Jumat, 03 Juli 2015 | 04:29:51

Senin, 27 Februari 2012 , 11:55:00

SAYA baru ngeh, mengapa unsur air dimasukkan dalam empat jenis pengendali dalam film animasi Avatar, The Legend of Aang? Sekecil apapun sifat “air” dengan segala wujudnya, adalah unsur yang amat berpengaruh dalam kehidupan modern. Sama dahsyatnya dengan api, tanah dan udara. Kabut, yang oleh atau orang Sunda biasa disebut “halimun” hanyalah uap air lembut yang berada dekat di permukaan tanah, berkondensasi dan mirip awan.

Warnanya putih, lembab, kasat mata, dan kadang menyilaukan. Sepekan ini, tiga kali saya harus bersabar gara-gara “teror kabut”. Pertama, Jumat, 24 Februari lalu, kabut membungkus langit Bandar Udara Adi Sucipto Jogjakarta. Saya bersama Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan sudah sejam menunggu di atas pesawat Garuda, di Soekarno Hatta pagi itu, pukul 06.00 gagal take off dan dipaksa turun lagi.

“Mohon maaf, kami tidak diizinkan terbang, karena Bandara Jogja ditutup kabut,” begitu announce kru di kabin. Setelah turun ke ruang tunggu, baru diperoleh penjelasan, bahwa kabut menghalangi jarak pandang di Maguwoharjo, --lokasi Bandara Adi Sucipto Jogja--, hingga maksimal cuma 750 meter. Idealnya, di 2.000 meter, atau paling darurat 1.500 meter harus terang tanpa halangan.

Nyaris dua setengah jam, kami harus bersabar, menunggu sinar matahari mengubah kabut itu menjadi titik-titik embun. Sesampai di atas langit Kota Gudeg pun, kami pun harus berputar-putar 20 menit di atas Kabupaten Kulonprogo, sisi barat-selatan Provinsi DIY. Ada tiga pesawat yang sama-sama antre menunggu izin landing dari menara pengawas.

:TERKAIT Haluan kiri, haluan kanan, miring kiri, miring kanan, terbang rendah membentuk angka delapan. Kebetulan, saya terbang persis di atas rencana pembangunan bandara Jogja yang baru, di pantai selatan Kulonprogo itu. Baru tahu juga, di lokasi itu jauh lebih aman dari teror “kabut turun” dan bisa dibangun landasan lebih panjang dan lebih berstandar internasional.

Melihat traffic Adi Sucipto yang begitu padat, pembangunan dan pemindahan bandara itu semakin mendesak. Kedua, sesampai Adi Sucipto, kami langsung bertolak ke Wonosobo dengan helikopter, sebuah kabupaten kecil persis di tengah-tengah provinsi Jawa Tengah. Kawasan yang bersembunyi di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Jauh di atas permukaan laut 750 meter, dengan dataran tertinggi 3.000 meter dpl. Sejuk, dan berkabut. Inspirasi Katon Bagaskara KLA Project menciptakan lagu “Negeri di Atas Awan” berasal dari sini, di Bukit Dieng, yang bisa mandi kabut setiap hari, sepanjang musim. Saat kemarau tiba, sama dengan saatnya dewa kabut lebih sering turun gunung, menyapa warga. Kalau malam hari, menggunakan jalur darat, Anda tidak mungkin berjalan di atas 20 kilometer perjam. Jarak pandang hanya 5-10 meter.

Lampu high beam pun tidak sanggup menembus butiran-butiran uap air yang pekat itu. Justru cahaya makin berpendar. Patokannya hanya garis marka putih di aspal, tanpa itu sebaiknya minggir dulu, menunggu si kabut kabur daripada terperosok di tebing curam. Ibarat, kalau tergelincir ke sana, orang menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sampai berhenti pun, belum berhenti sampai ke dasar.

Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar