Sabtu, 20 Desember 2014 | 22:06:56
Home / Politik / Pilpres / Pilih Djoko Dibanding JK

Selasa, 08 Mei 2012 , 04:28:00

JAKARTA -  Betulkah Partai Demokrat serius membuka pintu capres bagi Jusuf Kalla? Pertanyaan ini masih menggantung karena di internal Demokrat sendiri  beda suara menanggapi pernyataan yang pertama kali dilontarkan Max Sopacua itu. Pengamat menilai, isu JK oleh Demokrat ini hanya untuk mengurangi dominasi isu pencapresan Ical. Terbukti, nama JK hanya diwacanakan individu-individu dalam partai, tapi di tingkat elit, belum tentu.

Pengamat politik Point Indonesia, Karel Harto Susteyo mengungkapkan, tidak mungkin Demokrat akan dengan senang hati dan mudahnya mencalonkan seorang kader Golkar. Meskipun yang dicalonkan adalah seorang JK yang popularitas dan elektabilitasnya diatas rata-rata, mereka justru akan lebih memilih mencalonkan kader internal yang memang pilihan SBY.

“Ada kesan nama JK ini dimainkan oleh Demokrat hanya untuk mengimbangi isu intrik pencapresan Ical dari Golkar yang seolah-olah menuai hambatan dari internalanya. Padahal ujung-ujungnya nanti Ical juga yang dimajukan. Kenapa dipilih JK, karena nama itulah yang popularitasnya melebihi capres Golkar lainnya,” ujar Karel kepada INDOPOS (JPNN Group), Senin (7/5).

Karel menjelaskan, Demokrat akan bisa dipastikan melirik kadernya sendiri seperti, Djoko Suyanto, yang dianggap bisa menyaingi popularitas figur yang disebut-sebut untuk maju, seperti Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, serta Prabowo Subianto. Nama Jusuf Kalla sendiri menurut Haryadi, memang sangat populer sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), namun, kegagalan dalam pemilihan presiden 2009 lalu menjadi salah satu pertimbangan elite Partai Demokrat.

“Demokrat hanya melakukan komunikasi politik sopan santun saja terhadap JK, dalam hal pencalonan presiden 2014. Pencalonan JK, belum merupakan keputusan resmi PD. Saya lebih melihat itu komunikasi tidak serius, itu keputusan orang per orang yang di sana-sini lebih banyak sopan santunnya,” katanya.

”Ya selain itu, minimal ada pemberitaan capres Demokrat ditengah dominasi berita Demokrat soal Angie ditahan KPK,” tambahnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Bandar Lampung (Unila) Ariska Warganegara mengatakan, wacana pengusungan Jusuf Kalla (JK) sebagai calon presiden sangat strategis bagi Partai Demokrat. 

“Kalau Demokrat mau berpikir survival kekuasaan setelah SBY, maka figur paling memungkinkan memang JK. Sebab dari sisi popularitas, JK adalah tiga besar dalam hal survei-survei selain Megawati dan Prabowo. Nah kalau Mega sudah PDIP dan Prabowo sudah Gerindra, jadi Demokrat tepat memilih JK,” katanya saat dihubungi.

Dia menambahkan, pilihan pada JK tentu sangat realisis bagi Partai Demokrat jika melihat krisis figur yang dialami hampir semua partai. Demokrat juga sulit memunculkan figur baru yang belum teruji kemampuan kepemimpinannya, maupun elektabilitasnya ketika pemilu. Lebih dari itu, terang dia, JK adalah sosok yang relatif dapat diterima dan bisa merangkul semua kalangan.

“Makanya memunculkan nama JK bagi Partai Demokrtat sangat strategis. Tinggal nanti cari saja pasangan wakilnya dari internal Demokrat. Dari sisi politik pun ini bisa menguntungkan bagi Demokrat. Sebab kekuatan JK ada di mana-mana, tak hanya bertumpu di Golkar,” terangnya.

Ariska memprediksi suara Partai Golkar bisa pecah jika kelak JK benar-benar diusung Partai Demokrat. Faksi-faksi di Golkar makin meruncing dan banyak, terutama dari kalangan yang bukan pendukung Ical. “Golkar memang akan semakin pecah jika sistem pencalonan Ical dipaksakan, dan JK kemudian dipinang Partai Demokrat. Ini akan jadi pertaruhan besar bagi Golkar,” tegasnya.

Sementara itu, Partai Demokrat melalui Marzukie Alie menepis isu akan mencalonkan JK sebagai capres pada 2014. "Tidak usahlah dengarkan yang lain bicara. Isu yang berkembang terkait hal tersebut selama ini tidak benar," kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Marzuki Alie, usai acara sarasehan yang bertajuk "Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia" di Universitas Indonesia (UI), Depok.

Menurut Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini, isu tersebut belum pernah dibicarakan oleh internal di tingkat Majelis Tinggi Partai Demokrat. "Belanda masih jauh. Belum ada pembahasan mengenai calon presiden," ujarnya.

Dia menjelaskan, belum ada omongan di majelis tinggi yang diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono mengenai pencalonan presiden. Pilpres masih lama. Nanti ada waktunya untuk membahas masalah calon presiden. "Pelan-pelanlah hingga saat ini majelis tinggi belum bersidang," katanya.

Lebih lanjut Marzuki Alie yang juga menjabat sebagai ketua DPR menyatakan hingga kini pihaknya belum berkomunikasi apapun dengan JK maupun Partai Golkar. Menurutnya, hanya Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang berhak mengumumkan masalah tersebut. (dms)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar