Sabtu, 31 Juli 2010  
   
NASIONAL
Kamis, 22 Oktober 2009 , 06:54:00

Foto : M Iqbal/Satelit News/JPNN
JAKARTA - Jajaran anti narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN), berhasil meringkus dua warga negara asing. Kedua kurir tersebut adalah, Frank Amado, 35, warga negara Amerika Serikat dan Peyman bin Azizallah alias Sorena, 40, warga Iran. Keduanya ditangkap di waktu yang hampir bersamaan dan di lokasi yang berbeda.

Menurut Wakil Bareskrim Mabes Polri, Irjend Dikdik Maulana, penangkapan ini berawal dari penyelidikan petugas Badan Narkotia Nasional. Dari hasil penyelidikan petugas berhasil meringkus Frank Amado warga Amerika Serikat dan Peyman Bin Azizallah alias Sorena di Apartement Park Royale, kamar 0331, yang terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto. Jakarta Pusat. "Pelaku ditangkap unit II Direktorat IV/TP Narkoba dan KT Bareskrim Mabes Polri, selasa sore sekitar pukul 15.30," ungkapnya.

Dari hasil penangkapan tersebut, petugas berhasi mengamankab barang bukti berupa 5.668 narkotika jenis shabu-shabu. Selain itu petugas juga mengamankan satu buah mesin timbangan elektronik. Kedua pelaku dikenakan tindak pidana psitropika, pasal 60 ayat (1)huruf (b) subsider pasal 62 jo pasal 71 undang-undang RI no 5, tahun 1997 tentang psikotropika. "Dengan ancaman di atas lima tahun," tegasnya.

Barang bukti yang disita, apabila diuangkan, lanjutnya, bernilai tidak kurang dari 9.5 milyar. Berdasarkan keterangan salah satu pelaku, barang haram tersebut sebagian besarnya sudah berhasil dijual. "Dalam melancarkan aksinya kedua pelaku selalu berpindah-pindah tempat. Dalam pemesanan barang haram ini, pelaku selalu tidak bertemu dengan pemesannya. Namun, transaksi dilakukan via telepon, kemudian barang pesanan tersbeut diletakkan di bawah televisi sebuah apartemen atau hotel," paparnya kepada sejumlah wartawan yang hadir di ruang aula BNN.

Dia mengatakan, kedua warga negara asing ini sudah lama menjadi intaian petugas BNN. Karena, dalam melakukan transaksinya kedua pelaku terbilang pandai dan cerdik. "Kedua pelaku sudah lama tinggal di Indonesia. Keduanya juga terbilang licin, karena menggunakan modus jaring terputus. Barang bukti yang berhasil disita, ditemukan petugas di bawah televisi di apartemen yang ditempati oleh kedua pelaku," akunya polos.

Menanggapi maraknya pengedar narkoba berwarga negara Iran, Irak dan Amerika, Dikdik mengatakan, menggunakan kurir dengan warga negara Iran dan Irak ini merupakan modus baru yang digunakan oleh jaringan narkotika internasional. "Sebelumnya mereka menggunakan jasa kurir yang berasal dari Afrika. Namun, karena sering ditangkap dan warga Afrika mudah dicurigai, sepertinya jaringan ini merubah modus dalam penyaluran barang haram ini," paparnya.

Untuk di Indonesia, lanjutnya, peredaran narkoba masuk ke Indonesia bisa menggunakan tiga jalur. Jalur laut dengan menggunakan kapal laut dari malysia menuju Medan dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan menggunakan jalur darat. Untuk jalur udara, biasanya pelaku langsung menggunakan pesawat terbang dari Bangkok menuju Malysia dan kemudian melanjutkan dengan menggunakan jalur laut masuk ke Indonesia. Sedangkan jalur Daratnya adalah dari medan menuju Jakarta.
"Luasnaya nusantara yang terdiri dari berbagai kepulauan ini, membuat aparat sedikit memperketat pengawasa. Namun, tetap saja kepolisian ada keterbatasan, sehingga membutuhkan peran serta lingkungan dan orang tua agar peredaran narkotika bisa dibongkar," katanya menjelaskan.

Dia menambahkan, kasus ini masih dalam penyelidikan petugas. Karena tidak menutup kemungkinan, jaringan ini lebih dari dua orang dalam melakukan peredaran narkotika di Indonesia. "Kasus ini masih dalam pengembangan," imbuhnya. (mos/JPNN)

RELATED NEWS


Komentar (0)

Nama :
Email :
Komentar :

 
  TOP STORY
Dani Pedrosa Chris John
Nilai Saya Hanya Enam Bersiap Gantung Sarung Tinju