Jumat, 31 Oktober 2014 | 22:01:00
Home / Nasional / Humaniora / Atur Jumlah Penduduk, Perlu Grand Design Kependudukan

Kamis, 27 Januari 2011 , 04:24:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA – Berdasarkan hasil sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 230 juta lebih. Untuk itu, pemerintah menyusun sebuah grand design kependudukan yang berfungsi untuk mengatur jumlah penduduk secara nasional dan daerah. Pembahasan grand design yang baru kali pertama dibuat ini dilakukan lintas kementerian dan lembaga.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai ketua pokja pengendalian kuantitas penduduk termasuk pembangunan keluarga. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ketua pokja grand design kualitas penduduk. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ketua pokja pemantapan data base kependudukan.

"Kementeri an terkait harus memberikan kontribusi. Tapi, penyerasian grand design tetap diserahkan kepada BKKBN,’’ ujar Ketua BKKBN Sugiri Syarief usai rakernas pembangunan kependudukan dan keluarga berencana 2011 di Audiotorium BKKBN Jakarta, Raby (26/1).

Hadir dalam Rakernas tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana, dan Ketua Apindo Sofyan Wanandi.

Menurutnya, grand design kependudukan ini mirip dengan rencana umum tata ruang (RUTR) di pusat dan daerah. Sebab, daerah juga harus membuat grand design serupa setelah tingkat pusat selesai. Diharapkan grand design sudah selesai pada Oktober mendatang. Sehingga pada 2012 sudah bisa diimplementasikan. Sedangkan November dan Desember adalah waktu untuk daerah menyusun grand design.

Menko Kesra Agung Laksono menambahkan, penyusunan grand design kependudukan tidak lepas dari sektor ekonomi. Nantinya grand design bisa menjadi acuan menyelesaikan masalah kependudukan. Sehingga ada daya dukung antarwilayah dengan penduduk.

Kepala Bappenas Armida mengaskan, angka terakhir jumlah penduduk mengalami tren naik. Rata-rata nasional memang 1,49. Tetapi detail per tahunnya tetap naik. Sehingga harus ada fokus yang lebih tajam lagi. ’’Mungkin kemarin dengan kondisi strategi 2010 maka harus direvisi ulang. Fokus strategi dipertajam. Ingin proyeksi baru. 2015-2025 atau lebih. Juga analisis yang lebih detail di breakdown,” kata guru besar di Universitas Padjadjaran ini.

Sementara Menkes Endang Rahayu lebih menyoroti mengenai tingginya angka kematian ibu. Salah satu penyebabnya adalah pernikahan usia muda. Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, 8,4 persen penduduk usia 10-15 tahun melahirkan 5-6 anak. 3,4 persen usia 10-59 tahun anak lebih dari 7 orang. "Kebanyakan adalah kelompok yang tinggal di desa. Status ekonomi rendah. Hal-hal yang tidak menguntungkan bagi keluarga untuk punya anak banyak," katanya. (cdl)


Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar