Minggu, 20 April 2014 | 07:42:57
Home / Nasional / Humaniora / Celaka karena Sabotase?

Sabtu, 12 Mei 2012 , 07:47:00

RELATED NEWS

JAKARTA - Spekulasi soal penyebab celakanya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jabar terus berkembang. Otoritas resmi seperti Komite Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKT) berjanji akan mengumumkan secara resmi jika hasil investigasi sudah tuntas. "Kami minta semua spekulasi dihentikan dulu sampai blackbox bisa dianalisa," kata Tatang Kurniadi dari KNKT.

Pengamat intelijen bisnis Wawan H Purwanto menyebutkan, dugaan sabotase bisnis dimungkinkan. "Secara fakta, tiap maskapai memang saling bersaing. Tapi, apakah Sukhoi ini benar jatuh karena sabotase, itu harus berdasar investigasi," katanya di Jakarta kemarin.

Wawan yang juga dosen tamu Sekolah Tinggi Intelijen Negara itu menjelaskan, asumsi sabotase bisnis harus dibuktikan secara ilmiah. Misalnya dengan menunggu hasil investigasi blackbox. "Nanti akan jelas penyebab pesawat jatuh apa, lalu dicroscek dengan fakta-fakta penumpang dan pilot di pesawat," katanya.

Persaingan bisnis penerbangan di Indonesia cukup sengit. Banyaknya maskapai penerbangan di Indonesia juga memaksa mereka untuk perang tarif dan pelayanan. Namun, karena persaingan itu, mereka terkadang mengabaikan keselamatan penumpang.

Kini, muncul produk baru bernama Sukhoi Superjet (SJJ-100) hasil produksi negara Rusia. Dengan teknologi yang tak kalah mutakhir, demikian klaim dari perusahaan Sukhoi, beberapa maskapai di dunia pun membelinya, termasuk beberapa maskapai di Indonesia.

Untuk menyaingi kompetitornya, Sukhoi yang diproduksi oleh pabrik pesawat militer di Rusia ini menawarkan pesawat dengan konsep hemat bahan bakar dan fitur-fitur mewah di interior pesawat yang berbeda dengan pesawat lain.

Anggota Komisi V DPR Arwani Thomafi meminta Kementrian Perhubungan bergerak cepat dan transparan mengusut tuntas kasus ini. "Kelayakan bisnis harus disandingkan dengan terpenuhinya aspek keselamatan penerbangan. Yang terpenting keselamatan," katanya.

Politisi PPP ini juga berharap semua pihak menahan diri dari analisis-analisis yang tidak berdasar fakta akurat. "Agar tidak berkembang, blackbox harus segera ditemukan dan diinvestigasi secara menyeluruh," katanya.

Wartawan dari Rusia yang standby di Halim Perdanakusuma bahkan mengembangkan dugaan kecelakaan ini karena aksi terorisme. "Mungkinkah ini karena pembajakan atau aksi terorisme," tanya  wartawan dari kantor berita Ria Novosti pada Menhub EE Mangindaan. Ditanya seperti itu, Menhub jelas membantah. "Kami belum sampai ke arah sana, sekarang baru tahap evakuasi," katanya.

Bantahan juga disampaikan  President United Aircraft Company Mikhael Pogosyan yang mewakili pihak Sukhoi. "Dugaan terorisme atau sabotase itu spekulatif sekali. Kita harus menunggu hasil analisa mendalam," katanya dengan bahasa Rusia yang diterjemahkan.

Menurut Pogosyan, hasil tes terakhir Sukhoi Superjet 100 itu sangat bagus. "Musibah ini kami sesalkan dan menjadi bahan evaluasi yang sangat penting bagi dunia industri penerbangan Rusia," katanya.

Analisis lain datang dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). "Data Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) menunjukkan sekitar waktu kejadian, awan di sekitar Gunung Salak tampak sangat rapat dengan liputan awan lebih dari 70 persen," ujar Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lapan Thomas Djamaluddin dalam pernyataan persnya pada redaksi.

Menurut Thomas, analisis indeks konveksi menggambarkan ketinggian awan juga menunjukkan adanya awan jenis Cb alias Cumulo Nimbus yang menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki atau 11,1 km. "Data satelit itu memberi gambaran bahwa saat kejadian, pesawat dikepung awan tebal yang menjulang tinggi," katanya.

Jika dilogikakan dengan sederhana, maka pilot akan berupaya mencari jalan keluar dari kepungan awan itu dengan cara teraman. Kemungkinan pilot berpikir dari jarak 10.00 kaki harus terbang melebihi 37 ribu kaki mungkin terlalu tinggi. Karena itu pilihannya terbang ke kanan, kiri, atau ke bawah.

Kepala Basarnas Marsdya Daryatmo menolak mengomentari semua analisis itu. "Kami tidak berwenang, itu di KNKT. Kami fokus evakuasi secepatnya," katanya.(rdl/dyn)

Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 06.04.2014,
        22:50
        best money here
        cwxX9D Wow, great blog post.Much thanks again. Want more. From mobile