Kamis, 02 Oktober 2014 | 17:29:29
Home / Features / Andrew Weintraub, Profesor Universitas Pittsburgh dan Vokalis Dangdut Cowboys (2-Habi

Minggu, 29 April 2012 , 13:46:00

Andrew Weintraub.
Andrew Weintraub.
BERITA TERKAIT

Profesor Andrew Weintraub bukan hanya menjadi peneliti dan penggila dangdut. Begitu cintanya, dia membentuk kelompok musik beraliran dangdut di Pittsburgh, Amerika Serikat. Dangdut Cowboys namanya. Orkes dangdut ini punya anggota dua profesor, mahasiswa doktoral, dan juga musisi setempat.

HENDROMASTO, Jakarta

DANGDUT Cowboys Andrew dibentuk pada 2007. Orkes musik beranggotakan enam orang ini secara khusus memainkan musik dangdut dengan gaya Cowboys. Tidak ada baju berumbai ala Rhoma Irama atau goyang asoy khas A. Rafiq. Sebagai gantinya, Andrew dan teman-temannya mengenakan kostum khas cowboy negeri Paman Sam. Topi cowboys, sepatu boot, dan jeans.

Video penampilan Dangdut Cowboys yang diunggah ke situs Youtube sudah lebih dari 250 ribu kali ditonton orang dari berbagai negara. Dangdut Cowboys juga sudah naik panggung di berbagai kota dan kesempatan di negeri Paman Sam. Pittsburgh, New York, hingga Washington menjadi kota-kota yang pernah Dangdut Cowboys singgahi untuk tampil.

Penampilan mereka di kota-kota itu ditonton warga setempat yang notabene masih asing dengan dangdut."Saya yang mengenalkan dangdut kepada beberapa teman dan kemudian kami sepakat membentuk Dangdut Cowboys," kata Andrew.

Sebagai musisi dangdut, Andrew mengaku masih belum sampai pada taraf menciptakan lagu. Dia masih membawakan lagu-lagu dangdut asal Indonesia yang sebagian di antaranya dia nyanyikan dalam bahasa Inggris. Pria murah senyum ini menyebut publik negeri Paman Sam ternyata apresiatif dengan musik yang diusung bersama Dangdut Cowboys.

Menurutnya, pada dasarnya dangdut tidak jauh berbeda dengan genre musik lain yang sudah tenar di Amerika. Dengan Blues misalnya. "Ada kesamaan antara dangdut dan blues," terang Andrew.

Keduanya adalah musik yang pada awalnya lekat dengan stigma marginal. Dangdut identik dengan kalangan bawah Indonesia, blues lekat dengan para budak kulit hitam. Rasa dangdut dan blues juga Andrew sebut punya kesamaan. Keduanya sering mengangkat tema-tema yang menyayat hati baik oleh karena cinta ataupun kerasnya hidup.

"Dilihat dari cord, feel, dan lirik lagunya, dangdut dan blues punya kesamaan. Keduanya sering mengusung tema melankolis dengan tetap ada harapan di dalamnya," kata Andrew.

Selain itu, menurut Andrew, blues dan dangdut juga sama-sama sebuah genre musik yang terbentuk dari banyak unsur di dalamnya. Ada rasa Afrika di dalam blues yang mengalami singgungan-singgungan dengan rock khas barat. Begitu pula dangdut yang merupakan hasil dari sintesis antara unsur-unsur musik dari Timur Tengah, India, dan kemudian bertemu dengan musik Melayu. Begitu pula jika dangdut dibandingkan dengan musik country. Akan didapatkan kemiripan-kemiripan di antara ke duanya.

Walau punya kemiripan dengan musik-musik yang akrab dengan telinga di negeri Paman Sam, bukan berarti dangdut kemudian dibawakan secara khas Indonesia. Andrew tetap bergaya bak cowboys dengan kostum dan gayanya.

Padahal, Andrew membenarkan bahwa salah satu kekuatan dan ciri khas dangdut Indonesia adalah pentas-pentasnya yang selalu heboh. "Dangdut adalah sebuah tontonan yang eksesif," kata Andrew.

Sebagai sebuah tontonan eksesif, dengan sendirinya sebuah pentas dangdut muncul dengan segala kehebohannya sendiri. Mulai kostum hingga gaya sang penyanyi selalu punya kemeriahan tersendiri selain riuh rendah para penontonnya.

Andrew tidak membawa ciri pentas panggung dangdut Indonesia pada penampilan Dangdut Cowboys. "Itu adalah bagian dari kompromi antara rasa Indonesia-Amerika. Gaya cowboy, musiknya dangdut," kata Andrew member alasan mengapa goyangnya di atas panggung seperti penyanyi country yang tenang dan mengapa kostum cowboy jadi pilihannya.

Dengan gayanya sendiri yang tidak sama dengan para artis dangdut Indonesia, Andrew bersama Dangdut Cowboys tetap percaya diri menggoyang Amerika. "Kita sedang berencana membuat reality show tentang dangdut di Amerika," terang Andrew.

Seperti apakah reality show itu, Andrew tidak menjelaskannya. Namun, dia menegaskan rencana pembuatan reality show itu adalah bagian dari cita-citanya memopulerkan dangdut di Amerika. Cita-cita serupa juga menjadi alasan Andrew membentuk Dangdut Cowboys.

Selama penampilannya di kota-kota Amerika, Andrew menangkap dangdut bisa diterima warga negara Paman Sam itu. Irama yang beda dengan musik kebanyakan di Amerika Serikat, keampuhan energi dangdut mengajak goyang penontonnya, hingga alasan-asalan merujuk kebaruan adalah latar belakang mengapa dangdut bisa dinikmati di negeri Obama itu.

"Mereka (penonton) senang walau tak tahu bahasanya. Mereka merasakan energinya dan kebanyakan orang suka joget. Bagi mereka, dangdut adalah sesuatu yang baru karena sebelumnya tak pernah mendengarkan," beber Andrew.

Keseriusan Andrew menggeluti dangdut dia akui pada awalnya mendapat kesan beragam. Pada saat mulai melakukan penelitian tentang dangdut misalnya. Dia menyebut ada dua kelompok pendapat yang muncul dari para koleganya.

Pendapat pertama bernada dukungan dan menganggap sudah waktunya dangdut menjadi objek penelitian akademis. Pendapat  lainnya justru sebaliknya karena mengganggap dangdut hanya sebuah music pinggiran tak penting.

Andrew terbukti tak memusingkan campur aduk reaksi orang soal dangdut dan keseriusannya. Seperti pepatah lama, Andrew tetap berlalu walau gonggongan muncul di sana-sini. Berkat keseriusannya bergelut dengan dangdut, Andrew mendapat sahabat-sahabat baru para pelaku dangdut tanah air. (*)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar