Jumat, 31 Oktober 2014 | 15:24:05
Home / Berita Daerah / Maluku Utara / Banjir di Ternate, 4 Tewas, 10 Warga Hilang

Jumat, 11 Mei 2012 , 00:51:00

BERITA TERKAIT

TERNATE - Hujan yang mengguyur Kota Ternate sejak Selasa (8/5) malam, hingga Rabu (9/5) dini hari  kemarin,  kembali membawa petaka. Banjir lahar dingin yang menerjang sejumlah wilayah di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara menelan korban jiwa.
   
Dilaporkan, empat orang meninggal dunia dan 10 orang dinyatakan hilang.  Sementara sedikitnya, 188 rumah warga rusak akibat banjir yang terjadi sekitar pukul 02.00 WIT dini hari, Kamis (10/5).
    
Selain korban meninggal dan rumah rusak, data sementara dari Posko Pengendali Bencana Alam di Aula Kantor Wali Kota juga menyebutkan, 54 kepala keluarga (KK) atau 284 jiwa terpaksa mengungsi di dua titik camp pengungsian yang dibuka pemkot Ternate, yaitu di Gedung eks Kantor Gubernur dan  Aula SMK 2 Dufa Dufa. 

Sebagian warga juga mengungsi di mes Persiter dan Kantor Lurah Takoma. Jumlah pengungsi ini, tentu di luar warga yang memilih mengungsi ke kerabat atau kenalan mereka. di Takoma, Jalan Sultan Djahir  misalnya, sejumlah warga dari asrama Lanal AL, Dufa Dufa sempat datang mengungsi di mess TNI AL, Takoma.  Sementara 15 orang menderita cedera dan terpaksa dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Boesoirie.

Bencana ini termasuk terparah setelah peristiwa banjir lahar dingin yang terjadi pada Desember 2011 lalu. Banjir yang membawa sisa material vulkanik Gunung Api Gamalama bercampur kayu-kayu pepohonan dari gunung itu, mengalir lewat bantaran- bantara sungai dan merusak sejumlah fasilitas.  Sedikitnya, 9 kelurahan diterjang banjir, yakni Kelurahan Tubo, Dufa Dufa, Takoma, Salahudin, Marikurubu,  Maliaro,  Kampung Pisang,  Kota Baru 10 rumah dan Toboko 26 rumah. Dari sisi kerusakan, yang kelurahan  terparah, adalah Dufa-Dufa, Tanah Tinggi, Toboko, dan Maliaro. 

Selain rumah warga, air bah juga menghayutkan dua jebatan, yakni Jembatan Daulasi, Akehuda dan  jembatan Tongole.
Sementara empat jembatan lainnya rusak, yakni dua jembatan di Maliaro dan dua masing-masing di Toboko dari Marikuribu.  Posko Pengendali Bencana Alam di Aula Kantor Wali Kota menyebutkan  empat korban meninggal, yakni Wildawani Djohar (26) warga Maliaro, Raihan Sangaji (9) warga Maliaro, Gairil Kemhai, Dufa Dufa serta satu korban belum teridentifikasi karena hanya paha dan kaki kirinya yang ditemukan. Posko juga menyebutkan 10 korban masih dinyatakan hilang. Proses pencairan terus dilakukan.   

Dari 10 korban hilang itu, baru 4 korban yang teridentifikasi sebagai satu anggota keluarga asal Dufa-Dufa. Yakni, Raul (10) Masita Mustafa (30), Yanti (25) dab  Din (23). Sebelumnya, satu keluarga yang hilang dilaporkan berjumlah 6 orang. Namun dua anggota keluarga itu, yakni Najwa (7 Bulan) dan Habila (5) akhirnya ditemukan pukul 08.00 Wit dan dilarikan RUSD Chasan Boesoirie.

Selain itu, tercatat 15 korban mengalami luka berat dan masih dirawat di RSUD Chasan Boesoirie Sementara rincian rumah rusak meliputi 15 rumah hanyut tersapu air bah (rusak total), 103 rumah rusak ringan dan 70 rumah rusak berat. Rumah yang rusak tersebut terletak di Kelurahan Tubo 3 rumah, Dufa-Dufa 23 rumah, Tanah Tinggi 90 rumah, Takoma 12 rumah, Salahudin 9 rumah, Marikurubu 7 rumah, Maliaro 50 rumah, Kampung Pisang 4 rumah, Kota Baru 10 rumah  dan Toboko 26 rumah. (mg-01/wt-02/fai)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar