Kamis, 30 Oktober 2014 | 20:43:44
Home / Nasional / Politik / Patok Negara Diduga Hilang, Kasad Bilang Aman

Rabu, 12 Oktober 2011 , 08:17:00

BERITA TERKAIT

TANJUNG REDEB- Abrasi yang semakin parah di Pulau Sambit tidak hanya sekadar informasi. Anggota DPRD Kaltim yang berkunjung ke pulau terluar Indonesia itu pekan kemarin, melihat kondisi sebenarnya. “Memang parah. Patok negara yang pernah ada di pulau itu sekarang sudah tidak ada lagi,” kata Gamalis, anggota Komisi III DPRD Kaltim Senin malam (10/10).

Tidak hanya patok negara, akibat abrasi di pulau yang mempunyai luas daratan sekitar 0,18 kilometer persegi (sumber: Wikipedia) itu, juga mengancam mercusuar yang ada di sana. Saat ini, kata Gamalis, pondasi mercusuar sudah terkikis. Bahkan tempat genset yang dibangun di Pulau Sambit telah hilang lantaran abrasi parah. Penjaga mercusuar di pulau yang berbatasan dengan Malaysia itu terpaksa harus membangun ulang dengan bangunan apa adanya.

Kondisi itu, lanjut Gamalis, harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Apalagi saat ini pulau yang terletak di Laut Sulawesi itu semakin bergerak ke dalam. Sehingga memungkinkan terjadi pergeseran batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jika diukur dari garis pantai terluar saat ini.

Lantas apa yang dilakukan dewan provinsi menyikapi abrasi yang terjadi di Pulau Sambit? Menurut Gamalis, hasil kunjungannya ke Pulau Sambit akan disampaikan kepada ketua DPRD Kaltim. “Kami akan meminta soal abrasi itu disampaikan ke pusat,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kaltim sebenarnya telah memberikan perhatian dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 23 miliar. Anggaran itu untuk pemasangan tetrapod sebagai pemecah ombak agar abrasi bisa diminimalisasi. Selain itu, pemasangan tetrapod diharapkan dalam mengembalikan kondisi pulau seperti awalnya.

Rencananya pemasangan tetrapod sepanjang 400 meter. Saat ini tetrapod yang dibuat di Tarakan baru sebanyak 5.000 buah dari 12 ribu buah yang direncanakan. Pemasangan tetrapod ditarget rampung pada Desember tahun ini.

Namun, kata Gamalis, perhatian terhadap batas negara tidak cukup hanya dilakukan pemerintah provinsi. Pemerintah pusat pun harus memberi perhatian. “Ini masalah nasional. Jadi pemerintah pusat harus menindaklanjuti,” tegasnya.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menambahkan, penanganan abrasi di Pulau Sambit harus dilakukan secepatnya. “Kalau terlambat mercusuar di sana (Pulau Sambit) bisa roboh,” ujarnya. Sementara Mudiyat Noor, anggota DPRD Kaltim lainnya menambahkan, penanganan abrasi di Pulau Sambit harus melibatkan pemerintah pusat. “Sekarang pondasi mercusuar di sana (Pulau Sambit) sudah terendam. Pemerintah pusat harusnya ikut bertanggung jawab,” ujarnya.

Kasad: Seperti Buaya Aja Dicaplok

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo menegaskan wilayah Indonesia baik di Kalbar maupun di daerah perbatasan lainnya di Kaltim, sampai saat ini masih dalam kondisi aman dan terkendali. Termasuk di Dusun Camar Bulan dan Tanjung Datu, Kalimantan Barat.

“Pencaplokan itu tidak ada. Dan soal diminta menambah personel atau gelar pasukan di perbatasan sana (Kalbar) tak semudah itu. Mengapa, karena memang tidak ada yang jadi permasalahan, semua berjalan sesuai ritme kesepakatan antara Indonesia dan Malaysia,” tegas Kasad usai menyambangi pos perbatasan Sungai Ular Kecamatan Seimanggaris Kabupaten Nunukan Selasa (11/10).

Lebih jauh dikatakannya, tidak ada pula sesuatu yang menonjol untuk dibenahi. Satgas yang ditugaskan di sepanjang perbatasan pulau Kalimantan, kata Kasad, pun telah diamanatkan agar bersungguh-sungguh dalam bertugas, manunggal bersama rakyat, tidak hanya mengandalkan kekuatan personel tapi juga kerja sama dengan masyarakat setempat.
“Saya juga mengikuti perkembangan isu pencaplokan itu. Termasuk komentar Menkopolhukam. Dan setelah mengecek langsung di lapangan memang tidak ada hal menonjol yang perlu dibenahi khususnya di Kaltim. Tidak ada pencaplokan, seperti buaya aja dicaplok,” ungkap Edhie ini disambut tawa perwira lainnya.

Menggunakan heli, Kasad yang berkunjung ke Kabupaten Nunukan menyempatkan diri melihat pos perbatasan yang dijaga Satuan Tugas (Satgas) Pamtas 621/Manuntung. Kurang lebih 20 menit kemudian melanjutkan perjalanan ke ibukota Kabupaten Nunukan di Kecamatan Nunukan.

Bersama Bupati Nunukan Drs Basri yang juga mantan Dansatgas di Kalbar, Kasad menyempatkan diri memberikan pengarahan kepada Satgas 621/Mtg, menyerahkan bingkisan dan melakukan penanaman di markas komando Satgas Pamtas di Jl Rimba. Saat dialog bersama prajurit Satgas Pamtas, Kasad mendapatkan aspirasi yakni mengenai terbatasnya alat komunikasi yang dimiliki Satgas Pamtas 621. Terlebih lagi saat cuaca buruk, alat komunikasi berupa handy talky antara satuan jaga di pos perbatasan sulit terhubung.
“Alat komunikasi kami masih minim, apalagi saat cuaca buruk komunikasi sangat sulit dilakukan,” usul Danyon 621/Mtg Mayor Infanteri Sulaiman.

Menanggapi aspirasi itu, Kasad pun siap menindaklanjuti, termasuk kebutuhan pasukan TNI AD lainnya selama bertugas di perbatasan. “Kedatangan saya ke Nunukan ini hanya untuk melihat kesiapan dan kekuatan pasukan saya di perbatasan. Dan ternyata mereka prima dan sehat. Selain itu, masyarakat juga memberikan apresiasi atas kinerja TNI membantu di bidang pendidikan hingga kesehatan,” tambah Kasad.(end/ica/iza)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 18.10.2011,
        16:52
        jnko
        selesaikan dng damai ...pasti lbh bermanfaat.....
      2. 14.10.2011,
        04:25
        gembala1250
        Coba jgn membuat kisruh, patok tsbt bergeser akibat kontur tanah akibat abrasi dan itu sdh di cek betul dgn Bpk TNI yg mnjaga perbatasan.
      3. 12.10.2011,
        18:35
        bonek sby
        mereka smua yg bilang 'baik2 sja' mental'y mental taek!! mana harga dirimu sbg anak bangsa????? 'AYO PERANG'
      4. 12.10.2011,
        10:53
        j_qo
        indonesia terlalu banyak pertimbangan dan terlalu berbelit2 sampai patok negara aja hilang ! kok ngak sekalian kalimantan aja di hilangkan
      5. 12.10.2011,
        09:55
        christyhasian
        jangn memperkeruh keadaan yg tidak tau masalah dan kebenaran ya..bikin isu sama saja menghancurkan stabilitas dan keamanan bangsa..negara ini tetap punya patokan kok,tidak mungkin seorang bintang empat mengarang sbuah berita tp terroris pasti suka ngarang