Selasa, 23 Desember 2014 | 02:53:34
Home / Berita Daerah / Kaltim / Tragedi Tabang, Dua Tewas

Jumat, 27 April 2012 , 07:09:00

Susi Air PC 6 PK-VVQ jatuh di Tabang. Foto: ist
Susi Air PC 6 PK-VVQ jatuh di Tabang. Foto: ist
BALIKPAPAN-Teka teki hilangnya kontak pesawat Susi Air PC 6 PK-VVQ dengan Bandara Melalan, Kutai Barat (Kubar) terjawab.  Kemarin, pesawat yang dipiloti Jonathan James Willes (48), warga negara Afrika Selatan itu ditemukan tak jauh dari titik terakhir lost contact. Burung besi didapati jatuh oleh tim evakuasi dari Basarnas, Satuan Brimob Polda Kaltim, Polsek Tabang serta masyarakat sekitar di antara Desa Muara Ritan dan Desa Buluksen Kabupaten Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar) atau pada sekitar titik koordinat 00 24,9" LU 116 02,8" BT.

Pilot dan awak pesawat nahas itu tewas. Mereka adalah Jonathan James Willes  dan MC Dougall Ian Russel (30), seorang surveyor warga Australia. Keduanya berhasil dievakuasi dari bangkai pesawat sekira pukul 10.00 Wita. Pertama dikeluarkan adalah Jonathan, kemudian Ian.

Siangnya, kedua korban langsung diterbangkan menggunakan pesawat Susi Air tujuan Jakarta yang sebelumnya mampir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk melakukan pengisian bahan bakar (refueling).

Saat ditemukan, bangkai pesawat dalam kondisi miring ke arah kanan, bagian depan ringsek serta kedua sayap patah. Ian ditemukan dalam posisi telungkup menghadap ke peralatan foto pemetaan yang terpasang pada lantai bagian tengah pesawat. Pesawat ini memang dirancang untuk pengambilan gambar dan hanya kapasitas dua penumpang dan satu pilot. Sedangkan Jonathan, masih terikat pada safety belt kursi pilot. Pesawat nahas itu bertolak dari Bandara Internasional Sepinggan pada Rabu (25/4) pukul 12.41 Wita. Hanya ada satu penumpang, yakni Ian yang memiliki misi melakukan survei pemetaan geografis.

Kapolda Kaltim Irjen Pol Bambang Widaryatmo dan Kasat Brimob Kombes Pol Leo Bona Lubis kemarin pagi langsung meninjau lokasi jatuhnya pesawat menggunakan heli. "Kedua korban itu adalah Jonathan James Willes warga Afrika Selatan selaku pilotnya dan MC Dougall Ian Russel warga Australia, selaku operator pemotretan," kata Kapolres Kubar AKBP Handoyo didampingi Kasat Reskrim AKP Suparno saat melepas jenazah di Bandara Melalan Sendawar (Melak), kemarin.

Hadir juga Wakil Bupati Kutai Barat (Kubar) Didik Effendi, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kubar FX Kaswi, dan perwakilan TNI AU di Kubar. Sebelum diberangkatkan, kedua jenazah secara bergantian menjalani visum luar di RSUD Harapan Insan Sendawar (HIS) Kubar.

"Yang pertama jenazah pilotnya (Jonathan James Willes) datang dan langsung dibawa ke RSUD HIS menggunakan ambulans. Selang satu jam, tiba lagi jenazah MC Dougall Ian Russel," kata Kapolres. Dari hasil visum luar itu, kondisi jenazah pilot Jonathan terbilang paling parah. Kaki kanannya patah. Di kepala kedua korban juga banyak ditemui luka memar, diduga akibat terbentur bagian dalam pesawat ketika jatuh ke bumi.

Kapolres menambahkan, setibanya di Jakarta, kedua jenazah akan menjalani autopsi lagi di RS Polri Kramatjati. Ini sebagai syarat untuk pemulangan mereka ke negara asal. Menurut sumber terpercaya Kaltim Post, keduanya melakoni penerbangan survei demi melaksanakan tugas pemotretan lahan PT Alam Tabang Raya Pratama yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tabang. Awalnya, kata sumber tadi, ada tiga orang akan terbang dari Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, pada Rabu (25/3). Namun satu orang tiba-tiba batal berangkat dengan alasan sakit kepala. Tapi, sumber itu tak bersedia menyebut identitas seseorang yang gagal terbang ini.

Terpisah, Kepala Bidang Perhubungan Darat dan Udara pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kubar Didik Subagya, mengatakan, pesawat Susi Air yang mengalami kecelakaan itu beberapa menit sempat mengontak ke Bandara Melalan Sendawar. Setelah itu menghilang dan baru diketahui pada malam hari jika pesawat tersebut mengalami kecelakaan.

"Hasil pengecekan kami, pesawat Susi Air yang mengalami kecelakaan itu bukan yang digunakan untuk angkutan komersial rute Datah Dawai-Melalan, dan Sendawar-Samarinda-Balikpapan, " kata Didik Subagya. Dia memastikan peristiwa ini juga tak mengganggu penerbangan komersial di Kubar.

Terbang dengan berbagai keterbatasan sarana, sudah menjadi lumrah dalam layanan penerbangan perintis di Kaltim. Itulah yang dirasakan Ramly Effendi Siregar, pengamat penerbangan yang juga mantan Direktur Utama PT Dirgantara Air Service (DAS). Menerbangi kawasan pedalaman dan perbatasan Kaltim memang perlu keahlian tersendiri. Apalagi sebagian besar bandara perintis di Kaltim ini dikelilingi pegunungan dan perbukitan. Seperti di Bandara Long Ampung, Malinau; Bandara Datah Dawai, Kubar; atau Bandara Long Bawan di Nunukan.

Karena itu, pilot berpengalaman sekali pun tetap waswas jika ingin lepas landas dan mendarat di bandara perintis. "Melayani penerbangan perintis itu tidak hanya bicara soal bisnis. Lebih dari itu, ada unsur pengabdian melayani masyarakat. Karena itu sebelum terbang, cuaca harus dipastikan clear," kata Ramly.

Kondisi geografis sekitar bandara perintis yang menyulitkan itu, ditambah dengan terbatasnya peralatan navigasi yang dimiliki bandara-bandara di pedalaman Kaltim. Sehingga alat komunikasi umumnya hanya bergantung melalui radio. Jarak pandang dan cuaca juga hanya dilakukan melalui pengamatan visual.

Kaltim bisa jadi merupakan provinsi di Indonesia yang paling banyak memiliki lapangan terbang. Tidak kurang dari 70 bandara dan lapangan terbang berada di daerah ini. Tentu tidak semuanya beroperasi, karena sebagian besar lapangan terbang merupakan sisa peninggalan perusahaan kayu yang ketika itu masih dalam masa kejayaan, dan umumnya memiliki landasan pacu sendiri-sendiri di lokasi penebangan.

Seluruh bandara dan lapangan terbang yang masih beroperasi, menurut Ramly harus memiliki petugas yang stand by di bandara dan memiliki alat penunjang komunikasi, navigasi, dan stasiun meteorologi untuk memantau perkembangan cuaca setiap saat. Pantauan cuaca itu penting karena sangat berpengaruh pada aktivitas penerbangan. "Mudah-mudahan tidak ada lagi kecelakaan pesawat perintis di Kaltim," katanya, berharap.(rud/eff/*/aim/far/za l)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar