Sabtu, 22 November 2014 | 09:54:14
Home / Nasional / Humaniora / Saksi Mata: Pesawat Limbung Sebelum Jatuh

Jumat, 11 Mei 2012 , 08:58:00

BOGOR-Sarjo (25) mendadak kehilangan jarak pandang akibat kabut tebal pada pukul 13:15, Rabu (9/5). Mandor di pembangunan kandang sapi 5, Balai Embrio Ternak, Cipelang, Cijeruk, Kabupaten Bogor, itu hanya mampu melihat hingga jarak lima meter. Dia bahkan tak bisa memantau 20 anak buahnya yang sedang bekerja. "Siang itu kabutnya tebal sekali. Saya hanya bisa mendengar pukulan palu anak buah saya yang sedang bekerja," ujar pria berlogat Jawa itu.

Meski kondisinya berkabut, Sarjo bergeming untuk tetap bekerja. Dia tidak memerintahkan anak buahnya mengurangi tensi pukulan palu. Kurang lebih satu jam berselang, kabut semakin memekat. Namun kali ini nampak aneh. Sesekali hidung pria asal Pekalongan ini mencium bau seperti bahan bakar. "Tapi samar. Kadang ketika angin berhembus, bau itu kuat," tuturnya kepada Radar Bogor (Grup JPNN), kemarin.

Sekonyong-konyong anak buah Sarjo, Yanto (28), menghampirinya. Pemuda berkulit legam itu mengaku mendengar suara tumbukan. "Dia dengar tapi saya tidak. Saat itu Yanto memang sedang mengambil kayu di atas (300 meter dari lokasi pembangunan) untuk dibakar," kata Sarjo diamini Yanto.

Suara tumbukan keras itu berasal dari punggung Gunung, belakang lokasi pembangunan, tepatnya di blok Curug, dengan ketinggiannya sekitar 2.080 meter di atas permukaan laut.

Titik itu merupakan lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100. Pesawat penumpang dengan mesin ganda buatan negeri Rusia itu sempoyongan dilahap kabut Gunung Salak.

Masih menjadi misteri, mengapa pesawat yang dikemudikan Alexander Yanblonstave, eks pilot pesawat luar angkasa itu mendadak limbung menurun hingga ketinggian 6.000 kaki. Padahal, ketinggian gunung salak mencapai 7.000 kaki (2100 meter).

Polisi Hutan TNGHS, Arsa, mengaku sempat melihat Sukhoi itu limbung sebelum bermanuver dan jatuh. "Tidak ada suara keras. Suara turbolancenya justru yang lebih terdengar," tuturnya.

SAR Mission Coordinator, Ketut Parwa juga mengaku tak habis pikir, mengapa pesawat canggih dengan pilot kelas wahid bisa menjadi tumbal teranyar Gunung Salak. Cuaca memang sangat ekstrem ketika ´burung besi´ ini melintasi gunung strato tua tersebut.
Geotermal menggumpal menjadi sebuah awan panas, lantaran anomali suhu secara ekstrem.

Saat pesawat terbang dari Halim, suhu di Gunung Salak, stabil di angka 23 derajat celsius. Tapi, ketika Sukhoi terbang mendekati Gunung Salak, suhu meningkat hingga 30 derajat. Tak ayal, Sukhoi menjadi bulan-bulanan. "Saya tidak mau berspekulasi. Karena ini pesawat baru. Tapi salak memang tak bisa ditebak," sambung Ketut.

Lepas dari kesaksian itu, seharian kemarin, ratusan tim SAR, Brimob, TNI, sukarelawan dan wartawan terus memadati Lapang Balai Embrio, untuk menunggu evakuasi 45 korban. Ratusan sapi di kandang terganggu dengan kegaduhan aktivitas ratusan orang itu. Mereka tampak stres dengan terus bersuara di kandangnya.

Arsa pun berkelakar. Menurutnya, joy flight shorty sukhoi itu telah menggangu tidurnya Gunung Salak. "Sapi saja stres kalau situasinya terlalu ramai. Mungkin suara Sukhoi lebih bising dari helikopter yang biasa lewat Salak. Jadi si Sukhoi dipukul jatuh," candanya.(gar/*)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar