Selasa, 27 Juni 2017 – 13:58 WIB

Terapi Hiperbarik

Subur-Kencang dari Ruang Bertekanan

Minggu, 07 Agustus 2011 – 06:43 WIB
Subur-Kencang dari Ruang Bertekanan - JPNN.COM

SHARES
RUANG tunggu Klinik Udara Bertekanan Tinggi (KUBT) RSAL dr Mintohardjo, Jakarta, Jumat (25/2) terlihat lenggang. Hanya ada tiga pasien yang tengah antri menjalani Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) atau lebih dikenal dengan sebutan terapi hiperbarik.

Terapi ini sebenarnya bukan barang baru. Diterapkan RSAL Dr Ramelan, Surabaya, sejak 1960-an, prosedur ini awalnya digunakan untuk menyembuhkan penyelam TNI AL yang terkena penyakit dekompresi, keracunan nitrogen yang menyebabkan aliran darah tersumbat gelembung udara. Akibat sumbatan yang menekan sistem syaraf ini, penyelam akan mengalami gejala mirip stroke, seperti mati rasa, lumpuh, kehilangan kesadaran, hingga meninggal dunia.

Namun, terapi oksigen dalam kamar bertekanan tinggi ini tak lagi hanya digunakan prajurit TNI atau penyelam partikelir. Terapi hiperbarik kini sudah menjadi salah satu terapi alternatif yang digandrungi pasien di kota-kota besar. Terapi ini jamak digunakan untuk menyembuhkan kelelahan, bagian dari terapi anak-anak dengan autisme, pria kurang subur, diabetes, tuli mendadak, keracunan gas, bedah plastik, luka bakar, operasi gigi, hingga terapi kecantikan karena diyakini menjaga kulit tetap kencang.

Salah satu figur publik yang mempopulerkan terapi ini adalah mendiang Michael Jackson. Jacko rutin menggunakan terapi oksigen murni dalam kamar bertekanan untuk mengembalikan kebugaran setelah menjalani rangkaian tur yang melelahkan. "Badan memang akan terasa segar setelah menjalani terapi ini," ujar Kepala Pusat Kesehatan Hiperbarik RSAL dr Mintohardjo drg Bambang Haryoto, Sp.Ort.

Verry Santoso, 43 tahun, adalah salah satu pasien yang tengah mencoba terapi hiperbarik untuk mengobati kebutaan mendadak yang dialami akibat overdosis minuman keras. Pria yang berprofesi sebagai pelaut ini awalnya dilarikan ke rumah sakit akibat gangguan jantung setelah menenggak minuman keras. Setelah jantungnya beres dibenahi, giliran matanya yang bermasalah. "Tidak gelap total, masih ada bayang-bayang, tapi kabur sekali," katanya.

Setelah putus asa akibat terapi alternatif tradisional seperti akupuntur hingga sengatan listrik tidak ada manfaatnya, Verry kembali ke jalur medis. Dokter akhirnya menyarankan terapi hiperbarik, tiga kali sepekan. "Ini sesi terapi yang pertama," katanya.

Bila Verry belum menemukan manfaat terapi hiperbarik, Santoso, 54 tahun, telah merasakan manfaat terapi ini sejak enam tahun silam. Pria kelahiran Solo ini mengaku mengenal hiperbarik untuk mengurangi gejala diabetes dan kelebihan kolesterol yang dideritanya. "Setelah terapi, gula darah dan kolesterol memang langsung turun. Karena itu, sejak enam tahun lalu, saya rutin melakukan terapi ini sekali sebulan," tuturnya. Terapi ini kini juga lazim digunakan untuk kecantikan.

Meski belum ada penelitian medis yang menghubungkan kecantikan dan terapi hiperbarik, Bambang mengakui, minat perempuan untuk menjajal terapi tersebut terus meningkat. Ini tak lepas dari efek jangka pendek yang dirasakan perempuan yang mencoba terapi tersebut. Mayoritas mengaku badannya bugar dan kulit wajahnya segar.

Menurut Bambang, terapi oksigen murni dalam ruang bertekanan 1 atmosfer tersebut memungkinkan pasien mendapatkan asupan oksigen murni. Dalam kondisi normal, oksigen murni yang kita hirup dari udara hanya 30 persen, sisanya komponen yang hanya sedikit dibutuhkan dan mayoritas adalah polutan.

Padahal, pada usia 30 tahun-an, kadar oksigen murni yang dihirup dan masuk ke tubuh turun hingga 25 persen, sementara pada usia 40-an, kadar oksigen berkurang hingga 50 persen. Tingginya polusi di kota dengan tingkat polusi tinggi juga membuat oksigen menghilang lebih cepat. "Kulit yang sehat butuh oksigen untuk memproduksi kolagen, elastin, dan bahan lain agar kulit sehat dan kencang. Namun, pembuluh kapiler yang memburuk menyebabkan pasokan oksigen berkurang, sehingga kulit cepat rusak," katanya.

Manfaat terapi hiperbarik bagi kecantikan dituturkan Ratih Pratiwi, 37 tahun. Perempuan yang bekerja di industri asuransi itu mengaku diarahkan dokter yang merawat kesehatan kulitnya untuk menjalani terapi hiperbarik. Setelah enam tahun menjalani sesi terapi sekali-dua kali sebulan, ibu satu anak tersebut mengaku gejala penuaan kulitnya lebih lambat dibanding teman-temannya. "Kulit wajah tetap kencang, kulit leher tak berkerut, saya juga tidak mudah lupa," terangnya sumringah.

Konsultan terapi hiperbarik dr Erick Supondha mengakui, terapi hiperbarik memiliki efek hiperoksia yang menghambat aktivasi toksin. Sementara, bagi pasien luka bakar dan luka bekas operasi, terapi tersebut cukup efektif karena memiliki mekanisme noevaskularisasi, yakni pemecahan fibroblast yang bisa memacu peremajaan kulit baru. "Mekanisme noevaskularisasi ini membantu proses pembentukan kolagen baru pada jaringan-jaringan yang terluka," tutur dokter yang berpraktik di RS Jakarta ini.

Selain untuk kecantikan, kini terapi ini juga mulai lazim digunakan untuk terapi bagi pria yang mengalami gangguan kesuburan akibat pergerakan sperma yang rendah. Akibatnya, sperma mati sebelum mencapai sel telur, sehingga gagal membuahi. Umumnya, terapi gangguan kesuburan ini dilakukan lima kali sebulan.

Di Indonesia, terapi ini juga baru dilaksanakan di sejumlah rumah sakit yang berafiliasi dengan TNI AL, yakni RSAL dr Ramelan, Surabaya; RSAL dr Mintohardjo, Jakarta; RSAL Halong, Ambarawa; RSAL dr Midyatos, Tanjung Pinang; RS Pertamina, Cilacap; dan RSU Sanglah, Denpasar.

Di RSAL dr Mintohardjo, dua tabung hiperbarik yang dimiliki kini digunakan untuk tiga kali sesi sehari. Masing-masing satu hingga satu setengah jam. Biaya terapi ini juga terjangkau, berkisar Rp 300 ribu per sesi. (wan)


Beberapa Indikasi Medis yang Bisa Dirujuk Dengan Terapi Hiperbarik

1. Luka bakar, infeksi, atau bekas operasi
Dengan terapi hiperbarik yang menggunakan udara bertekanan tinggi, bisa mempercepat regenerasi sel-sel tubuh. Selain itu bisa memacu pertumbuhan jaringan kulit yang rusak dan mempercepat perbaikan pembuluh darah yang rusak.
2. Patah tulang
Percepatan pemulihan patah tulang bisa didukung dengan pertumbuhan pembuluh darah baru. Terapi hiperbarik bisa mendukung mempercepat pertubuhan pembuluh darah baru.
3. Cedera atau trauma di kepala
Pada kasus anak terkena benturan dan sebagainya di kepala, dapat dibantu penyembuhannya melalui terapi hiperbarik. Terapi ini membantu menghindari terjadinya penyumbatan aliran darah di kepala sehingga mengurangi risiko dampak benturan yang lebih parah.
4. Autis
Terapi hiperbarik pada anak autis bisa digunakan sebagai terapi pendukung. Terapi ini bisa mengurai alergi yang dialami anak penderita autis karena menurunnya daya imunitas tubuh. Selain itu, terapi ini bisa mengatasi gangguan metabolisme otak yang sulit berkembang dengan baik.

Catatan:
- Terapi hiperbarik dilakukan di dalam tabung baja dengan tekanan lebih dari 1 ATA.
- Selama terapi, pasien menghirup oksigen murni melalui penghirup yang terus dipasang di mulut.
- Selama terapi yang berdurasi sekitar satu jam, pasien bisa senam atau duduk-duduk.

Sumber: Diolah
loading...
loading...
Masukkan komentarmu disini