Pasar Kosmetik Lokal Dikuasai Produk Impor

Pasar Kosmetik Lokal Dikuasai Produk Impor
Ilustrasi. Foto: AFP

jpnn.com - SURABAYA – Industri kosmetik mampu bertumbuh sembilan persen pada semester pertama tahun ini. Padahal, kondisi perekonomian belum sepenuhnya pulih.

Angka tersebut meleset dari target yang diharapkan pada awal tahun, yakni 15 persen. Banyak hal yang membuat target itu meleset. Salah satunya ialah daya beli yang masih lemah.

Ketua Harian Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi (PPA) Kosmetika Indonesia Sofian Solihin menyatakan, efek lanjutan dari pelemahan perekonomian nasional menjadi salah satu penyebab target pertumbuhan industri kosmetik tak terealisasi.

’’Saat Lebaran, masyarakat lebih mengutamakan bahan pangan dan tekstil. Namun, persentase penurunan omzet industri kosmetik baru bisa dilihat sekitar akhir Juli ini,” kata Sofian kemarin (13/7).

Saat ini pelaku industri kosmetik domestik mengantisipasi pelemahan nilai tukar yuan. Bila Tiongkok masih melanjutkan pelemahan nilai tukar, hal itu diyakini berimbas pada penetrasi produk kosmetik impor.

’’Kalau yuan melemah, harga produk kosmetik Tiongkok akan semakin murah. Hal tersebut bisa menggempur ekonomi Indonesia, termasuk industri kosmetik,” jelasnya.

Saat ini produk kosmetik impor menguasai 60 persen pasar kosmetik Indonesia. Sisanya diperebutkan industri kosmetik lokal yang berdasar produk notifikasi. Kondisi itu dinilai berkaitan dengan sejumlah beleid yang tidak pro terhadap produsen kosmetik lokal.

Salah satunya adalah Permendag Nomor 22 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum Distribusi Barang. Aturan tersebut dinilai menambah beban rantai distribusi barang.

SURABAYA – Industri kosmetik mampu bertumbuh sembilan persen pada semester pertama tahun ini. Padahal, kondisi perekonomian belum sepenuhnya

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News