Senin, 21 April 2014 | 11:36:30
Home / Nasional / Hukum / Komnas HAM Kedua Negara Dalami Kasus TKI

Sabtu, 28 April 2012 , 00:03:00

RELATED NEWS

JAKARTA - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ifdhal Kasim mempertanyakan alasan Pemerintahan Malaysia yang menyebut tiga TKI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) terpaksa ditembak mati oleh Polisi Diraja Malaysia karena akan melakukan pencurian dan melawan saat ditangkap.

"Alasan mencuri dan melawan saat ditangkap sebagaimana yang dilansir Malaysia perlu diselidiki. Benar atau tidak mereka mencuri dan melawan saat ditangkap," kata Ifdhal Kasim, di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (27/4).

Guna menguji benar atau tidaknya alasan Pemerintahan Malaysia tersebut, menurut Ifdhal, pihaknya sudah menggandeng Komnas HAM Malaysia untuk mendalaminya.

Termasuk keputusan sepihak rumah sakit Port Dickson di Malaysia yang melakukan otopsi tanpa berkoordinasi dengan perwakilan Pemerintah RI di Malaysia atau dengan pihak keluarga.

"Jadi ada tiga hal penting yang pantas untuk ditelusuri dalam rangka mencari kebenaran yakni tuduhan mencuri, melawan dan melakukan otopsi secara sepihak," tegas Ifdhal Kasim.

Wajar kalau otopsi sepihak yang dilakukan rumah sakit Port Dickson lanjut dia, menjadi kontroversial karena diduga kuat diboncengi oleh praktek pencurian organ tubuh untuk diperdagangkan secara ilegal.

Terakhir Ifdhal Kasim menawarkan DPR untuk secara bersama-sama menginvestigasi kejadian tersebut secara sistematis.

"Komnas HAM RI sudah menggandeng Komnas HAM Malaysia. Tim ini tentu akan lebih efektif kalau ada diantara anggota DPR RI ikut bergabung," harapnya.

Sebelumnya, tiga TKI tewas ditembak Polisi Diraja Malaysia di Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Mereka adalah Herman (34) dan Abdul Kadir (25) asal Dusun Pancor Kopong, Desa Pringgasela Selatan, Pringgasela, Lombok Timur, serta Mad Noor (28) yang beralamat di Dusun Gubuk Timur, Desa Pengadangan, Pringgasela, Lombok Timur. (fas/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar