Petani Karet Alih Profesi jadi Pemikat Burung

Petani Karet Alih Profesi jadi Pemikat Burung
Petani Karet Alih Profesi jadi Pemikat Burung

jpnn.com - PASAMAN  - Petani karet di beberapa kabupaten di Sumbar semakin menjerit. Pasalnya, harga karet terus anjlok dan tak pernah kembali ke harga normal. Akibatnya, banyak penyadap dan petani karet alih profesi ke usaha lain.

Selain dapur yang tidak mengepul dengan stabil, anjloknya harga karet juga menyebabkan banyaknya pasar di beberapa daerah sepi dan minim transaksi, dan banyaknya petani karet yang alih profesi.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Pasaman, harga karet di kabupaten tersebut anjlok dari biasanya Rp 12 ribu per kilogram menjadi Rp 6 ribu per kilogram.

Di Kecamatan Mapattungul, saat ini masyarakat terutama bapak-bapak banyak yang mencari sampingan dengan memikat burung.

Seperti yang dilakoni Darwin, 53. Warga Kububaru, Nagari Muaratais, Kecamatan Mapattungul, Pasaman ini mengatakan, anjloknya harga karet tersebut sudah terjadi semenjak sebulan terakhir.

"Saya tidak tahu kenapa. Cuma toke bilang, harga anjlok karena dunia politik di Indonesia yang sedang panas. Ya kita berdoa setelah pelantikan presiden segera terjadi kenaikan harga," ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Darwin ikut teman-temannya memikat burung ke dalam rimba. Kata dia, profesi ini ternyata cukup membantunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

"Burung saya jual ke toke. Harganya 10 kali lipat jauh lebih mahal dari harga karet sekarang ini," ujarnya.

PASAMAN  - Petani karet di beberapa kabupaten di Sumbar semakin menjerit. Pasalnya, harga karet terus anjlok dan tak pernah kembali ke harga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News