Kamis, 31 Juli 2014 | 12:22:43
Home / Features / Mengintip Sidang Adat Dayak terhadap Prof Thamrin

Minggu, 23 Januari 2011 , 08:39:00

SIDANG ADAT-Persidangan Adat Dayak Maniring Tuntang Manetes Hinting Bunu antara masyarakat Dayak dan Prof DR Tamrin Amal Tomagola, yang secara harafiah artinya adalah memutus dendam yang berkepanjangan dalam menuju perdamaian ke arah yang lebih baik. FOTO HENDRY PRIE/KALTENG POS
SIDANG ADAT-Persidangan Adat Dayak Maniring Tuntang Manetes Hinting Bunu antara masyarakat Dayak dan Prof DR Tamrin Amal Tomagola, yang secara harafiah artinya adalah memutus dendam yang berkepanjangan dalam menuju perdamaian ke arah yang lebih baik. FOTO HENDRY PRIE/KALTENG POS
BERITA TERKAIT

Adat Dayak memang penuh dengan filosofi yang menjunjung tinggi kedamaian dan kebersamaan. Terbukti ketika pelaksanaan Sidang Adat Dayak dengan Prof Tamrin Amal Tomagola selaku Pelanggar Adat, situasi di lokasi tersebut aman dan tetap kondusif.
-----------------------------------------------------
OLYVIA BINTANGI – Palangka Raya
----------------------------------------------------
SIDANG Adat Dayak Maniring Tuntang Manetes Hinting Bunu antara masyarakat Dayak dan Prof DR Tamrin Amal Tomagola dimulai sekitar pukul 10.30 WIB di Betang Tingang Nganderang.

Persidangan Adat yang bermaksud untuk memutus dendam yang berkepanjangan dalam menuju perdamaian ke arah yang lebih baik antara masyarakat Dayak dan Prof DR Tamrin Amal Tomagola, berlangsung tertib, aman dan terkendali.

Situasi sekitar lokasi persidangan digelar tampak ramai dan dihadiri oleh masyarakat Dayak dari usia belasan hingga yang usia lanjut. Mereka berkumpul dengan mengenakan batik khas Kalteng yang ciri khas warna cerahnya, seperti kuning, merah, biru, oranye dan ungu. Terlihat pula anggota kepolisian dan TNI yang berjaga-jaga di sekitar Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Mayjend DI Panjaitan, tempat sidang untuk memutus dendam Suku Dayak itu.

Masyarakat yang hadir tanpa dibekali ID Card hanya bisa melihat siaran langsung di ruang sidang melalui layar televisi yang diletakkan di pelataran bawah bangunan Betang.

Namun antusiasme mereka tetap menggebu, dengan penuh semangat, setiap prosesi persidangan disimak dengan hikmat. Tak ada cacian dan makian yang menjatuhkan sosok pelanggar adat. Hanya sesekali sewaktu wajah tua Thamrin yang berusia 63 tahun itu disorot kamera, ada warga yang berceloteh “Huuuuu…..Ini nih bapaknya Ariel Peterpan,”, yang sesaat kemudian disambut tawa renyah warga lainnya.

Persidangan berlangsung dengan sakral tanpa ada kendala, baik itu di dalam ruang sidang maupun di luar ruangan. Semua warga yang menyaksikan melalui layar televisi pun tak ada yang membuat kekisruhan.
.
Setiap detik yang ada hanya kehikmatan dan suasana penuh damai. Penulis pun benar-benar merasa bangga dan penuh penghargaan terhadap masyarakat Dayak yang memegang teguh semboyan Hatangku Manggetu Bunu, Hanangkalu Penang Mamangun Betang yang artinya bersatu bersama menyelesaikan permasalahan, sepakat untuk membangun kebersamaan dan Penyang Hinje Simpe, Paturung Humba Tamburak Manggatang Utus Dayak yang bermakna bersama dalam satu ikatan yang kuat mengangkat harkat dan martabat suku Dayak.

Persidangan adat yang dilaksanakan berlandaskan beberapa hal, antara lain penyeragaman hukum adat sebagai hasil rapat besar perdamaian di Tumbang Anoi tahun 1894 dan anggaran dasar/anggaran rumah tangga Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) itu benar-benar berlangsung tanpa kendala hingga sampai pada akhir putusan adat dibacakan oleh para hakim adat Dayak, sekitar pukul 11.30 WIB.

Prof Thamrin yang raut wajahnya tampak dipenuhi rasa penyesalan dan telah mengaku salah serta meminta maaf kepada seluruh masyarakat Dayak, akhirnya dikenakan hukuman adat lima pikul garantung, minta maaf di depan masyarakat dayak melalui berbagai media nasional, mencabut hasil penelitiannya, mencabut pernyataannya pada saat sidang ariel peterpan serta membayar uang denda untuk upacara adat sebesar Rp 77.777.777.

Sidang adat tersebut tak memakan waktu lama, dan tak nampak pula kekecewaan dari masyarakat yang hadir. Semua datang dan pulang dengan damai, tanpa ada dendam demi keutuhan bangsa dan negara. Karena masyarakat Dayak sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan dalam Bhinneka Tunggal Ika. (*)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 03.07.2013,
        13:14
        ito
        Suku Dayak sama dengan suku Jawa Asli, Ing Ngarso sun Tulodo, ing Madyo mbangun Karso, Tut Wuri Handayani.
      2. 29.05.2012,
        12:01
        ido
        mampos kau ! datang ke kalimantan pendek umur kau
      3. 23.01.2011,
        18:58
        fatik bapak monic
        bisa untuk contoh bagi para pemimpin negeri berani mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki dengan cara yang arif dan bijaksana, sungguh budaya dayak yang menjunjung tinggi harkat dan martabat rakyatnya tapi bisa bertindak arif pada orang yang mengakui kesalahannya
      4. 23.01.2011,
        13:37
        ibnu 'arabi
        Terimakasih Majelis Adat Dayak yang menjaga Adat Dayak Eksis dan dihargai, menyidang dengan penuh kearifan. Contohlah Prof. Thamrin wahai TOKOH NASIONAL, beliau salah tapi berani mengakui dan bersedia mematuhi aturan. Salut buat MADN dan Prof. Thamrin.