Please, Jangan Mudah Menuding Kampus Terpapar Radikalisme

Please, Jangan Mudah Menuding Kampus Terpapar Radikalisme
ILUNI UI bersama mahasiswa Universitas Indonesia. Foto: ILUNI UI for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) meminta semua pihak tidak mudah mengaitkan kampus dengan gerakan radikal ataupun radikalisme. Sebab, pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang adanya tujuh kampus yang terpapar radikalisme telah menggulirkan spekulasi yang menyudutkan berbagai perguruan tinggi.

Bahkan, meme-meme tentang tujuh kampus terpapar radikalisme juga beredar di media sosial. Menurut Ketua Umum ILUNI UI Arief Budhy Hardono, berbagai tindakan yang merugikan kalangan perguruan tinggi itu harus dihentikan agar tak menimbulkan keresahan dan saling curiga.

“Informasi yang menyebutkan tujuh kampus terpapar radikalisme adalah suatu hal serius. Pernyataan tersebut dapat menimbulkan dampak sosial yang meresahkan masyarakat kampus perguruan tinggi tersebut termasuk para keluarga mahasiswa, keluarga dosen alumninya maupun masyarakat di luar kampus,” ujar Arief sebagaimana siaran pers ILUNI UI, Selasa (12/6).

Menurutnya, berbagai organisasi dan kelompo di lingkungan kampus bisa menjadi saling curiga. Di sisi lain, katanya, para pimpinan di perguruan tinggi mulai rektor hingga dekan dan ketua jurusan juga menjadi repot hanya karena sibuk menyampaikan klarifikasi.

Arief menambahkan, seharusnya ada definisi yang jelas tentang radikalisme terlebih dahulu. Bila belum ada definsi yang jelas disertai fakta kuat dan data yang terukur, katanya, seyogianya semua pihak berhati-hati dan menahan diri untuk melontarkan pernyataan publik perihal kampus yang terpapar radikalisme.

Lebih lanjut Arif menjelaskan, selama ini kehidupan sosial ataupun sikap toleransi di antara dosen dan mahasiswa kampus Universitas Indonesia (UI) baik di Depok maupun Salemba, Jakarta Pusat beserta alumninya sudah berjalan sangat baik. Bahkan, tidak pernah terdengar adanya konflik, apalagi yang melibatkan kekerasan, antara mahasiswa, dosen maupun alumni dikarenakan perbedaan agama, kepercayaan dan paham.

“Demikian juga dengan kegiatan di masjid dan musala kampus baik yang di Depok maupun di Salemba berjalan sangat terbuka dan inklusif. Mahasiswa dan dosen datang ke masjid selain menjalankan ibadah salat, diskusi juga untuk memperdalam pengetahuan agama,” papar Arief.

Juru Bicara ILUNI UI Eman Sulaeman Nasim menambahkan, dosen dan alumni universitas berjuluk The Yellow Jacket itu itu sudah banyak yang berperan di lembaga pemerintahan, legislatif, yudikatif, hingga organisasi kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat demi memajukan Indonesia dalam bingkai NKRI yang berdasar Pancasila.

Jika memang ada ideologi tertentu yang berkembang di kampus dan dianggap membahayakan keutuhan bangsa dan negara, maka sebaiknya dioperasi secara senyap.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News