World Press Freedom Day 2017

Apa yang Terjadi Bila Para Wartawan Sedunia Berunding?

Apa yang Terjadi Bila Para Wartawan Sedunia Berunding?
Presiden Jokowi berpidato di panggung World Press Freedom Day, di Balai Sidang Jakarta, Rabu, 3 Mei 2017. Foto: Wenri Wanhar/JPNN.com

jpnn.com - MENARIK lini masa perhelatan wartawan berkaliber dunia di Indonesia. Dari Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA) 1963 hingga World Press Freedom Day (WPFD) 2017.

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

Indonesia menjadi tuan rumah World Press Freedom Day 2017. Perhelatan yang dipusatkan di Balai Sidang Jakarta, berlangsung sejak 1 Mei lalu. Dan berakhir hari ini, Kamis, 4 Mei.

Bila tak ada aral melintang, sebagaimana disampaikan Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Arfi Bambani Amri kepada JPNN.com, di penghujung acara nanti akan dicetus-umumkan Jakarta Declaration.

Nah, apa yang disampaikan Sekjen AJI itu melambungkan ingatan pada peristiwa yang pernah terjadi di Jakarta 54 tahun lampau, 23 - 30 April 1963.

Kala itu, Jakarta menjadi tuan rumah Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA). Dihadiri utusan jurnalis dari 40 negara, acara tersebut digadang-gadang sebagai perhelatan wartawan terbesar yang pernah diadakan di Indonesia.

Sekadar catatan, World Press Freedom Day (WPFD) 2017 dihadiri delegasi jurnalis lebih dari 100 negara. Artinya, pecah telor!

Saat KWAA 1963, para seniman urunan karya. Membuat patung-patung raksasa. Spanduk-spanduk bertuliskan kata-kata bertenaga bertebaran di jalan-jalan. Artistik. Ibukota bersolek. Semarak. Apalagi, peserta konferensi menyertakan keseblasan negaranya.

MENARIK lini masa perhelatan wartawan berkaliber dunia di Indonesia. Dari Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA) 1963 hingga World Press Freedom

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News