Muhammad Nuh Setelah Tak Jadi Menteri

Dedikasikan Diri Kembangkan Kombinasi Ilmu Kedokteran dan Teknik

Muhammad Nuh Setelah Tak Jadi Menteri
Muhammad Nuh. Foto: Angger Bondan/Jawa Pos

Ayah Rachma Rizqina Mardhotillah tersebut menjelaskan bahwa secara sederhana, teknik biomedika adalah kombinasi ilmu kedokteran (life science) dan teknik (rekayasa). Ilmu teknik biomedika banyak berperan dalam ilmu kedokteran. Mulai mendesain hingga mengembangkan peralatan kesehatan. Misalnya, medical ultrasonic, pacemaker (alat pemacu detak jantung), CT scan, hingga MRI.

’’Kami yang mengembangkan alat diagnosis dan terapinya, dokter yang mendiagnosis dan memberikan dosis terapi untuk pasien,’’ papar penghobi wisata kuliner tersebut.

Nuh lantas menunjukkan satu per satu alat yang sudah dikembangkan di laboratoriumnya itu. Salah satunya robot tangan yang bisa digerakkan mengikuti gerakan tangan asli. Caranya, seseorang yang menjalankan robot tangan harus menggunakan sarung tangan yang sudah didesain khusus.

Dalam sarung tangan itu ada penghantar sinyal dari saraf yang dipancarkan tubuh. Sinyal elektrik tersebut diterima motor (mesin) dalam robot tangan hingga jari-jari robot mengikuti gerakan jari orang yang menjalankannya. Menurut Nuh, robot tangan itu bisa menangkap sinyal hingga radius 15 meter.

Ada juga portable wireless brain monitoring system yang lebih sering dikenal dengan elektroensefalogram (EEG). Yakni, berupa tutup kepala mirip helm dengan dilengkapi kabel-kabel yang ditempelkan untuk merekam aktivitas otak.

’’Ini memang EEG. Kami yang mengembangkan alat menyadari bahwa gambarnya menunjukkan anomali. Tapi, kami tetap tidak bisa mendiagnosis,’’ papar Nuh yang merupakan pengagum Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

Hari itu Nuh mengumpulkan para mahasiswa yang menciptakan berbagai peralatan biomedik. Misalnya, Nada Fitriatul Hikmah, mahasiswa S-2 Teknik Elektro ITS, yang menciptakan alat gabungan dari EEG (untuk merekam aktivitas elektrik dalam otak), elektrokardiografi (ECG untuk merekam aktivitas jantung), dan karotin (untuk mengukur tekanan nadi).

Menurut Nuh, di era serbapraktis sekarang, ide menciptakan alat seperti itu sangat bagus. ’’Nada kapan sidang? S-1 dulu di mana,’’ kata Nuh yang menyapa Nada.

Setelah tidak lagi menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan, Muhammad Nuh kembali ke kampusnya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tidak

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News