Jumat, 19 Desember 2014 | 06:07:33
Home / Features / Berkunjung di Pesantren Jibril di Lotim

Selasa, 01 September 2009 , 10:19:00

BERITA TERKAIT

Muhammad Jibril adalah putra pertama Abu Jibril, pendiri Pondok Pesantren Islam Daarusy Syifaa" di Dusun Tirpas, Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Bagaimana kondisi keluarga Jibril di Lotim?

RURY ANJAS ANDITA, LOMBOK TIMUR

    
Saat ini sebagian besar keluarga Muhammad Jibril masih tinggal di Tirpas, Lotim. Pasalnya, Abu Jibril, ayah dari Muhammad Jibril alias Muhammad Rizki Ardhan merupakan orang asli Tirpas.
    
Tirpas merupakan dusun yang berada di daerah bagian timur Lotim. Dari Selong, daerah ini dapat ditempuh dalam waktu setengah jam perjalanan dengan menggunakan motor. Jaraknya sekitar 15 kilo meter dari pusat pemerintahan Lotim. Dusun Tirpas merupakan daerah kering. Sepanjang jalan banyak ditemui penambang batu apung yang sedang berteduh di bawah pohon kelapa.
    
Di Tirpas, keluarga Jibril hidup berkumpul. Jarak rumah satu keluarga dengan yang lainnya tidak terlalu jauh. Rumah pertama yang paling dekat adalah milik Ustad Syafi?i. Syafi?i adalah kakak dari Abu Jibril. Sekitar 500 meter dari rumah Ustadz Syafi?i adalah rumah Ustad Tafaul Amry Jaya yang juga paman dari M Jibril.
    
Di kediaman Tafaul terdapat tiga rumah yang terpisah namun masih tetap dalam satu komplek yang dikelilingi satu tembok dan gerbang.Kedatangan koran ini diterima oleh sejumlah anggota keluarga. "Silakan duduk Mas, baru juga ada wartawan yang datang," kata Tafaul.
    
Jika melihat rumahnya, kehidupan kelurga Jibril tergolong sederhana. Di rumah itu terdapat dua buah pohon sawo yang sudah berumur puluhan tahun. Tiga rumah itu juga terlihat sama seperti rumah warga lainnya. Menanggapi penangkapan keponakannya, Tafaul mengaku hanya dapat membantu dengan doa. Menurutnya, doa merupakan senjata yang paling tajam. Bahkan lebih tajam dari sebutir peluru.
    
Dia juga tidak yakin sekaligus mempertanyakan, bagaimana bisa M Jibril dinyatakan sebagai salah satu penyuplai dana untuk pengeboman di beberapa tempat. "Padahal orang berinfak itu sesuatu yang wajar," tegasnya.Menurutnya, sebagai sesama muslim wajib tolong menolong. Sehingga setelah ditolong perkara bantuan itu mau dipakai untuk apa terserah yang dibantu. Dia sangat yakin kalau keponakannya tidak bersalah.
   
Menurutnya penangkapan M Jibril juga tidak sesuai dengan prosedur. M Jibril diculik saat hendak pulang dari tempat kerjanya. Sampai saat ini pihak keluarga belum bisa menemuinya. Untuk mengikuti perkembangan M Jibril pihak keluarga memanfaatkan berita di koran dan televisi. "Ini beritanya keluar di televisi," katanya sambil menunjukkan ke sebuah televisi. Selain itu, untuk mengetahui perkembangan kasus keponakannya Tafaul sesekali menelepon ke Jakarta."Selain dengan doa kami juga memberi dukungan moril kepada mereka," katanya.

Ramai Dikunjungi

Pondok Pesantren (Ponpes) Islam Daarusy Syifaa" di Dusun Tirpas Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), adalah ponpes yang didirikan oleh Abu Jibril, ayah Muhammad Jibril.  Muhammad Jibril sendiri diringkus polisi beberapa hari lalu, karena diduga terlibat dalam aliran dana pengeboman Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton.

Meski M. Jibril telah ditangkap oleh Densus 88 di Jakarta, suasana Ponpes Daarusy Syifaa" sama seperti hari-hari sebelumnya. Hanya saja, perhatian sebagian santri sedikit terganggu oleh kunjungan beberapa pihak, termasuk wartawan atau pihak lainnya. "Tidak ada sesuatu yang berbeda, kecuali karena bulan Ramadan," kata Ustadz Tafaul Amry Jaya, salah satu keluarga M Jibril.Ponpes Daarusy Syifaa" merupakan salah satu ponpes terkenal di Lotim. Ponpes ini didirikan sekitar tahun 1999 dan terletak persis di depan SDN 3 Korleko. Untuk menuju ponpes, pengunjung harus melewati jalan tanah sekitar 200 meter dari jalan beraspal.

Di ujung jalan tanah itu terpampang sebuah papan bertuliskan Ponpes Islam Daarusy Syifaa?. Di sebelah kanan dan kiri jalan menuju ponpes terdapat beberapa perumahan penduduk. Siang itu, saat wartawan koran ini berkunjung ke sana, tampak ibu-ibu berjilbab dan memakai cadar sedang berada di rumah mereka. 
  
Ponpes ini dibangun di atas lahan seluas sekitar satu hektare dan terbagi menjadi tiga lokasi. Sebelah barat terdapat asrama putri, di tengah Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Sedangkan di bagian belakang bangunan MTs dan MA berdiri sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Saat ini pondok ini mengasuh sekitar 300 santri yang berasal dari berbagai daerah.
  
"Yang terjauh dari NTT dan Jakarta," kata salah seorang pembina, Zaidan. Menurut Tafaul, bukan kali ini saja ponpes didatangi banyak orang. Setiap ada bom yang meledak pasti ponpes akan banyak dikunjungi. "Trennya sudah seperti ini," ungkapnya.Terkait pelatihan baris-berbaris yang diberikan kepada santrinya, Tafaul membantah kalau itu merupakan latihan perang. "Itu cuma latihan biasa," katanya sambil tersenyum.
  
Tafaul menjelaskan, latihan tersebut hanya menjalankan syariat Islam seperti hadits Nabi Muhammad SAW. Selain itu, latihan baris berbaris juga sebagai salah satu cara untuk menjaga kebugaran tubuh para santri. "Nabi menyenangi para umatnya yang kuat," tambah paman Muhammad Jibril ini.

Aktivitas Normal, Selalu Salat Berjamaah

Sama seperti Pondok Pesantren Daarul Syifaa?, keadaan lingkungan dan masyarakat di sekitar rumah keluarga Muhammad Jibril juga terlihat tidak ada perubahan. Masyarakat melakukan aktivitas seperti biasanya.Pascapenangkapan Muhammad Jibril alias Muhammad Rizki Ardha, Dusun Tirpas, Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur (Lotim), banyak mendapat sorotan. Pasalnya, nenek moyang dari Muhammad Jibril, orang yang saat ini tengah disidik oleh Densus 88 Mabes Polri, tinggal di sana.
   
Muhammad Jibril adalah putra pertama dari Abu Jibril. Paman M Jibril, Ustadz Tafaul Amry Jaya, mengaku masih ingat betul bahwa keponakannya itu lahir tahun 1989. Namun, pimpinan Ponpes Daarusy Sfifaa" itu lupa tanggal dan bulannya. "Saya cuma ingat tahunnya saja," katanya sambil tersenyum.
   
Menurut Tafaul, sejak baru beberapa minggu lahir, M Jibril sudah dibawa pergi merantau oleh ayahnya ke luar daerah, salah satunya Malaysia. Pasalnya, Abu Jibril juga mempunyai seorang istri lagi di negeri Jiran tersebut. Dari istri yang asli Indonesia, Abu Jibril di karunia sepuluh anak. "Kalau yang di Malaysia saya tidak tahu," tandasnya.
   
Tafaul tidak tahu persis bagaimana keadaan sang keponakan selanjutnya. Karena jarang bertemu, komunikasi hanya dilakukan via telepon dan kadang-kadang bertemu saat Lebaran.Sejak kecil M Jibril sekolah di Malaysia. Setelah selesai dia kembali ke Jakarta dan membuka situs Arrahmah.com serta menerbitkan Jihad Magazine. "Situs inilah yang oleh kepolisian diduga menjadi sumber dana para teroris di Indonesia," katanya terlihat kesal.
   
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi membuat berita penangkapan M Jibril telah tersebar luas ke seluruh Indonesia, termasuk ke Dusun Tirpas. Dusun kecil di daerah timur Pulau Lombok itu merupakan tanah kelahiran M Jibril.
   
Karena itu, tak heran jika saat Lombok Post berkunjung, masyarakat sekitar rumah kediaman keluarga M Jibril tak ada yang mempertanyakan. Mereka seolah sudah tahu bahwa yang datang itu adalah wartawan. Sebab, sebelumnya juga tidak sedikit orang yang datang dengan ciri-ciri yang sama. Selalu ada yang membawa kamera dan peralatan jurnalistik lainnya. "Lihat-lihat ada wartawan yang datang," kata Jamal salah seorang pemuda di Tirpas.
   
Kondisi masyarakat sekitar ponpes maupun rumah keluarga M Jibril tidak ada yang khusus atau spesifik. Kegiatan selalu sama seperti hari-hari biasanya. Masyarakat juga beraktivitas sesuai kebiasaan masing-masing. Ada yang berkebun, bertani, dan berladang, serta anak-anak yang terlihat bersekolah. Hanya kebetulan bertepatan dengan Ramadan, aktivitas masyarakat sangat jarang terlihat di siang hari. Hanya terlihat beberapa di antaranya yang melintas dengan busana muslim, serta beberapa anak-anak yang sedang bermain tidak mengerti apa-apa.
   
Nama Abu Jibril sudah tidak asing di telinga masyarakat awam, terutama di sekitar Desa Korleko. Namun tokoh pendiri ponpes yang dipimpin oleh adiknya, Tafaul, itu jarang berada di kampung halamannya. Dia lebih banyak berada di luar Lombok. Jamal mengakui, dulu Ponpes Daarul Syifaa" sedikit tertutup. Namun seiring berjalannya waktu ponpes ini mulai terbuka. Masyarakat sekitar juga tidak banyak yang mengetahui aktivitas Abu Jibril. Sebab sejak kecil dia sudah bersekolah di luar daerah, hingga meraih sarjana pertanian pada salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta.
   
Sebagian masyarakat hanya mengetahui, setelah bersekolah, Abu Jibril pulang kampung dan mendirikan madrasah. "Sebatas itu saja yang saya tahu," tambahnya.Sementara itu, suasana religi tampak jelas di lingkungan ini. Ketika koran ini berkunjung, kebetulan pada siang itu telah memasuki waktu salat Zuhur. Tanpa diperintah masyarakat segera menghentikan segala aktivitasnya. Mereka segera menuju mushala yang jaraknya sekitar 150 meter dari kediaman Ustadz Tafaul. Usai berwudhu, para jamaah menanti Tafaul yang selalu menjadi iman di sana. "Mari kita salat dulu, nanti kita sambung," ajak Tafaul dengan bijak.
   
Usai salat, perbincangan dengan Ustadz Tafaul pun berlanjut. Dia mengaku, kakaknya Abu Jibril beserta keluarga kadang-kadang pulang kampung pada saat Lebaran. Namun Tafaul sangsi kalau pada lebaran tahun ini, saudara kandungnya bisa mudik. Apalagi M Jibril yang kini ditahan polisi.Meski demikian, dia yakin bahwa keponakannya itu akan tetap istiqomah menjalani semua cobaan ini. "Kelurga beliau (Abu Jibril, red) sedang diberi cobaan oleh Allah. Sepertinya tahun ini kami tidak bisa berkumpul," keluhnya. (*)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
 
        1. 30.10.2011,
          08:57
          Muhammad. Syafi'i
          kunci dari segala sesuatu, bagaimana pun shaleh kita, pnuh dengan ilmu. kalo kita tidak sabar. sia-sialah smuanya. orang bilang ada batas sabar,, sbenarnya itu tidak ada hanya sebatas nafsu. kepada para redaksi 'Tirpas bukanlah daerah kring , karna brita yang d info kan bohong. soalnya itu bukan daerah tirpas. alangkah bahagianya dan indahnya dunia ini bila kita damai.......................