Sabtu, 26 Juli 2014 | 20:12:12
Home / Internasional / Eropa / Hollande Janji Akhiri Xenofobia di Prancis

Selasa, 08 Mei 2012 , 10:01:00

Francois Hollande.

Foto : The Telegraph
Francois Hollande. Foto : The Telegraph
BERITA TERKAIT

PARIS - Segunung pekerjaan rumah menunggu Francois Hollande yang sukses menundukkan Nicolas Sarkozy dalam pemilihan presiden Prancis putaran kedua kemarin WIB. Mulai utang menumpuk di tengah perekonomian yang mencekik, jumlah pengangguran yang mencapai rekor, defisit perdagangan, hingga industri yang tengah lesu.
   
Tapi, yang tak kalah krusial dari semua perkara ekonomi itu adalah soal toleransi. Dalam pidato di kampung halamannya di Tulle pada Minggu malam (6/5) waktu setempat, yang kemudian dilanjutkan di Place de la Bastille Senin dini hari (7/5), pria kelahiran 12 Agustus 1954 itu menjanjikan Prancis baru yang tak lagi retak, terpecah, dan terkoyak oleh diskriminasi.  "Tak akan ada lagi anak republik yang disia-siakan," tegas pemimpin Partai Sosialis itu seperti dikutip The Guardian, Senin (7/5).

Di tengah perpolitikan Eropa yang kian bergerak ke "kanan" (baca: konservatif, ultranasionalis), janji presiden "kiri" pertama Prancis sejak Francois Mitterand terpilih untuk kali kedua pada 1988 itu sungguh menyegarkan. Sebab, sebelumnya muncul kekhawatiran, kalau incumbent Nicolas Sarkozy yang terpilih, Prancis bakal tercabik-cabik oleh perkara diskriminasi, intoleransi, dan xenofobia (kebencian kepada ras lain, Red).
   
Dalam rangka menarik dukungan kaum ultranasionalis yang mendukung Ketua Front Nasional Marine Le Pen pada putaran pertama, selama kampanye menjelang putaran kedua, Sarkozy memang banyak menyoroti masalah imigran, perbatasan, dan kekhawatiran akan Islam.
   
Namun, rupanya jualan Sarkozy itu tak terlalu laku. Seperti dilansir BBC, fenomena yang justru merebak adalah "asal bukan Sarkozy." Sebab, incumbent presiden Prancis pertama yang kalah saat mencalonkan kembali sejak 1981 itu dianggap gagal memimpin negeri berpenduduk 65,8 juta jiwa tersebut. Dari jumlah itu, 19 persen di antaranya (hampir 12 juta jiwa) merupakan imigran atau keturunan imigran tersebut.
   
Apalagi, Le Pen yang berada di posisi ketiga pada putaran pertama memilih netral pada putaran kedua. Di sisi lain, Hollande yang dicalonkan sebagai presiden setelah jagoan Partai Sosialis sebelumnya, bos IMF Dominic Strauss-Kahn tersandung skandal seks, juga dengan cerdik tidak frontal menyerang visi kalangan kanan.

Itu yang membuatnya mampu menjaga kemenangan putaran pertama di putaran kedua, meski marginnya tak jauh berbeda. Pada putaran I Hollande menang dengan perbedaan tidak sampai 3 persen. Pada putaran II ayah empat anak yang dijuluki "Mr Normal" karena pembawaannya yang tenang tersebut menang dengan selisih 3,2 persen.
   
Persisnya, Hollande meraup 18.000.438 suara atau 51,62%. Sedangkan Sarkozy yang merupakan ketua partai beraliran tengah-kanan, gabungan untuk pergerakan populer, mengantongi 48,38% atau 16.869.371 suara. Jumlah pemilik hak suara yang datang ke bilik-bilik pemilihan mencapai 80,34 persen.
   
"Saya bertanggung jawab atas kekalahan," kata Sarkozy di hadapan para pendukung setelah dipastikan kalah, seperti dikutip The Guardian. "Saya sudah menelepon Hollande untuk mengucapkan selamat," ujarnya.
   
Suami mantan model dan penyanyi Carla Bruni itu berharap penggantinya yang mulai bekerja pada 15 Mei mendatang itu bisa mengatasi berbagai tantangan yang dihadapinya. "Setelah 35 tahun berkecimpung di politik dan 10 tahun di antaranya menduduki jabatan penting di pemerintahan, kini saatnya bagi saya untuk menjadi warga Prancis biasa yang hidup di antara warga Prancis lainnya," kata pria 57 tahun itu.
   
Seperti halnya Sarkozy, kehidupan pribadi Hollande juga bakal potensial menjadi sorotan. Bukan karena dia menikahi seorang pesohor seperti Bruni. Dia bahkan tidak pernah menikah selama hidupnya.
   
Dia dikaruniai empat anak hasil hubungan tanpa nikah lebih dari 30 tahun dengan Segolene Royal, mantan ketua Partai Sosialis, yang kalah dari Sarkozy pada pemilihan presiden 2007. Sebulan setelah kekalahan itu, tepatnya Juni 2007, hubungan Hollande-Royal berakhir seiring naiknya Hollande menjadi ketua Partai Sosialis.
   
Beberapa bulan berselang, terungkap ke publik kalau Hollande sudah memiliki pasangan "kumpul kebo" lagi, yakni jurnalis Valerie Trierweiler, janda tiga anak. Mantan pemandu sebuah acara bincang-bincang politik di televisi itulah yang akan menemani hari-hari Hollande sebagai presiden Prancis, tanpa ikatan nikah. (ttg)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar