Gawat! Ternyata Pompong di Tanjungpinang Tidak Dilengkapi Life Jacket

Gawat! Ternyata Pompong di Tanjungpinang Tidak Dilengkapi Life Jacket
Korban tewas kapal karam Tanjungpinang-penyengat, Minggu (21/8/2016) pagi. Foto: Samsul Debi Sidik/FB/WB

jpnn.com - TANJUNGPINANG - Pemerintah Kota Tanjungpinang didorong agar secepatnya membuat sebuah kebijakan strategis untuk menghindari terjadinya kembali pompong tenggelam di Kepulauan Riau.

Ia juga berharap adanya peremajaan angkutan laut dari Tanjungpinang ke berbagai pulau di sana. Khususnya ke lokasi wisata religi, Penyengat.
 
“Setiap musibah tentu ada pelajaran bagi kita. Berkaca dari kejadian ini, mesti ada kebijakan strategis dari Pemko Tanjungpinang. Apakah itu melakukan peremajaan ataupun melakukan inovasi angkutan berbahan aluminium,” ujar Wakil Ketua I DPRD Kepri, Ade Angga, seperti diberitakan batampos (Jawa Pos Group) hari ini (22/8).

Menurut politikus Partai Golkar tersebut, hal lain yang menjadi sorotan pihaknya adalah tidak adanya asuransi selama pelayaran. Baik itu untuk nakhoda pompong maupun bagi penumpang. Selain itu tidak adanya life jacket. Padahal Standar Operasional (SOP) sudah jelas. Yakni angkutan laut yang terbuka harus menggunakan life jacket.

“Kejadian ini harus merubah kita menjadi lebih baik lagi. Saya harap Dishub Kota dan Dishub Provinsi Kepri dapat duduk bersama. Sehingga bisa sama-sama mencari solusi terbaik untuk transportasi Tanjungpinang ke Penyengat lebih baik lagi,” jelasnya.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Tanjungpinang, Wan Samsi mengatakan kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pihaknya. Pihaknya juga tidak mau menyalahkan pihak manapun, terkait musibah ini. Langkah yang akan dilakukan kedepan adalah terkait pengawasan.

“Jauh sebelum ini, kami juga sudah mendorong penambang pompong Penyengat mengantongi asuransi. Tetapi sampai saat ini, masih belum terealiasi,” ujar Wan Samsi.

Terkait kelayakan armada, Wan Samsi mengatakan masih layak. Terkait berinovasi dengan bahan almunium, tentu membutuhkan banyak anggaran. Apalagi jumlah penambangnya juga banyak. Menurutnya, tidak bisa dilakukan secara serentak. Meskipun demikian tentunya perlu kajian-kajian secara mendalam.

“Kami sedang memperjuangkan adanya docking pompong di Penyengat. Dan ini sudah diajukan ke Pemerintah Pusat. Sehingga ketika melakukan perbaikan cukup di Penyengat. Untuk pompong berbahan kayu tentunya punya nilai tersendiri jika dibandingkan dengan almunium. Karena itu masih merupakan identiti transportasi kita,” jelasnya.

TANJUNGPINANG - Pemerintah Kota Tanjungpinang didorong agar secepatnya membuat sebuah kebijakan strategis untuk menghindari terjadinya kembali pompong

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News