Jumat, 24 Oktober 2014 | 16:33:28
Home / Internasional / Global / Siswa Jogja Kolaborasi dengan Sekolah Musik di Swiss

Minggu, 30 Oktober 2011 , 14:36:00

Foto: KBRI di Swiss
Foto: KBRI di Swiss
BERITA TERKAIT

SION -- Asam di gunung, garam di Laut, bertemu dalam belanga. Itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan keakraban dan kekompakan 6 orang penari Siswi Budi Mulia Dua Yogyakarta dan Sekolah Musik 1,2,3 di Sion Swiss. Keduanya belum pernah bertemu sebelumnya, berbicara dalam bahasa yang sama sekali berbeda, namun kolaborasi antara keduanya dalam penampilan Tari Cipat Cipit Banyumasan telah mengundang tepuk tangan dan penghargaan para penonton yang memadati acara Promosi Produk dan Budaya Indonesia, yang dihadiri oleh sekitar 300-an undangan.
 
Bertempat di Barensaal Worb, acara yang bertajuk Pameran Produksi dan Kebudayaan Indonesia  tersebut (Indonesische Produkt und Kultur Veranstaltung) telah diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Atase Perdagangan Perwakilan Tetap RI Jenewa. Acara yang digelar 28 Oktober 2011 lalu itu bertujuan untuk terus meningkatkan pengenalan produk dan budaya Indonesia kepada masyarakat Swiss dan sahabat Indonesia.
 
Dalam kesempatan ini, 20 perusahaan dan perseorangan, yang mendatangkan produk-produk dari Indonesia, maupun beberapa Pemda dan pengusaha di Indonesia, telah turut serta dalam Promosi ini. Dalam rilis resmi pihak KBRI di Swiss, disebutkan bahwa berbagai jenis produk telah ditampilkan mulai dari furniture, mebel taman, kerajinan tangan, tas kulit, mutiara dari P. Lombok, batik, aksesoris, makanan dan minuman, sepatu kulit, kakao sampai nata de coco & aloe vera.
 
Duta Besar RI untuk Swiss, Djoko Susilo dalam sambutannya menekankan bahwa salah satu ambisi dan obsesinya sebagai Duta Besar RI untuk Swiss adalah meningkatkan ekspor Indonesia ke pasaran Swiss, paling kurang dua kali lipat dari nilai ekspor Indonesia tahun 2010. Sejak dibukanya hubungan RI – Swiss pada tahun 1952, volume dan nilai perdagangan bilateral Indonesia – Swiss, meskipun ada kecenderungan mengalami peningkatan. Namun relatif masih belum menunjukkan potensi yang ada di kedua negara.

Untuk tahun 2010, total nilai perdagangan bilateral RI – Swiss mencapai hampir CHF 610 juta, dengan surplus di pihak Swiss. Beberapa komoditi unggulan ekspor Indonesia ke pasaran Swiss di antaranya sepatu dan komponennya; pakaian dan aksesorisnya; pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan); kopi, teh dan bumbu-bumbu, dan minyak atsiri.
 
Apabila dilihat dari data yang ada, komoditi ekspor yang dimiliki Indonesia termasuk komoditi-komoditi yang diperlukan di Swiss, utamanya sebagai bahan mentah atau bahan setengah jadi bagi industri di Swiss. Namun apabila dilihat dari nilainya relatif masih rendah. Hal ini, antara lain dikarenakan belum begitu dikenalnya produk-produk Indonesia oleh konsumen maupun importir Swiss.
 
Selain Tarian Cipat Cipit Banyumasan, sekolah budi Mulia Dua juga menampilkan seni bela diri Tapak Suci yang juga membuat penonton terkesima. Sebanyak 13 orang siswa dengan berbagai cara mampu mematahkan papan setebal 4 Cm dengan tangan kosong.
 
Pameran ditutup dengan 4 buah lagu Ladrang Eling-eling, Prawiro Watang, Lancaran Suwe Ora Jamu, Dolanan Kupu Kuwi, dan Bubaran Udan Mas yang dibawakan oleh dalam bahasa Jawa yang fasih oleh penyinden dan pemain gamelan yang dapat dipastikan bukanlah warga Indonesia. Timothe Coppey sang penabuh kendang dan timnya  yang terdiri anak-anak usia SD dan SMP telah berhasil membawa ambience pengunjung seolah-olah berada di salah satu kampung di Indonesia. (*/sam/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar