Sabtu, 20 September 2014 | 08:56:08
Home / Berita Daerah / Kep. Riau / Kendaraan Operasional Dilarang Beli Solar Bersubsidi

Kamis, 20 Oktober 2011 , 00:48:00

BERITA TERKAIT

BATAM - Pertamina Wilayah Kepulauan Riau (Kepri) berjanji dalam pekan ini akan mengoperasikan satu unit stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) khusus untuk penjualan solar nonsubsidi. Dengan demikian, kendaraan operasional untuk industri berat di Batam diwajibkan untuk membeli solar di SPBU tersebut.

Selain kendaraan penunjang operasional industri, Pertamina, Muspida Batam, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), akan menerbitkan regulasi khusus di daerah untuk jenis kendaraan lainnya. Regulasi khusus yang diberlakukan di Batam ini dalam rangka mencegah terjadinya kebocoran BBM subsidi.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kota Batam Ahmad Hijazi dalam konferensi bersama PT Pertamina, BPH Migas, kepolisian, dan TNI di Kantor Wali Kota, Rabu (19/10). Menurut Hijazi, dengan pembangunan SPBU khusus solar nonsubsidi, khususnya solar di Batam disertai regulasi khusus yang ada, maka penyelewengan BBM dapat diminimalisir.

Regulasi yang akan diterbitkan Wali Kota Batam setelah dibahas bersama semua unsur, kata dia, akan mengatur tentang kendaraan mana saja yang dizinkan membeli solar di SPBU yang menjual BBM subsidi."Misalnya mobil trailer dan kendaraan pendukung operasional industri berat dilarang beli solar subsidi. Mereka harus beli di SPBU nonsubsidi," ujar Hijazi.

Untuk pengawasan dan pengamanan disribusi, ia menyebutkan dalam waktu dekat segera dibentuk tim terpadu dari semua instansi ke SPBU-SPBU yang ada di Batam. I Ketut Permadi, Sales Area Manajer Pertamina Kepulauan Riau mengatakan, SPBU khusus ini dibangun di lokasi yang cukup strategis di dekat kawasan industri.

Ia juga mendukung pembentukan tim terpadu dan regulasi khusus yang akan dikeluarkan Pemko Batam terhadap persoalan BBM yang ada saat ini. Karena, kata dia, kelangkaan BBM hampir sebulan di Batam diakibatkan spekulasi oknum yang tidak bertanggungjawab sehingga terjadi overkuota BBM subsidi. Menurut dia, overkuota untuk solar sejak Januari hingga akhir September lalu sebesar 5 persen sedangkan premium sebesar 27,5 persen dari biasanya.

Sementara, staf Direktorat BPH Migas Ari Yoewono mengungkapkan, stok BBM Batam untuk tiga bulan ke depan yakni Oktober, November dan Desember tinggal 43.147 kiloliter untuk premium dan 53.040 kiloliter untuk solar. Dengan demikian, pendistribusian untuk tiga bulan ke depan mengalami penurunan atau pembatasan dan Pertamina memberlakukan sistem kitir. "Jadi per bulannya hanya bisa didistribusikan sekitar 15 ribu kiloliter untuk premium," katanya.

Kebijakan pengurangan kuota ini, menurut Ari, akibat overkuota yakni untuk premium sebesar 3.387 kiloliter sejak Januari hingga September dan 6.278 kilo liter untuk solar. Pemerintah, kata dia, telah menetapkan BBM subsidi jenis premium untuk Batam sebesar 186.571 kiloliter per tahun dan solar 85.954 kilo liter per tahun.(spt/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 28.10.2011,
        11:43
        chovalatino
        regulasi seperti ini hanya akan menimbulkan aksi demo dari para pengusaha industro dan supir,. di karenakan bisa merusak sistem kerja yg selama ini telah berlaku.