Kamis, 23 Februari 2012  
   
DAHLAN ISKAN
Selasa, 27 Desember 2011 , 01:27:00

KADANG libur itu penting. Pada hari tanpa kesibukan itulah persoalan yang rumit bisa dibicarakan secara mendasar, detail, dan habis-habisan. Misalnya, pada hari libur Sabtu lalu. Enam jam penuh bisa membicarakan rumitnya persoalan Merpati Nusantara Airline.
   
Tidak hanya direksi dan komisaris yang hadir, tapi juga seluruh manajer senior. Ruang rapat sampai tidak cukup sehingga pindah ke ruang tamu yang secara kilat dijadikan arena perdebatan.
   
Meski saya yang memimpin rapat, tidak ada hierarki di situ. Segala macam jabatan dan predikat saya minta ditanggalkan. Tidak ada menteri, tidak ada Dirut, tidak ada komisaris, dan tidak ada bawahan. Semua sejajar sebagai orang bebas. Duduknya pun tidak diatur dan tidak teratur.

Operator laptop dan proyektornya sampai duduk di lantai. Kebetulan saya juga hanya memakai kaus dan celana olahraga. Belum mandi pula. Baru selesai berolahraga bersama 30.000 karyawan dan keluarga Bank Rakyat Indonesia se-Jakarta memperingati ultah ke-116 mereka yang gegap gempita.
   
Pindah dari acara BRI ke acara Merpati pagi itu rasanya seperti pindah dari surga ke Marunda. Dari perusahaan yang labanya Rp 14 triliun ke perusahaan yang ruginya tidak habis-habisnya. Dari jalannya operasional saja Merpati sudah rugi besar.

Apalagi, kalau ditambah beban-beban utangnya. Tiap bulan pendapatannya hanya Rp 133 miliar. Pengeluarannya Rp 178 miliar. Pesawatnya tua-tua. Sekali dapat yang baru MA 60 pula.
   
Suasana kerja di Merpati pun sudah seperti perusahaan yang no hope! Maka, jelaslah bahwa persoalan Merpati tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.

Restrukturisasi perusahaan dengan cara modern sudah dicoba sejak dua tahun lalu. Belum ada hasilnya "bahkan tanda-tandanya sekali pun. Upaya restrukturisasi ini telah menghabiskan enersi luar biasa. Lebih-lebih menghabiskan waktu dan kesempatan.
   
Panjangnya proses pengadaan pesawat Tiongkok MA 60 membuat peluang lama hilang begitu saja. Rute-rute kosong yang semula akan diisi MA 60 telanjur dimasuki Wing dan Susi Air yang lebih kompetitif. MA 60 yang menurut para pilot merupakan pesawat yang bagus, lebih berat lagi bebannya setelah terjadi kecelakaan di Kaimana.

Peristiwa yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kualitas pesawat itu ikut membuat Merpati ibarat petinju yang sudah sempoyongan tiba-tiba terkena pukulan berat.
   
Sebelum kecelakaan Kaimana, penumpang sebenarnya lebih senang naik MA 60. Pesawat ini sengaja didesain untuk negara tropis. AC-nya bisa berfungsi sejak penumpang masuk pesawat. Tidak seperti pesawat baling-baling lain yang panas udara kabinnya luar biasa dan baru berkurang setelah beberapa menit di udara.
   
Merpati memang sering kehilangan momentum. Bahkan, seperti sudah kehilangan momentum sejak dari lahirnya. Ketika kali pertama dipisahkan dari Garuda, pesawat-pesawatnya diambil, tapi utangnya ditinggalkan. Beban-beban lain juga menumpuk.

Semua itu enak sekali dijadikan kambing hitam oleh manajemen. Setiap manajemen yang gagal punya alasan pembenarannya. Kadang manajemen lebih sibuk mengumpulkan kambing hitam daripada bekerja keras dan melakukan efisiensi.
   
Benarkah tidak ada hope lagi di Merpati?
   
Itulah yang melalui forum pada hari libur Sabtu lalu ingin saya ketahui. Terutama sebelum saya membuat keputusan yang tragis: ditutup! Segala macam usaha sudah dilakukan.

Dua bulan lalu sebenarnya saya sudah menyederhanakan manajemen Merpati. Jabatan wakil Dirut saya hapus. Jumlah direktur saya kurangi. Ini agar manajemen lebih lincah. Juga terbebas dari beban psikologis karena wakil Dirutnya lebih senior dari sang Dirut.

Rupanya itu belum cukup. Saya harus masuk lebih ke dalam. Tiba-tiba saya ingin berdialog langsung. Dialog yang intensif dan tanpa batas. Dialog dengan jajaran yang lebih bawah.

Di masa lalu saya sering mendapat pengalaman ini: banyak ide bagus justru datang dari orang bawah yang langsung bekerja di lapangan. Bukan dari konseptor yang bekerja di belakang meja.
   
Memang ada rencana pemerintah dan DPR untuk membantu keuangan Merpati Rp 561 miliar. Tapi, akankah uang itu bermanfaat? Atau hanya akan terbang terhambur begitu saja ke udara? Seperti ratusan miliar uang-uang negara sebelumnya?
   
Tentu saya tidak ingin seperti itu. Harus ada jaminan ini: dengan suntikan tersebut Merpati bisa hidup dan berkembang. Tidak seperti suntikan-suntikan uang ratusan miliar rupiah di masa lalu. Ini juga harus menjadi uang terakhir dari negara untuk Merpati. Sudah terlalu besar negara terus menyuntik Merpati, dengan hasil yang masih begitu-begitu saja.
   
Karena itu, saya kemukakan terus terang di forum: daripada uang Rp 561 miliar tersebut terhambur ke udara begitu saja dan karyawan pada akhirnya kehilangan pekerjaan juga, lebih baik Merpati ditutup sekarang juga. Uang itu bisa dibelikan kebun kelapa sawit. Tiap karyawan mendapat pesangon 2 ha kebun sawit.

Orang Riau punya dalil: satu keluarga yang punya 2 ha kebun sawit, sudah bisa hidup sampai menyekolahkan anak ke ITB! Memiliki 2 ha kebun sawit lebih memberikan masa depan daripada terus menjadi karyawan Merpati.
   
Tentu ide ini membuat pertemuan heboh. Sekaligus peserta pertemuan tertantang untuk menolaknya. Mereka tidak rela kalau Merpati harus mati. Kebun sawit bukan bandingan untuk masa depan. Oke. Saya setuju. So what? Kalau dari operasionalnya saja sudah rugi, masih adakah alasan untuk mempertahankannya?
   
Maka, saya ajukan ide untuk melakukan pembahasan topik per topik. Ini untuk mengecek apakah benar masih ada harapan?
   
Topik pertama adalah: bagaimana membuat pendapatan Merpati lebih besar daripada pengeluarannya. Kalau tidak ada jalan yang konkret di topik ini, putusannya jelas: Merpati harus ditutup.
   
Asumsinya: bagaimana bisa memikul beban yang lain kalau dari operasionalnya saja sudah rugi besar. Berapa pun modal digerojokkan tidak akan ada artinya. Lebih baik untuk beli kebun sawit!
   
Meski logika sawit begitu jelas dan rasional, rupanya masih banyak yang takut mengubah jalan hidup. Ketika hal itu saya kemukakan, seseorang nyeletuk dari arah belakang. "Salah Pak Dahlan! Bukan kami takut menjadi petani sawit, tapi Merpati ini masih punya peluang besar," katanya. "Asal semua orang di Merpati punya etos kerja yang hebat," tambahnya.
   
Etos kerja ini begitu sering dia sebut sebagai penyebab utama kesulitan Merpati sekarang ini. Dia sangat percaya etos itulah kuncinya, sehingga sepanjang enam jam rapat itu dia selalu dipanggil dengan nama Pak Etos.
   
Pak Etos mungkin benar. Tapi, itu masih kurang konkret. Yang diperlukan adalah usul konkret dan realistis. Yang bisa membuat pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Yang bisa dilaksanakan dalam keadaan Merpati as is.
   
Pagi itu begitu sulit mencari ide yang membumi. Saya pun lantas teringat pada gurauan pedagang-pedagang sukses seperti ini: "Tuhan itu baik. Tapi, uanglah yang bisa membuat orang mengatakan Tuhan itu baik".
   
Rupanya perlu rangsangan material untuk melahirkan ide-ide kreatif. Rupanya perlu dana untuk mendatangkan Tuhan. Maka, saya tawarkan di forum itu: peserta rapat yang mengusulkan ide terbaik akan saya beri hadiah satu mobil baru, Avanza, dari kantong saya pribadi.
   
Rapat pun menjadi heboh. Gelak tawa memenuhi ruangan. Ide belum muncul, tapi warna mobil sudah harus dibicarakan. Setuju: warna krem! Neraka sawit ternyata tidak menarik. Surga Avanzalah yang menggiurkan. Pantaslah kalau Jakarta macet!
   
Tuhan rupanya benar-benar datang. Inspirasi bermunculan. Hampir semua peserta rapat mengangkat tangan. Mereka berebut mendaftarkan ide. Angkat tangan lagi untuk ide kedua. Ide ketiga. Bahkan, ada yang sampai mendaftarkan lima ide.
   
Setelah terkumpul 53 ide, barulah diperdebatkan. Mana yang konkret dan mana yang terlalu umum. Mana yang menghasilkan rupiah, mana yang menghasilkan semangat. Mana yang membuat pendapatan lebih besar, mana yang membuat pengeluaran lebih kecil.
   
Ide-ide itu kemudian di-ranking. Dari yang terbaik sampai yang terkurang. Dari yang terbanyak menghasilkan rupiah sampai yang menghasilkan etos. Perdebatan amat seru karena masing-masing mempertahankan idenya. Terjadi diskusi yang luar biasa intensif, mengalahkan rapat kerja bagian pemasaran.
   
Dari ranking yang dibuat, memang sudah bisa diketahui siapa yang bakal dapat mobil. Tapi, ada yang protes. "Sebaiknya hadiah baru diberikan setelah ide itu jadi kenyataan," teriaknya.

Rupanya, dia ingin membuktikan bahwa meski idenya kalah ranking, dalam pelaksanaannya kelak akan mengalahkan juara ranking itu. Setuju. Kita lihat dulu kenyataan di lapangan. Peluang bagi ide yang ranking-nya di bawah pun masih terbuka.
   
Tentu ide-ide itu masih dirahasiakan. Ini terutama karena masih akan dirumuskan dalam bentuk program kerja nyata di lapangan. Tapi, semua ide memang sangat menarik. Dari sinilah bisa diketahui bahwa Merpati seharusnya tidak akan rugi secara operasional. Kalau ini terlaksana, pemilik dana tidak akan ragu membantu. Alhamdulillah. Tuhan memberkati.
   
Topik berikutnya adalah MA 60. Bagaimana kinerjanya selama ini? Apakah bisa menghasilkan uang dan terutama bagaimana mengembalikan citra yang rusak akibat kecelakaan Kaimana?
   
Banyak juga ide gila yang muncul. Termasuk ide bahwa khusus untuk MA 60 sebaiknya dicarikan pilot bule. Seperti pesawatnya Susi Air. Orang kita lebih percaya kepada bule daripada bangsa sendiri. Ketidakpercayaan orang terhadap MA 60 bisa ditutup dengan pilot orang bule. Huh!
   
Saya benci dengan ide ini.
   
Tapi, demi Merpati saya menerimanya!
   
Maka, setelah enam jam berdebat, tepat pukul 16.00, rapat pun diakhiri dengan lega. Saya bisa segera pulang untuk mandi pagi! (*)

    Dahlan Iskan
   Menteri  BUMN

   

RELATED NEWS


Komentar (25)

Nama :
Email :
Komentar :
  1. 02.02.2012,
    12:56
    winarno zain
    untuk saudara har dan rustee,saya kurang sependapat dgn saudara.justru menurut saya pak DIS harus presiden kalau mau segera melihat lndonesia sejahtera.mau bukti?sblm beliau masuk pln,kondisinya spt apa?dan hasilnya skrg kita bisa merasakannya.sekarang masuk kemen.BUMN baru berapa saat sudah banyak formulasi2 beliau yang bermunculan.untuk itu jgn tggu lama2 dukung DIS for RI 1 menuju indonesia adikuasa.semoga tuhan meridhoi..amii..n
  2. 02.02.2012,
    12:44
    winarno zain
    561 M VS AVANZA-type'DIS'...siapa sangka bisa menang avanza.penggembala memang harus tahu siapa yang ia gembala,dan tahu harus di bawa kemana mereka.DIS for RI 1 menuju indonesia adikuasa
  3. 31.12.2011,
    06:17
    KU 5 NUT
    Semoga sehat selalu Pak Dis... Judul rapatnya adalah Rapat Aseem Kecut krn Pak Dis belum mandi... He he he... Semoga tulisan ini dibaca oleh seluruh menteri' dan wakil rakyat di Indonesia dan terbuka mata hatinya, bahwa jabatan yg disandangnya adalah amanah utk rakyat, bukan memanah duitnya rakyat...adalah bekerja utk rakyat bkn utk ngerjai rakyat... Adalah utk kesejahteraan rakyat, bkn utk kesejahteraan sendiri dan kroni... Adalah utk mengabdi utk rakyat bkn utk mengabdi utk diri sendiri bgmn bsa korupsi... Pak Dis, jgn mau jd capres ato wapres, repot nanti njenengan, mbaiki yg kecil' dulu lah... From mobile
  4. 30.12.2011,
    20:42
    Putra besmah
    Meski anti politik. Tapi pak Dis lebih politis dari politikus. strateginya brilian, ketika masih di Pln beliau mewacanakan listrik gratis untuk melawan politikus yg melawan kenaikan Tdl (politisi itu hanya cari muka). Strategi kebun sawit, menurut saya upaya dak Dis untuk menantang merpati bekerja dgn cerdas. Saya percaya orang sekelas pak Dis sesungguhnya sudah tau, Masih ada hope di merpati.
  5. 30.12.2011,
    15:23
    Diki Widarta
    Pak Mentri kapan bapak mau dialog dengan kami, Perusahaan BUMN tempat kami bekerja pun tidak bedanga dengan Merpati, suntikan dana rakyat sudah banyak masuk, tetapi perusahaan tidak kunjung membaik, menurut saya tidak diterapkannya orientasi target kepada pemangku pejabat, tidak ada resiko dipecat, meskipun target tidak dicapai, jangan harap BUMN akan maju, kami tunggu Pak Mentri segera.
  6. 30.12.2011,
    10:20
    SUKAMTO SYM
    Selamat atas keterbukaan Bpak. dalam membenahi perusahaan BUMN terutama PT Merpati Kapan dilakukan diperusahaan terlebih industri strategis lainnya yang masih sangat berpeluang dalam meraih keuntungan dan kesejahteraan karyawannya.
  7. 29.12.2011,
    10:16
    Muh. Arifin
    Maju terus Pak Dahlan...
    Kebun sawit memang menjanjikan di Riau, ... Tapi kalau Merpati mempunyai hope yang bagus, manfaat kanlah para petani Sawit yang berpenghasilan rata-rata 5 juataan di Belilas dan sekitarnya. Mau ke Jawa harus 5 jam perjalanan ke Bandara Pekanbaru atau Jambi. Padahal di Japura (40 km) dari Belilas ada bandara. Sayang .....
  8. 28.12.2011,
    23:19
    ilyas
    Merpati dapat hidup dengan resep hanya satu. HANYA SATU. Harga tiket murah. Mau telat melulu, mau dibatalkan, terserah. Yang penting murah.
  9. 28.12.2011,
    21:28
    Pensiunan Merpati
    Merpati sangat bisa hidup lagi pak, caranya Kantor Pusat merpati yang di jakarta dipindah ke surabaya. Merpati itu punya gedung yg cukup besar di surabaya dekat bandara juanda yaitu Merpati Maintenance Facility dan Merpati Training Center. Ketimbang harus sewa gedung miliaran tiap tahun di jakarta, mending disuruh pindah aja ke surabaya, ini akan menjadikan merpati efisien luar biasa karena pusat perawatan pesawat, training center dan administrasi bisa dilebur jadi satu di surabaya. Tolong pak instruksikan aja sama managemen merpati agar segera pindah ke surabaya. From mobile
  10. 28.12.2011,
    19:11
    rustee
    @Har: setuju.... pak Har, kecuali ketua wakil rakyat (DPR)nya orang yg cara kerjanya mirip2 Cak DI
  11. 28.12.2011,
    18:28
    Har
    Dua jempol utk p. Dahlan,tp tolong pak..jangan pernah mau jd Presiden dan apalagi wapres,karena Bpk akan terbelenggu politik ga bisa bekerja.Bener lho..kalo Bpk ngotot ataupun diotot-otot jd capres saya ga akan milih,mending golput. Regard..
  12. 28.12.2011,
    17:24
    LAPINDO
    MENTERI GENIUS
  13. 28.12.2011,
    14:12
    ahmad
    ini baru namanya mentri..bekerja sebagai pelayan rakyat.mau memberi mobil dg duit pribadi disaat pejabat lain sibuk meminta mobil pribadi...
  14. 28.12.2011,
    10:10
    handono
    Inilah membuat rasa optimize kebangkitan industri dirgantara. saya kagum sekali dgn istilah ' MFG HOPE'. idealis,realistis dan optimis = B Hatta
  15. 28.12.2011,
    09:19
    kang eng
    klo bkan idenya Pak Mentri, hadiah 10 avanza sangatlah wajar bwat yg punya ide kebun klapa sawitnya...,@elfrida: jngan berkecil hati....
  16. 28.12.2011,
    07:12
    elfrida
    kalo sy sih lebih memilih kebun klapa sawit,krn sdh 10 thn kerja dibumn yg lain status pegawainy tdk jls pak,mhn perhatiannya.sukses unk bpk GBU
  17. 28.12.2011,
    05:59
    alam delta komputer
    lebih baik merpatinya emang dijadikan lahan sawit, lebih bermanfaat bagi warga indonesia, lebih banyak membuka peluang kerja
  18. 27.12.2011,
    22:13
    msix
    semoga bermanfaat bagi agama nusa dan bangsa
  19. 27.12.2011,
    21:37
    halwani miladana
    bertambah lagi satu kekaguman saya pada panjenengan
  20. 27.12.2011,
    21:37
    halwani miladana
    bertambah lagi satu kekaguman saya pada panjenengan
  21. 27.12.2011,
    13:42
    Dedi Aprianto
    Biaya itu bermacam - macam..klo bisa diselidiki dahulu biaya2 tersebut mana yg bisa di reduce mana yg tidak.insya allah merpati bisa bangkit.amin
  22. 27.12.2011,
    10:12
    rahmat
    mohon untuk di cek n update trs perkembangan merpati. agar uang untuk avanza tdk hilang dengan percuma bos.smoga sehat selalu pak.
  23. 27.12.2011,
    09:13
    den tea
    yang di pertanyakkan adalah pegawainya pa dis...
  24. 27.12.2011,
    06:57
    mbuh
    cerdas tenan sampeyan pak...
    mangane opo yo yo..
  25. 27.12.2011,
    03:45
    rustee
    hahahaaaa gara' avanza si ide bermunculan, kliatan buanget.... Peno isok ae cak DI nek nglulu uwong.
Advertisement

 
Dahlan Iskan
Kalau Rapat, Tidak Perlu Lagi Makanan ...

   
Advertisement
Suryadharma Ali
Terkait Jamaah, Perlu Pertimbangan M ...

Don Kardono
Diplomasi ’’Peci’’ Gaya Niam ...

   
Advertisement
Advertisement