Pembantaian di Hari Terakhir Kerja, 12 Pegawai Negeri Tewas Bersimbah Darah

Pembantaian di Hari Terakhir Kerja, 12 Pegawai Negeri Tewas Bersimbah Darah
Kompleks pemerintahan Kota Virginia Beach yang jadi lokasi penembakan massal pada Jumat (31/5). Foto: AP

jpnn.com, VIRGINIA - Amerika Serikat (AS) belum imun terhadap penyalahgunaan senjata api dan serangan masal. Nyaris setiap tahun berulang. Belum ada obat yang cespleng untuk mengatasi hal tersebut.

Sore itu, Jumat (31/5) rasanya jadi titik nadir bagi pegawai pemerintah Kota Virginia Beach, Virginia, AS. Otak mereka sudah penat. Hati mereka sudah berada di pantai atau tempat nongkrong lainnya.

Seperti kata pengarang novel Lauren Oliver, "Jumat adalah hari yang paling susah dilewati, Anda sangat dekat dengan kebebasan." Libur musim panas pun baru dimulai.

"Ini adalah hari terakhir mereka bekerja. Tragedi apa yang lebih buruk?" ujar Gubernur Virginia Ralph Northam kepada Washington Post. Dia menyesali adanya tragedi penembakan di waktu bersenang-senang bagi warga pesisir AS.

Di kompleks pemerintahan itu, pegawai negeri yang tersebar di 30 gedung tersebut sedang menunggu waktu pulang. Termasuk pekerja di Building 2. Mereka masih harus menyediakan layanan pembayaran tagihan air dan izin gedung sampai jam layanan berakhir.

BACA JUGA: Polisi Selandia Baru Diselidiki terkait Pembantaian di Masjid Chirstchurch

Mereka tak tahu bahwa di jam lengang itu, DeWayne Craddock baru saja datang membawa pistol semiotomatis kaliber 5,56 mm dengan peredam suara. Saat teknisi departemen fasilitas umum tersebut membuka tembakan pertama pun, tak semua orang paham. David Benn, teknisi yang juga berada di gedung sama menyangka itu hanya suara pistol paku.

Edward Weeden justru lebih dulu mendengar suara seseorang yang terjatuh dari tangga. Saat melihat perempuan bersimbah darah, teman kerjanya naik untuk melihat keadaan. Tak sampai hitungan menit, dia lari menuruni tangga dan menggeret Weeden. "Dia bilang, 'Ayo keluar. Dia bawa senjata'," ucap dia menurut CNN.

Amerika Serikat (AS) belum imun terhadap penyalahgunaan senjata api dan serangan masal. Nyaris setiap tahun berulang. Belum ada obat yang cespleng untuk mengatasi hal tersebut.

Sumber Jawa Pos

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News