam pada pilpres 8 Juli mendatang. Saran Zul ini mengacu kepada hasil survei yang menyebutkan bahwa sebagian besar simpatisan dan kader PKS ternyata memberikan hatinya kepada JK-Wiranto. Alasannya, kedua calon pemimpin inilah yang paling dekat dengan warna keislaman yang dianut kader dan simpatisan PKS, lantaran kedua istrinya muslimah taat (berjilbab).

Tak terbantahkan, isu jilbab atau pakaian bercorak Islam ini menjadi hal sensitif di kalangan elit, kader dan simpatisan PKS. Pasalnya, sebagai partai dakwah, hampir 100 persen wanita yang menjadi anggota dan simpatisan PKS memakai jilbab. Makanya, eksistensi istri JK-Wiranto pun dipastikan bisa menjadi pemicu pecahnya dukungan PKS di grass root.

Namun, Tifatul Sembiring menegaskan bahwa PKS masih tetap solid dan tak tergoyahkan karena pernyataan Zul. Zulkieflimansyah disebut bukan sebagai acuan utama dalam pengambilan kebijakan partai. Suara resmi partai adalah suara dari pimpinan partai (DPP dan Majelis Syuro).

"Tidak ada yang pecah. Di PKS itu, tidak bisa orang luar yang tak jelas memberi komando. Tidak akan dituruti (oleh kader di tingkat bawah)," tegas Tifatul.

Namun lebih lanjut, Tifatul Sembiring juga menolak jika peringatan terhadap Zul ini dikategorikan teguran keras. "Kita tidak bisa keras-kerasan begitu. PKS tidak seperti itu. Kita egaliter. Perbedaan pendapat itu sudah biasa," tambahnya.

Sementara itu, pengamat politik Islam dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Dr Bachtiar Effendy, Kamis (28/5) menyatakan, PKS kembali memutar lagu lamanya terkait isu jilbab ini. Suara kritis dan berbeda dipangkas dengan teguran oleh DPP PKS. Padahal katanya, ini justru bisa merugikan citra partai.

"Ah, kemarin yang diperingatkan Fachri Hamzah, lalu Anis Matta. Ini lagu lama. Orang sudah tahu kalau ini taktik PKS. Yang penting nama PKS terus bergulir," kata Bachtiar.

Sebenarnya, kata Bachtiar, Zul tidak salah dalam konteks mengingatkan capres Susilo Bambang Yudhoyono dan partai-partai yang mengusungnya, andai saja saran tersebut tidak disampaikan ke publik. Menurutnya, polemik di internal PKS soal usul jilbab ini sebenarnya memancing kecurigaan publik. Apalagi sebelumnya dibarengi dengan pernyataan PKS tak bisa menjamin warganya untuk memilih SBY.

Bachtiar pun mengingatkan PKS untuk tidak banyak menggunakan pola ini. Pasalnya, semakin PKS memainkan kartu dan manuver seperti saat ini, maka semakin orang tak percaya. (ysd/JPNN)

RELATED NEWS


Komentar (0)

Nama :
Email :
Komentar :

 
  TOP STORY
Dani Pedrosa Chris John
Nilai Saya Hanya Enam Bersiap Gantung Sarung Tinju