Senin, 24 November 2014 | 02:57:15
Home / Ekonomi / Harga Minyak Melandai

Kamis, 03 Mei 2012 , 04:00:00

JAKARTA - Kekhawatiran terus merangkak naiknya harga minyak kini mulai memudar. Pasalnya, sepanjang April lalu, harga minyak Indonesia (Indonesia Crude price/ICP) maupun harga minyak di pasar internasional kian melandai.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo mengatakan, Tim Harga Minyak Indonesia mencatat sepanjang April lalu rata-rata harga ICP sebesar USD 124,63 per barel. "Artinya, turun dibandingkan harga Maret yang sebesar USD 128,14 per barel," ujarnya, Rabu (2/5).

Menurut Evita, penurunan harga minyak sejalan dengan harga minyak mentah utama di pasar internasional. Beberapa faktor penyebabnya adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sedikit mereda. Ini setelah Iran bersepakat dengan negara-negara Barat untuk melakukan perundingan lanjutan pada bulan Mei terkait isu nuklir.

Selain itu, lanjut dia, Arab Saudi juga terus meningkatkan produksi minyak mentah untuk menahan peningkatan harga minyak dunia. Saat ini, produksi Arab Saudi mencapai hingga 10 juta barel per hari. "Itu berarti naik 1,1 juta barel per hari dibandingkan produksi bulan yang sama tahun sebelumnya," katanya.

Evita menyebut, pelemahan ekonomi dunia juga menjadi faktor yang mempengaruhi turunnya proyeksi konsumsi minyak dunia. Misalnya, publikasi International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2012 sebesar 3,5 persen atau turun 0,4 persen dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2011.

Akibatnya, International Energy Agency (IEA) memangkas proyeksi konsumsi minyak dunia menjadi sebesar 88,81 juta barel per hari atau turun sekitar 150 ribu barel per hari. "Di sisi lain, stok minyak mentah di AS juga naik," ujarnya.

Pergerakan harga minyak layak dicermati karena bisa membawa implikasi besar bagi Indonesia. Sebagaimana diketahui, APBNP 2012 masih membuka opsi kenaikan harga BBM subsidi. Syaratnya, harga minyak mengalami selisih rata-rata 15 persen dari asumsi USD 105 per barel dalam kurun waktu 6 bulan.

Karena itu, sempat muncul kekhawatiran jika April lalu harga ICP naik hingga USD 134,64 per barel, maka harga BBM subsidi bisa naik. Namun, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, dengan kondisi harga minyak yang tidak mengalami lonjakan signifikan, maka sulit untuk menuju skenario kenaikan harga BBM. "Kecuali kalau perang (di Timur Tengah), harga minyak bisa USD 150 per barel," jelasnya. (owi)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar