Sabtu, 20 Desember 2014 | 18:33:18
Home / Pendidikan / Belum Terendus Praktek Sontek Masal

Selasa, 08 Mei 2012 , 07:04:00

Siswa SDN Inpres Salena Palu Barat Kota Palu Sulawesi Tengah, hanya mengenakan sandal, saat mengikuti Ujian Nasional tingkat SD yang dimulakan Senin kemarin (7/5). Foto: M TOFAN/RADAR SULTENG/JPNN
Siswa SDN Inpres Salena Palu Barat Kota Palu Sulawesi Tengah, hanya mengenakan sandal, saat mengikuti Ujian Nasional tingkat SD yang dimulakan Senin kemarin (7/5). Foto: M TOFAN/RADAR SULTENG/JPNN
JAKARTA - Kehebohan isu bocoran soal di ujian nasional (Unas) SMA dan SMP tidak menular di unas SD/sederajat. Setidaknya dalam laporan jajaran Direktorat Pembinaan SD Ditjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdas Kemendikbud) menyebutkan tidak ada kasus atau laporan menonjol dalam unas SD hari pertama kemarin (7/5).

Kabar unas SD yang cenderung berjalan normal dan lancar itu disampaikan Direktur Pembinaan SD Ditjen Dikdas Kemendikbud Ibrahim Bafadal. Usai memantau pelaksanaan Unas SD di kawasan Kota Solo, Jawa Tengah, Bafadal menuturkan unas SD berjalan lancar. "Tapi tetap ada catatan-catatan kekurangan. Tapi kecil sekali,"  kata dia.

Diantara catatan kekurangan itu terjadi di Kota Solo yang dia pantau langsung. Di kota yang baru saja terjadi bentrokan penduduk itu, Bafadal mengatakan ada hal-hal kecil yang sempat mengganggu pelaksanaan unas. Diantaranya adalah, lampiran lembar soal yang lengket. "Untunya saat dibuka tidak merusah tulisan pertanyaan," kata dia.

Kekurangan lainnya adalah ada siswa yang tidak mendapatkan lembar jawaban komputer (LJK). Tetapi karena lokasi ujian tidak jauh dari UPTD dinas pendidikan, maka langsung bisa dicarikan stok LJK cadangan. Ada juga naskah soal yang sobek-sobek. Untungnya yang sobek adalah bagian pojok bawah. Sehingga tulisan soal masih bisa dibaca siswa.

Bafadal mengatakan, kelemahan ini harus menjadi evaluasi pemprov untuk proses tender percetakan. Dia mengatakan, sistem percetakan unas SD berbeda dengan unas SMP atau SMA. Jika di unas SMA dan SMP percetakan diambil alih oleh Kemendikbud. Sedangkan percetakan unas SD dipasrahkan ke pemprov. Kasus naskah soal yang rusak ini juga harus dikoreksi daerah-daerah lain. Seperti di Bandung, Gorontalo, dan Bone.

Bafadal juga mengatakan, pada hari pertama unas SD yang diikuti 4.647.269 siswa hampir bisa dipastikan berjalan serentak. Sebab sampai sore kemarin dia belum menerima adanya laporan gangguan yang membuat unas SD hari pertama ditunda. Dia mengatakan, jajarannya sudah diterjunkan ke 33 provinsi. Rata-rata satu provinsi dipantau 2-3 orang dari Kemendikbud.

Sementara untuk urusan sontek massal atau isu bocoran soal, Bafadal mengatakan belum menerima laporan. "Mudah-mudahan sampai ujian selesai tidak ada kasus-kasus seperti itu," kata dia. Bafadal berharap kasus sontek massal seperti di SD Gadel, Surabaya tahun lalu tidak terulang lagi tahun ini.

Terkait urusan kelulusan, Bafadal tetap berharap 4 juta lebih peserta unas SD lulus semua. Dia meminta seluruh peserta dan guru mendukung kejujuran dalam mengikuti unas. Dia berharap, unas ini bisa menjadi bagian dari pembelajaran pendidikan karakter.

Bafadal sampai saat ini belum mengantongi hasil rekapitulasi kelulusan unas SD tahun lalu. Dengan demikian, dia masih belum bisa memastikan seluruh peserta unas SD tahun ini lulus semuanya. "Intinya, jika tidak lulus maka tidak sejalan dengan program wajib belajar Sembilan tahun," katanya.

Pengolahan kelulusan ini sendiri dilakukan oleh pemda dan satuan pendidikan. Soal yang disajikan ke siswa dibagi menjadi dua. Sebanyak 25 persen soal adalah buatan pemerintah pusat. Sedangkan 75 persen sisanya dibuat oleh pemda. Walaupun kisi-kisi 75 persen soal tadi ditetapkan oleh pemerintah pusat. (wan)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
 

        此页面上的内容需要较新版本的 Adobe Flash Player。

        获取 Adobe Flash Player