Senin, 28 Juli 2014 | 23:26:41
Home / Pendidikan / Pendidikan / Siswa Harus Naik Sampan ke Sekolah

Kamis, 27 Oktober 2011 , 11:20:00

BERITA TERKAIT

WANGGUDU - Sudah jatu tertimpa tangga pula. Pribahasa tersebut sangat tepat dengan apa yang dialami oleh warga Kecamatan Molawe. Belasan investor tambang yang beroperasi tutup mata dengan kondisi askes jalan meski perut bumi yang menggandung biji nekel dikeruknya. Bahkan pemerintah pun hanya diam melihat anak sekolah yang harus terlambat masuk belajar karena harus menaiki rakit.

Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara terkenal dengan kandungan biji nikel yang melimpah-ruah. Sangatlah wajar jika banyak investor asing yang berusaha masuk kelokasi itu untuk membangun perusahaan tambang. Namun hadirnya belasanan tambang disana rupanya tak sedikit pun memberikan angin segar bagi masyarakatnya.

Memang ketika melakukan perjalanan dari Kendari ke daerah tersebut beberapa ruas jalan poros sebagian telah di aspal namun jika dibandingkan dengan yang tidak di aspal maka lebih banyak yang tidak di aspal. Entah apa penyebabnya namun kabupaten yang baru saja memekarkan diri tersebut sedikit lebih lumayan jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Namun ada masalah yang sangat ironis. Daerah yang terkenal dengan biji nikel tersebut menyimpan pertanyaan. Untuk diketahui, aktivitas pengerukan perut bumi yang dilakukan oleh investor di empat desa yaitu Desa Mowundo, Desa Tapungjaya, Desa Rapomoea dan Desa mandiodo, nampaknya tak sebanding dengan apa yang diambil oleh investor tambang.

Jembatan di kali Molawe yang menghubungkan desa seberang yaitu Mowundo, Tapungjaya dan desa Rapomoea kondisinya terputus akibat sering dilalui oleh kendaraan tambang. Padahal masyakarat telah bersusah payah membangun jembatan tersebut pada tahun 2002 silah.

Pihak perusahaan tambang dan pemerintah setempat sepertinya tutup mata melihat setiap hari warga dan anak sekolah terpaksa menaiki jasa sampan. Bayangkan saja, putusnya jembatan kayu di kali Molawe itu sudah berlangsung hampir dua tahun tetapi sampai saat ini belum ada bantuan dari investor dan pemerintah setempat.

Haris salah seorang warga yang selalu melintasi kali Molawe mengatakan rusaknya jembatan tersebut pertama karena usia. Namun jika dilalui oleh sepeda motor tentu tidak akan rusak terlalu parah seperti apa yang terjadi saat ini. Tetapi karena lalu-lalang kendaraan tambang yang melintasi jembatan tersebut akhirnya usianya sangat pendek.

Warga yang membuat jembatan tersebut sebelumnya telah memasang kayu penghalang agar mobil tak melintasinya tetapi entah siapa yang sengaja membuka tanda larangan tersebut. Warga bisa saja melintasi jalan lain tetapi jika melintasi jalan alternatif lainnya maka dipastikan waktunya cukup lama karena belasan kilo jauhnya. Akhirnya kata Haris, ada warga yang bersedia membuat sampan untuk menyebrang dari desa seberang.

Setahu Haris, pemerintah sudah berulangkali melakukan pengukuran jembatan yang putus sepanjang 60 meter tersebut namun sampai saat ini belum juga dibangun jembatan yang layak dilalui. Bahkan pekan lalu saja ada orang yang datang mengukur nampun tak ada juga realisasinya. "Kalau hanya ukur mengukur warga juga bisa kok pak, kami butuh jalan tersebut diperbaiki," terang Haris.

Hal yang sama dirasakan oleh Sulkifli, siswa SMK 1 Molawe. Dirinya mengaku jarak sekolahnya dari jembatan kali Molawe yang rusak tersebut berkisar 150 meter. Ia pun harus berpikir ketika harus berputar mengunakan jalan lain karena hampir ratusan siswa tidak memiliki sepeda motor dan masih mengadalkan kaki untuk sampai ke sekolah tersebut.

Sulkifli yang saat itu masih mengenakan pakain seragam SMU menceritakan hal lain. Saat akan menyebrang ke desa tempat sekolahnya berada, ia dan rekan-rekannya harus mengantri bermenit-menit. Karena seluruh anak sekolah yang lewat diberikan perhatian khusus yaitu digratiskan tetapi dengan satu syarat harus ada sepeda motor yang naik di sampan tersebut. "Kalau motor membayar 2500 ribu rupiah jadi ada biaya jasa bagi pemilik sampan dan anak sekolah digratiskan," katanya dengan polos.

Dirinya juga mengatakan dari rumah ketika akan sekolah tidak mengenakan kaos kaki karena naik turun dari sampan kedua kakinya harus bersentuhan dengan air. Pasalnya sampan yang dinaiki tidak bisa langsung menyentuh daratan karena itu sepatu harus dilepas sebelum turun. Siswa-siswi ini berharap kepada pemerintah bisa sesegera mungkin diperbaiki jembatan tersebut. Karena para siswa yang setiap hari pergi-pulang sekolah punya perasaan kasihan kepada wanita-wanita yang bekerja sebagai penarik sampan selalu digratiskan.

Bukan hanya siswa murid yang akan sekolah saja diberikan gratis menaiki sampan tersebut namun para guru-guru yang akan mengajar pun diberikan gratis sebagai wujud perhatian karena telah sudah mengajar anak-anak warga di Kecamatan Molawe untuk tetap sekolah dan menjadi anak pintar dan cerdas. Siti Aisah, seorang guru Sekolah Dasar (SD) Mowundu mengatakan sudah lebih dua tahun ia dan rekannya mengunakan sampan untuk menyebrang ke tempat mengajarnya. Sejak itu juga dirinya tidak pernah memberikan upah jasa kepada pemilik rakit yang semuanya ibu rumah tangga. Pasalnya setiap kali hendak dibayar selalu saja menolak dan berkata 'tolong anak saya dididik dengan baik'.

Ucapan ibu rumah tangga yang tak kenal lelah tersebut selalu terlintas dibenak Siti Aisah ketika mengunakan jasa rakit tersebut. Hampir setiap hari guru-guru yang mengajar di Desa Mowundo terlambat karena harus antri pula menaiki sampan. Metodenya sama yang dirasakan siswanya, harus menunggu sepeda motor yang naik barulah sampan bisa berjalan. "Ya sama dengan siswa juga nanti ada motor yang naik barulah sampannya jalan karena saya juga kasiahan kalau ibu-ibu tersebut mengerakan sampannya tak ada pemasukan sekali berjalan,"kata Siti yang masih berstatus gadis itu.

Jika musim hujan dan air tiba-tiba pasang mau tak mau siswa ada sebagian yang tidak masuk sekolah karena sampan-sampan atau lasim di sebut rakit tersebut tak berani menantang derasnya air kali Molawe. Jika dipaksakan maka akan jatuh korban karena sampan bisa saja terbalik. Siti mengatakan pernah mengalami kejadian dalam sebulan dirinya empat kali tidak mengajar siswanya karena saat itu kondisi air kali Molawe cukup deras. Tepat pukul 12.00 Wita saat itu dirinya harus pulang kerumah karena kondisi air tak juga surut.

Dengan begitu, jumlah siswa 106 itu ada yang belajar dan ada juga yang tidak. Karena dari 12 guru di SD Mowundo hanya satu orang yang berdomisili di Mowundo sedangkan yang lainya dari desa Molawe. Siti pun merasakan jika dirinya harus melepas sepatu ketika akan menaiki sampan tersebut karena jika tidak maka sepatunya akan basah. Para orang tua murid pernah juga rapat di sekolah untuk mencarikan solusi agar jembatan kayu tersebut diperbaiki. Hasilnya semua orang tua siswa setuju namun mereka kembali berpikir jika jembatan tersebut sudah bagus maka dipastikan akan dilalui kendaraan tambang lagi. "Pasti usia jembatan tersebut tidak lama," pungkas guru yang berusia 26 tahun ini.

Jumri, Kepala Desa Tapungjaya mengatakan sampai saat ini juga pemerintah belum memperbaiki jembatan tersebut. Memang adanya rakit tersebut sangat membantu jalur penyebrangan warga desa yang berhubungan tersebut. "Ya mau tidak mau karena jalur ini yang paling dekat maka sepeda motor yang melintas harus membayar 2000 rupiah," katanya, ketika turun dari rakit menuju kantor Camata Molawe.

Wati, ibu rumah tangga yang sehari-hari bekerja sebagai papalimbang (perakit,red) mengatakan sejak rusaknya jembatan kayu kali Molawe dirinya memutuskan untuk menarik rakit. Semula dirinya  tidak ingin bekerja sebagai jasa penyebrangan namun karena ketiga anaknya sekolah di desa seberang akhirnya banyak warga yang meminta untuk jasa tersebut ada. "Ya sampai saat ini saya lakukan," katanya, sambil menunggu sepeda motor yang naik di rakitnya.

Memang khusus guru dan anak sekolah diberikan gratis penyebrangan karena kasihan. Orang tua para siswa kata Wati hampor semua di kenalinya dan kondisi keuangan ditambah lagi dengan kebutuhan sehari-hari cukup banyak dan jika siswa harus dipunggut biaya ongkos naik sampan maka cukup banyak pengeluaran. Wanita yang memilik tiga orang anak ini mengaku setiap hari sejak pukul 05.00 Wita dirinya sudah harus turun ke kali Molawe menarik sampan hingga pukul 18.00 Wita. Sementara pada malam hari dirinya bukan tidak mau menekuni pekerjaan tersebut tetapi ada sistem ganti (siep,red).

Dua sampan yang beroperasi tersebut pemiliknya ada empat orang, dalam sehari pendapatan harus dibagi menjadi empat. Wati mengatakan dalam sehari pendapatannya paling banyak 200 ribu rupiah. "Ya kami meski bekerja seperti ini tetap berharap jembatan kayu ini segera di perbaiki," katanya.(kp)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar