Selasa, 23 September 2014 | 07:21:33
Home / Berita Daerah / Sumut / Galang Lobi untuk Bandara Binaka

Kamis, 19 April 2012 , 07:23:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Padatnya lalu lalang pesawat di wilayah udara Sumut dalam beberapa tahun mendatang, tampaknya sudah bisa dibayangkan. Bagaimana tidak, ada enam bandara di wilayah Sumut yang masuk dalam prioritas pengembangan hingga 2025. Keenam itu di luar bandara Kualanamu.

Keenam bandara itu adalah bandara Aek Godang di Padang Sidempuan, bandara Sibisa di Parapat, bandara Pulau-pulau Batu di Nias Selatan. Selain itu, bandara Silangit di Tapanuli Utara, bandara DR. FL. Tobing di Tapanuli Tengah, dan bandara Binaka di Gunung Sitoli.

Skala prioritas pengembangan keenam bandara itu tercantum dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Kementrian Perhubungan 2005-2025, yang disusun di era Menhub Jusman Syafii Djamal dan dirilis 26 September 2008 itu.

Untuk tahun ini, sudah tergarap bandara Kualanamu dan sedang dipersiapkan untuk pengembangan bandara Silangit, seperti diberitakan koran ini, Rabu (17/4). Nah, untuk tahun depan, mana yang akan masuk daftar untuk digarap?

Para bupati/walikota di daerah terkait, saat ini sudah mulai rajin melobi agar bandara di wilayahnya bisa segera mendapatkan alokasi di APBN di tahun-tahun berikutnya, agar pengembangan bandara bisa cepat dilakukan. Siapa cepat, dia yang dapat.

Antara lain yang sudah menggalang lobi ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) adalah para bupati dan walikota di wilayah Nias. Mereka menginginkan agar Bandara Binaka di Gunung Sitoli segera dikembangkan, sebagaimana bandara Silangit.

"Bupati dan walikota sudah menghubungi kemenhub. Karena saat ini konsentrasi pembangunan infrastruktur untuk angkutan udara, mereka minta agar Bandara Binaka mendapatkan prioritas," ujar Yasonna H Laoly, anggota DPR asal Nias, kepada JPNN.

Masih kata Yasonna, Bupati Nias Selatan juga menggalang lobi agar pembangunan bandara yang digarap Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR), dilanjutkan lagi. "Karena sekarang bandara itu pembangunannya tersendat," imbuh Yasonna, yang rajin berkoordinasi dengan para kepala daerah di wilayah Nias untuk urusan pembangunan infrastruktur ini.

Menurut Yasonna, untuk saat ini dorongan prioritas harus pada Bandara Binaka terlebih dahulu. Untuk Bandara Pulau-pulau Batu di Nias Selatan, kata Yasonna, untuk saat ini biar saja tetap menjadi bandara perintis. "Di sana yang penting ada penerbangan reguler dulu, yang ditopang dengan transportasi laut, karena kapal fery yang lancar sangat membantu masyarakat di sana," terang politisi dari PDI Perjuangan itu.

Ditekankan Yasonna, saat ini yang paling mendesak adalah pengembangan Bandara Binaka. Sebenarnya, lanjut dia, upaya perpanjangan landasan sudah dilakukan kemenhub. Hanya saja, terbentur masalah pembebasan lahan. "Tapi jangan karena kendala ini lantas terhenti. Soal lahan, itu tanggung jawab pemda, biar dianggarkan pemda," imbuhnya. Rencana perpanjangan landasan, dari 1.800 meter saat ini ditambah hingga 700 meter.

Menurut Yasonna, Bandara Binaka merupakan bandara terpadat di Nias. Saat ini sudah ada empat kali penerbangan dalam sehari, yakni dua kali Merpati dan dua kali WingAirs. "Yang lain maksimal hanya dua kali. Jadi Binaka sangat layak untuk segera dikembangkan," kata Yasonna.

Dalam RPJP Kementrian Perhubungan 2005-2025, pembangunan enam bandara di Sumut itu merupakan bagian dari pengembangan sistem jaringan transportasi udara di pulau Sumatera. Ini bagian dari upaya untuk memantapkan fungsi bandara pusat penyebaran di Pulau Sumatera dalam rangka meningkatkan aksesibilitas antar kota dalam lingkup Pulau Sumatera maupun antar kota dalam lingkup nasional.

Selain itu, untuk membuka dan memantapkan jalur-jalur penerbangan internasional antara kota-kota PKN dengan negara tetangga dan negara-negara pusat pemasaran produksi dan jasa dari Pulau Sumatera, khususnya ke kawasan sub-regional ASEAN.

Di RPJP, bandara Kualanmu disebut sebagai bandara Medan Baru. Bandara pengganti Polonia ini di RPJP disebutkan masuk prioritas tinggi. Sedang enam bandara yang disebutkan tadi, yang tergolong sebagai bandara bukan pusat penyebaran untuk pengembangan wilayah, masuk prioritas sedang. (sam/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 25.06.2014,
        04:42
        nice penalty removal
        rhioa7 I think this is a real great blog post.Really thank you! From mobile