Jumat, 28 November 2014 | 09:56:10
Home / Lifestyle / Lagi, Balita Gizi Buruk Tewas

Jumat, 13 April 2012 , 08:10:00

SERANG - Lagi, kematian balita (bayi di bawah lima tahun) akibat gizi buruk di Kota Serang, Provinsi Banten, terjadi. Kali ini naas dialami Khoirunnisa (2 tahun). Bayi anak pertama pasangan Muliana, 27 dan Sunaryo, 31 itu meregang nyawa Kamis (12/4) pukul 03.00 kemarin. Icha-begitu dia biasa disapa, tewas dengan berat tubuh kurang dari 5 kg lantaran alami gizi buruk sejak lahir.
 
Itu terjadi lantaran orangtuanya tak mampu membelikannya susu formula kualitas tinggi guna menambah berat badannya. Tewasnya, Icha menambah panjang daftar balita gizi buruk yang tewas di Kota Serang. Sebelumnya, Supriyadi (1,6 bulan) tewas karena gizi buruk pada 2009 lalu dan Evi Aprilia (4 tahun) juga tewas karena gizi buruk pada 2010 lalu, (selengkapnya lihat grafis).
 
Ironisnya lagi, Icha yang menderita gizi buruk tinggal hanya berjarak ratusan meter dari tempat peristirahatan atau Pendopo Gubernur Banten yang megah dan mewah di Jalan Brigjen KH Sjam’un, Kota Serang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Banten. Tewasnya Icha membuat kedua orangtunya yang tinggal di Jalan Cijawa Masjid, RT 01/01, Kelurahan Cipare, Kecamatan Serang, Kota Serang sangat berduka.

Apalagi, Icha tewas saat genderang pembangunan di Provinsi Banten tengah ditabuh pasangan Gubernur Ratu Atut Chosiyah-Wakil Gugernur Rano Karno yang terpilih untuk kali kedua menjadi gubernur periode 2012-2017. Maulina mengatakan sejak usia satu bulan, anaknya memang bermasalah dengan berat badan. Dokter memvonis Icha mengidap gizi buruk.
 
Buktinya, saat berusia 1,5 tahun dia hanya memiliki berat badan kurang dari 4 kg. Tentunya berat badan itu tidak sebanding dengan berat badan ideal untuk anak seusianya. Segala daya upaya dilakukan wanita ini agar anaknya sehat. Setiap Rabu pagi, Muliana membawa Icha ke Puskesmas Cipete untuk konsultasi dengan dokter gizi. Akibatnya, berat Icha bertambah 1 kg.

Disarankan dokter, Icha harus diberi susu formula kualitas tinggi. Mendengar itu, Muliana sedih. Pasalnya, harga susu formula jenis itu paling murah untuk ukuran 400 gram Rp 150 ribu. Susu itu juga hanya cukup untuk dikonsumsi selama satu minggu. Sementara gaji sang suami Rp 500 ribu/bulan. Dia mengatakan, suaminya Sunaryo hanyalah karyawan koperasi di PT Indah Kiat di Serang Timur.
 
Sunaryo juga baru bisa berkumpul dengan keluarganya setiap hari Minggu atau seminggu sekali. Itu dilakukan lantaran dia harus menginap di mess perusahaan demi menghemat transportasi. Saat ini, Muliana masih tinggal bersama orangtuanya dengan 3 kepala keluarga (KK) lain yang merupakan kakak dan adiknya. ”Kami memang orang miskin,” cetus Mulianan lagi dengan terisak.
 
Dia juga mengaku berkali-kali mengurus kartu Jamkesmas (jaminan  kesehatan masyarakat, Red) guna mendapat pembebasan biaya pengobatan sang anak di RSUD Serang. Itu dia lakukan agar pengobatan Icha lebih intensif daripada di Puskesmas Cipete. ”Tapi sulit banget. Hingga kini saya tidak memiliki kartu Jamkesmas yang katanya untuk warga miskin,” tuturnya lagi.
    
Tewasnya Icha sangat ironis. Pasalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten hampir tiap tahun mengalokasikan program Makanan Pendamping ASI atau MP-ASI yang jumlah anggarannya cukup fantastis. Bahkan pada 2011 lalu saat Pemilukada Banten digelar, anggaran MP-ASI tak sedikit digelontorkan. Namun, program meminimalisir kematian bayi itu tidak tepat sasaran dan kerap jadi temuan aparat penegak hukum.
 
Bahkan pada kasus yang sama atau program MP ASI 2009, saat ini masih dalam tahap penyidikan yang dilakukan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten. Pasalnya, ada dugaan program MP-ASI 2009 itu dikorupsi untuk kepentingan pihak tertentu. Hingga saat ini, Kejati Banten belum menetapkan satu pun tersangka dalam dugaan kasus yang merugikan negara miliaran rupiah tersebut.
 
Sementara itu, Sekretaris Dinkes Banten, dr Drajat Ahmad Putera saat dikonfirmasi koran ini mengaku tak mengetahui adanya balita warga Kota Serang yang tewas karena gizi buruk. Dia juga mengatakan, bantuan Provinsi Banten berupa MP-ASI diberikan melalui instansi terkait di kota dan kabupaten. ”Programnya mereka yang lakukan. Kami hanya mengalokasikan dana dan pengawasan,” terangnya. (bud)


Balita Warga Kota Serang  Korban Gizi Buruk

6 Maret 2009
Supriyadi (1,6 bulan) warga Kampung Tegal Gowa, RT 13/14, Desa Kalasan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten meninggal menderita gizi buruk dan komplikasi penyakit.

10 April 2011
Evi Aprilia (4 tahun) warga Kampung Kebon Baru, RT 01/01, Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten tewas setelah menderita gizi buruk sejak usia 1 tahun.

12 April 2012
Khoirunnisa (2 tahun) warga Jalan Cijawa Masjid, RT 01/01, Kelurahan Cipare, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten meninggal dunia karena gizi buruk sejak lahir.
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar