Senin, 22 Desember 2014 | 19:47:10
Home / Internasional / Timur Tengah / Desak First Lady Syria Bujuk Suami

Kamis, 19 April 2012 , 15:12:00

BERITA TERKAIT

NEW YORK – Tekanan agar rezim Presiden Bashar al-Assad secepatnya mengakhiri kekerasan di Syria terus bermunculan. Giliran para istri duta besar (dubes) Eropa untuk PBB yang mendesak First Lady (ibu negara) Syria Asma al-Akhras alias Asma al-Assad untuk berperan dalam meredakan kekerasan di negerinya. Mereka berharap perempuan 36 tahun itu bisa membujuk suaminya untuk mengakhiri krisis.

Seruan itu dilontarkan oleh Huberta von Voss-Wittig, istri Dubes Jerman untuk PBB Peter Wittig, dan Sheila Lyall Grant, istri Dubes Inggris untuk PBB Mark Lyall Grant, dalam rekaman audio visual. Dalam video tersebut, keduanya mengimbau agar Asma segera bersikap. Sebagai perempuan sekaligus istri dan ibu, Asma yang juga aktivis HAM itu diimbau untuk memberikan masukan positif pada sang suami.

’’Bersuaralah demi perdamaian. Juga, demi kepentingan rakyat Anda,’’ seru mereka dalam video berdurasi empat menit itu.

Selain video, dua istri dubes untuk PBB tersebut juga mengirimkan surat. Secara resmi, keduanya meminta Asma untuk bersikap. Sebab, dia tak bisa selamanya bersembunyi di balik suami dan menutup mata pada aksi kekerasan di Syria yang semakin banyak merenggut nyawa warga sipil.

’’Kami berharap, Asma Assad berani ambil risiko seperti para korban perempuan yang menyuarakan keadilan bagi Syria. Asma Assad harus berani dengan lantang berkata: ’Hentikan pertumpahan darah. Hentikan sekarang juga’,’’ tandas dua tokoh tersebut.

Berdasar catatan PBB, krisis politik yang berkecamuk di Syria selama sekitar 13 bulan terakhir tersebut kini telah menewaskan tidak kurang dari 12 ribu orang.

Selama ini, Asma yang pernah menjadi profil majalah fashion dunia karena penampilan dan gaya busananya itu tidak pernah berbicara soal aksi kekerasan yang dilakukan rezim suaminya. Tetapi, menurut harian The Guardian, ibu tiga anak itu masih berbelanja sejumlah barang mewah secara online. Pertumpahan darah di Syria, agaknya, sama sekali tak mengganggu hasratnya berbelanja.

Bersamaan itu, Turki kemarin menyebut bahwa intelijen mereka mendeteksi adanya pengiriman senjata dan amunisi ke Syria. Kapal kargo berbendera Bermuda yang diduga kuat memuat senjata dan amunisi itu tertangkap radar di Laut Mediterania. ’’Kami menerima informasi bahwa kapal kargo itu akan bongkar muatan di Syria,’’ kata seorang pejabat Turkini yang tak disebutkan namanya.

Terkait laporan tersebut, pemerintahan Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan pun menyatakan bakal segera melakukan penyisiran. Konon, kapal kargo bernama Atlantic Cruiser itu sudah dicegat sejak akhir pekan lalu. Pemiliknya, W. Bockstiegel Reederei, membatalkan rute ke Syria setelah menerima kabar bahwa barang yang dibawa kapal kargonya adalah senjata dan amunisi ilegal.

Sementara itu, PBB yang berusaha menciptakan situasi kondusif di Syria menjelang kedatangan tim pemantau gencatan senjata secara lengkap mulai mempertimbangkan pengiriman lebih banyak pasukan. Selain itu, PBB merasa perlu untuk mengirimkan pesawat khusus demi mendukung misi perdamaian dan kemanusiaan di Syria. 

Sekjen PBB Ban Ki-moon menyatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian untuk Syria tak akan mampu bertugas dengan baik jika hanya didukung 250 serdadu. ’’Dengan menimbang situasi yang masih gawat dan luasnya wilayah negara, 250 serdadu tidak akan cukup,’’ tuturnya. Dia juga meminta bantuan berupa beberapa helikopter dan pesawat dari Uni Eropa (UE). (AFP/AP/RTR/BBC/hep/dwi)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar