Sabtu, 02 Agustus 2014 | 05:29:29
Home / Features / Ustad Nur Boyong Keluarga ke Jakarta

Senin, 01 Agustus 2011 , 08:08:00

Ustad Muhammad Nur Maulana. Foto: Fajar/JPNN
Ustad Muhammad Nur Maulana. Foto: Fajar/JPNN
BERITA TERKAIT

Para penceramah ini termasuk laris tampil di acara TV selama Ramadan. Ada wajah baru, tapi ada juga wajah lama.
----------------------
RAMADAN tahun ini bisa jadi sangat istimewa bagi Ustad Muhammad Nur Maulana. Sebab, ini adalah tahun pertamanya menjalani lakon sebagai ustad selebriti yang kerap tampil di TV. Sebelumnya, penceramah yang kondang dengan gayanya yang khas, jama"aah oh jama"aah, itu hanya dikenal di kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Ketika harus sering berada di Jakarta, ustad 37 tahun itu pun serba kelimpungan mempersiapkan segala sesuatunya. Salah satu di antaranya, dia harus memboyong keluarganya ke Jakarta selama Ramadan. "Sekarang (keluarga) sudah ada di sini (Jakarta) semua," kata Nur kepada Jawa Pos.

Yang diboyong, antara lain, istrinya, Nur Aliah, dan anaknya bernama Munawar. Pria kelahiran Makassar, 20 September 1974, itu mengatakan bahwa jadwalnya pada Ramadan kali ini meningkat 100 persen. Semua kegiatannya berlipat dari hari biasa. Oleh sebab itu, Ustad Nur Maulana tidak bisa ke mana-mana selama Ramadan ini.

Selama bulan suci, dia mengisi dua acara di Trans TV. Yakni, Syiar Ramadan tiap sore dan Saatnya Kita Sahur. Acara yang disiarkan secara langsung itulah yang membuat dia harus terus stand by di ibu kota. Dia tidak bisa lagi mengisi ceramah di tempat lain. "Padat banget Ramadan kali ini," imbuhnya.

Meski padat dan waktu luang untuk bersama keluarga tidak sebanyak dahulu, dia tetap bersyukur. Sebab, dia bisa menyiarkan Islam lebih luas, tidak lagi terkungkung jarak seperti sebelumnya. Dia senang bisa memberikan pengetahuan agama dengan caranya sendiri.

Apa itu? Tetap dengan gaya yang kocak dan "melambai" seperti selama ini. Selama Ramadan, pola dakwah yang selama ini dianggap kontroversial karena mengajak orang terbahak dan agak melambai bakal tetap dipertahankan. "Sejak pertama berdakwah pada 1988 memang sudah seperti ini," urainya.

Dia menjelaskan, orang sering salah kaprah dengan pembawaan yang agak melambai itu. Padahal, menurut dia, tidak ada masalah dengan pola dakwah seperti itu. Sebab, pola yang dilakukan bukan syariat, melainkan murni siar. "Makanya, gaya itu tetap saya pakai," tandasnya.

Gaya seperti kali pertama dia tunjukkan kepada siswa kelas VII SMP. Ilmu agama yang dia timba di Pesantren An-Nahdlah, Makassar, membuatnya percaya diri untuk memberikan ceramah. Caranya berdakwah yang suka memperagakan suatu cerita dengan gerakan-gerakan lucu sempat membuat dia dipandang sebelah mata oleh teman-temannya.

Namun, dia cuek. Sebab, gaya seperti itu justru membawa keuntungan tersendiri. Saat mengajar di TK, SD, dan SMP, anak-anak justru senang dengan gayanya yang dianggap gaul itu. Nah, gaya itu terbawa hingga kini. Dia juga sempat diprotes jamaahnya saat berceramah di suatu masjid. "Saya jelaskan bahwa gaya saya memang seperti itu. Beruntung, mereka bisa menerima materi ceramah saya," ucapnya.

Bentuk protes lain yang pernah dia terima adalah dikempiskannya ban motor serta diambilnya busi motor miliknya oleh seseorang. Gara-gara itu, dia harus mendorong motor hingga puluhan kilometer.

Putra keempat pasangan Maulana dan Masyita itu tidak mau memperpanjang kontroversi seputar style-nya berdakwah. Dia lebih suka membicarakan masalah materi yang akan dibawakan selama Ramadan. Bisa jadi, tahun pertama sebagai ustad seleb di acara Ramadan menjadi pertaruhan karirnya ke depan. "Karena itu, saya mempersiapkan segala sesuatunya sendiri," terangnya. Itu dilakukan karena dia harus bisa membawakan materi dengan tegas dan lugas.

Suami Nur Aliah itu tidak mau membawakan materi yang tidak dikuasainya. "Paling penting, materinya tidak boleh bersifat lokal," paparnya. Apa saja materi tersebut" Dia masih menyimpan rapat-rapat. Nur Maulana hanya memberikan bocoran normatif bahwa materinya pasti seputar puasa. Dia mengatakan, dengan pengalamannya menjadi guru agama Islam SD, dirinya bisa mengatasai tahun pertamanya ini. "Selain itu, sejak 1998 saya sudah mengisi acara Ramadan," ungkapnya. (dim/c4/kum)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 25.06.2014,
        03:50
        nice penalty removal
        wfYF3E Thanks a lot for the article post.Really thank you! Great. From mobile
      2. 15.08.2011,
        09:13
        sumarno
        Assalamu alaikum wr wb,
        gaya ceramahnya mudah dicerna, kocak bikin yang dengerin tidak ngantuk, maaf ada yng tau alamat di jakarta ?
      3. 01.08.2011,
        18:29
        didiek suryadi
        ass wr wb ustad alhamdulliah ana suka gayanya lain dari pada yg lain... ga maslah yg penting yg disampaikan dari Allah SWT ...sukses....amien
      4. 01.08.2011,
        14:28
        zahrudin
        Mudah mudahan ustad diberikesehatan biar bis adakwah terus
      5. 01.08.2011,
        10:47
        Cahyo guntoro
        Masyarakat sudah banyak yg salah jalan lebih banyak memilih yg umum saya, inilah contoh TUNTUNAN