Kamis, 24 April 2014 | 17:52:24
Home / Features / Hafiz Khairul Rijal, Mantan Pekerja PBB yang Jadi Pengusaha Es Dawet

Jumat, 03 Februari 2012 , 00:03:00

Hafiz Khairul Rijal.

Foto : Agung Putu Iskandar/Jawa Pos
Hafiz Khairul Rijal. Foto : Agung Putu Iskandar/Jawa Pos
BERITA TERKAIT

Menjadi pengusaha adalah pilihan hidup Hafiz Khairul Rijal. Sejak masih duduk di bangku kuliah, dia berikrar menjadi entrepreneur. Dendam terhadap kemiskinan?
 
 AGUNG PUTU ISKANDAR, Jakarta
 
HAFIZ becermin dari almarhum ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kendati lulusan S-2 master of education dari Amerika Serikat (AS), mendiang A.M.S Iskandar tetap sulit menyekolahkan Hafiz. Untuk membayar uang kuliah putra sulungnya itu saja, dia sampai harus berutang. Bahkan, ayahnya tidak pernah punya sepeda motor.
 
Saat ayahanda meninggal pada 2002, ibunya, Ida Zuraida, memberanikan diri membuka usaha katering. Tak disangka, usaha tersebut sukses besar. Profit setahun sudah bisa dipakai untuk membeli mobil. Hafiz pun sadar. Masa depan ada di wirausaha.

"Sejak saat itu saya bersumpah tidak akan pernah jadi PNS maupun pegawai swasta. Saya harus mandiri," tegasnya saat ditemui di acara Pesta Wirausaha yang diadakan Komunitas Tangan Di Atas (TDA) di gedung Smesco UKM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta lalu (29/1). Hafiz merupakan salah seorang pembicara dalam acara tersebut.
 
Sembari kuliah, Hafiz menjajal semua peluang usaha. Mulai laundry, jual beli ponsel, parfum, hingga sepatu. Total sekitar sepuluh usaha dia tekuni selama kuliah. Sayang, semuanya gagal. Tetapi, dia pantang menyerah. "Saya tidak pernah malu setiap berangkat kuliah bawa sepatu-sepatu cewek di tas," katanya.
 
Hafiz bukannya tidak punya pilihan untuk berkarir cemerlang. Setelah lulus kuliah, dia pernah bekerja sebagai penerjemah di lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa di Aceh pada 2005. Saat itu lembaga internasional tersebut sedang memonitor Aceh pascatsunami dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

"Saya bekerja dengan gaji USD 1.500 (sekitar Rp 13,5 juta) per bulan. Cukup banyak untuk anak yang baru lulus kuliah," kata lelaki kelahiran Jakarta, 13 Agustus 1978, itu.
 
Hampir dua tahun bekerja, prestasi Hafiz cukup bagus. Bahkan, dia ditawari menggarap proyek di Timor Leste. Gajinya dinaikkan menjadi USD 2 ribu atau setara Rp 18 juta per bulan. Namun Hafiz yang sejak kuliah sudah bermimpi menjadi pengusaha, menolaknya.

Setelah bekerja hampir dua tahun di Aceh, dia merasa sudah saatnya untuk terjun serius di wirausaha. Keputusan yang sangat dia syukuri hingga saat ini.
 
Hafiz akhirnya memutuskan keluar pada 2007. Dia lantas memikirkan bisnis yang akan digeluti. Awalnya dia menekuni es cendol di tempat dia dibesarkan di Medan. Modalnya Rp 500 ribu. "Memulai bisnis tidak perlu memaksakan diri. Berapa pun modal yang kita miliki, jalani saja. Nanti terus bertambah seiring perkembangan bisnis kita," tuturnya.
 
Uang tersebut dia gunakan untuk meminjam gerobak di salah seorang penjual es cendol yang sudah lumayan besar. Dia menjalankan sendiri gerobak tersebut. Banyak orang mencibir Hafiz. Sebab, sebagai sarjana, dia dianggap tidak pantas berjualan dengan mendorong gerobak. Namun, Hafiz tak mau termakan omongan orang-orang. Dia terus menjalankan usaha.
 
Ketika itu semua proses usaha dia jalani sendiri. Mulai proses produksi hingga pemasaran. Proses produksi seperti memotong daun suji (campuran warna hijau pada cendol atau dawet), memeras kelapa untuk santan, hingga mencampur semua bahan dengan tepung.
 
Setiap bulan Hafiz menyisihkan keuntungan untuk membuat gerobak. Hasilnya, tiap tiga bulan dia bisa menghasilkan satu gerobak. Proses itu terus dia lakukan hingga memiliki 19 gerobak. "Akhirnya mulai punya karyawan untuk bantu-bantu produksi dan jualan," ucapnya
 
Suatu ketika pemilik gerobak yang dia pinjam menawari Hafiz untuk melanjutkan usahanya. Ongkosnya Rp 50 juta. Itu sudah termasuk rumah produksi di sebuah kontrakan, sepuluh gerobak, dan resep rahasia membuat dawet. Kebetulan pemilik usaha berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Karena "guru" resep dawet dari Banjar itulah, Hafiz menamakan mereknya Dawet Cah Mbanjar.
 
Bisnis Hafiz mulai meroket setelah menjadi finalis Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang diadakan oleh Bank Mandiri. Sebagai finalis WMM pada 2008, dia dipercaya mengelola program PKBL alias Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Dengan program itu, dia bisa memproduksi 50 gerobak yang dibeli oleh para pedagang kecil dengan sistem kredit. Dia pun makin menguasai pasar es dawet di Medan.
 
Saat ini Dawet Cah Mbanjar sudah tersebar di 17 kabupaten dengan total gerobak sekitar 170 unit. Bapak dua anak tersebut mengelolanya secara profesional. Lengkap dengan prosedur standar dan pejabat yang melaksanakan tugas selevel manajer dan direktur.

Dia juga memiliki petugas khusus yang mengawasi kinerja para pekerja di jalan. Sebab, salah satu yang susah di bisnis kuliner adalah mencegah adanya "kebocoran" produk.
 
Hafiz memiliki beberapa orang yang mengawasi para penjual. Jika ada yang nakal, tidak tertutup kemungkinan dia dipecat. "Begitulah dunia bisnis. Mereka yang tidak kooperatif kita persilakan pergi, yang berprestasi kita kasih reward. Meskipun jualannya dawet, ada jenjang karir juga di sini," ujarnya, lantas tersenyum.
 
Hafiz bercerita, ada penjual yang berdagang bagus. Dalam waktu tak terlalu lama, dia akan mendapat promosi ke bagian produksi. Setelah itu, dia akan naik ke bagian pengawas. Sampai kemudian, dia bisa membuka daerah jualan baru. "Kita kan juga harus menjaga agar karyawan kita yang bagus tidak dibajak orang lain. Caranya dengan reward itu," jelasnya.
 
Sederet penghargaan diraih Hafiz. Di antaranya, Asia Pacific Entrepreneurship Award (2011), Rotary UKM Award (2010), UKM Award (2010), Pemuda Pelopor dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (2010), dan UMK Award dari Bank Sumut.
 
Saat ini, selain terus berusaha berekspansi ke daerah-daerah lain, Hafiz mulai menjajal tantangan baru. Yakni, membawa dawet menjadi lebih elite di bawah tema Desert of Indonesia. Dia khawatir, jika dawet tidak segera dipastikan milik Indonesia, negara lain akan mengklaimnya. Misalnya, yang sudah terjadi di Thailand. Dengan menjadikan dawet sebagai Desert of Indonesia, nilai tambah dawet akan semakin tinggi. Dawet juga akan mulai merambah pasar elite di hotel-hotel berbintang.
 
Hafiz mengakui, arah ke sana sudah ada. Saat ini dia terus mematangkan konsep tersebut. Rencananya Desert of Indonesia sama halnya dengan resto seperti Es Teler 77. Cuma, sasarannya adalah hotel dan sejumlah mal. "Kalau bukan kita yang mengklaim es dawet, siapa lagi" tegasnya. (*/c10/ca)
 
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 20.05.2012,
        11:09
        Anggita Saputra
        saya mahasiswa universitas malikussaleh lhokseumawe aceh,ingin apakah anda bersedia menjadi pemateri dalam acara seminar entrepreneurship,
      2. 03.02.2012,
        13:31
        opik
        apik