Sabtu, 25 Mei 2013 | 22:21:58
Home / Dahlan Iskan / Tekad Baru: Hidup yang Polos-Polos Saja

Senin, 04 Juni 2012 , 00:48:00

RELATED NEWS

SAYA tidak menyangka persoalan seperti utang negara, impor garam, dan sulitnya swasembada gula sudah menjadi bisik-bisik tetangga di desa. Padahal, desa ini berada di lereng Gunung Ciremai nun di Kabupaten Kuningan, Jabar. Saya beruntung Jumat malam lalu bisa bermalam di Desa Bunigeulis dan berdialog dengan ratusan penduduk setempat.
 
Mengapa penduduk desa sampai gelisah dan pusing memikirkan utang negara? Bahkan impor garam? Ternyata ada virus yang menjalar cepat: virus informasi setengah matang. Mereka hanya tahu sepotong tentang utang negara: jumlahnya yang meningkat.
 
Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya: baik mana, Anda punya utang Rp 8 juta tapi kekayaan Anda Rp 10 juta atau Anda punya utang Rp 20 juta tapi kekayaan Anda Rp 100 juta.

Benar bahwa utang itu meningkat, tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah yang tidak pernah sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai, mungkin juga sengaja disembunyikan.

Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya seorang humoris. Dengan nada bergurau dia menjawab, lebih baik kekayaannya meningkat, tapi tidak punya utang!  Ini mah mirip khotbah Jumat yang pernah saya dengar: semua orang itu inginnya serbaenak. Waktu kecil dimanja, waktu remaja foya-foya, waktu muda kaya raya, waktu tua sehat bahagia, waktu meninggal masuk sorga!
 
Dari dialog di desa malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat dengan penularan pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis, keluh kesah, dan sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya, mengingat hope adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa.
 
Di sini hope menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme cukup hanya dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedangkan membangun hope harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan. Masyarakat yang ada dalam "kuldesak" yang terlalu lama hanya akan membuat virus anti kemajuan merajalela.
 
Serbuan virus hopeless dari kota inilah yang kini harus dilawan di desa-desa dengan bukti nyata. Karena itu, Bulog, Sang Hyang Sri, Pertani, Pupuk Indonesia, PT Garam, pabrik-pabrik gula, perhutani, dan banyak BUMN lainnya tahun ini harus bekerja all-out di lapangan.
 
Bulog, dengan pasukan semutnya, ternyata bisa. Dalam lima bulan ini saja Bulog sudah berhasil menghimpun 2 juta ton beras! Prestasi yang sangat membanggakan. Kerja lima bulan ini sudah sama dengan hasil pengadaan beras selama dua tahun (2010-2011).
 
Memang melelahkan. Tapi, itulah harga yang harus dibayar untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Memang harus muter terus -saya lihat sampai-sampai Dirut Bulog Sutarto Alimoeso kini ganti sepatu kets-  tapi dengan hasil yang begitu nyata akan menambah kepercayaan diri kita.
 
Memulai kerja keras memang sangat berat. Tapi, kalau sudah terbiasa bekerja keras, semua pekerjaan akan menjadi mudah.
 
Dalam dua minggu ini saya juga sudah berkeliling 14 pabrik gula di tiga provinsi. Sudah pula tampak perubahan: bukan saja pocong-pocong sudah bermetamorfosis menjadi "Ayu-ayu Azhari", tapi gigitannya pun sudah berotot. Semua pabrik gula sudah mampu meningkatkan rendemen awal. Semua pabrik gula juga sudah berani memberikan jaminan rendemen minimal kepada petani.
 
Hebatnya lagi, semua pabrik gula juga sudah berani memberikan uang jaminan kepada petani tebu. Selama ini petani tebu terjerat oleh pedagang gula. Ini bukan salah si pedagang, tapi karena pabrik gula sendiri yang tidak berdaya: baru bisa membayar sebulan setelah petani menyerahkan tebunya.
 
Sebaliknya pabrik-pabrik gula kini juga sudah berani menerapkan prinsip BSM kepada petani tebu: bersih, segar, manis. Tebu yang dikirim ke pabrik haruslah tebu yang bersih. Tidak tercampur pucuk-pucuknya, tanah-tanahnya, dan anakan-anakannya. Tebu itu juga tebu yang segar, yang fresh from the field.
 
Dan yang paling penting, tebu yang dikirim ke pabrik adalah tebu yang sudah cukup manisnya. Jangan menebang tebu sebelum dipastikan (diperiksa dengan alat pengukur) bahwa tebu tersebut sudah matang kadar gulanya.
 
Saya melihat semangat yang tinggi di semua manajer dan karyawan pabrik gula yang sudah saya kunjungi. Juga semangat untuk "polos-polos saja". Semula dahi saya mengerut ketika mendengar istilah "polos-polos saja" itu. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Ternyata itulah tekad baru untuk tidak mempermainkan angka. Angka rendemen, angka timbangan, angka pupuk, angka tanam, angka angkutan, dan angka-angka yang menggoda lainnya.
 
Saya paham, membiasakan diri untuk "polos-polos saja" juga sangat berat awalnya. Tapi, kalau sudah terbiasa, hidup ini akan dimudahkan jalannya.
 
Sang Hyang Sri, Pertani, dan Pupuk Indonesia (Pupuk Sriwijaya, Petrokimia Gresik, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Kujang) juga bisa menjadi motor besar untuk menggerakkan hope di seantero desa: mendekatkan benih unggul, pupuk, dan pembasmi hama ke desa-desa. Puluhan ribu kios harus di bangun. Di mana-mana.
 
Jangan sampai petani kesulitan mencari pupuk yang akhirnya mendapat pupuk palsu. Sulit mencari benih unggul yang akhirnya menanam padi seadanya. Program mendekatkan benih-pupuk ke desa-desa memang akan memakan waktu, tapi harus istiqamah jalannya.
 
Garam pun sebenarnya juga penuh dengan hope. Terutama untuk garam yang dimakan manusia. (Sebagian besar garam diperlukan oleh pabrik kertas!). Sebetulnya, kalau hanya untuk manusia Indonesia, keperluan garamnya tidak banyak: 1,4 juta ton per tahun. Kita lebih menyukai yang manis-manis daripada yang asin-asin.
 
Saya berterima kasih bahwa Menteri Perindustrian, Bapak M.S. Hidayat, menemukan cara baru: membranisasi ladang garam. Begitu pentingnya program membranisasi ini sehingga saya usul ke Pak Hidayat penyertaan modal negara (PMN) untuk berbagai industri dikurangi saja. Lebih baik dikonsentrasikan untuk menolong jutaan petani garam di seluruh Indonesia. Triliun rupiah PMN untuk Merpati, misalnya, hasilnya begitu-begitu saja. Merpati harus dicarikan jalan sendiri. Jalan korporasi. Bukan jalan subsidi.
 
Kalau dari sekitar 20.000 hektare ladang garam di seluruh Indonesia bisa diberikan membran 10 persennya saja, hasilnya bisa mencapai 1,7 juta ton/tahun. Sudah melebihi keperluan garam untuk manusia Indonesia.
 
Tapi, membeli membran untuk 2.000 ha ladang garam memang memerlukan biaya besar. Tiap hektare memakan dana Rp 20 juta. Tapi, angka itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan PMN untuk bidang lain. Padahal, angka itu begitu besar artinya bagi petani garam. Belum lagi bagi harga diri bangsa yang selalu dihina dengan kalimat: garam pun harus impor!
 
Sambil menunggu PMN, saya akan minta bank-bank BUMN untuk menghitung. Mungkinkah skema kredit dilakukan untuk membranisasi itu. Menurut hitungan Dirut PT Garam, payback membran ini hanya dua tahun. Berarti petani garam bisa mengembalikan kredit itu dalam dua tahun. Apalagi kalau diizinkan menggunakan dana KPBL BUMN untuk membayarkan bunganya. Agar petani garam tidak dibebani bunga.
 
Membran adalah sejenis plastik yang dihamparkan di tambak garam. Dengan dihampari membran, keuntungannya dobel: proses pembuatan garamnya lebih cepat (air lautnya lebih panas sehingga lebih cepat menguap) dan semua garamnya menjadi garam kelas satu.
 
Tanpa membran, lapisan garam yang paling bawah pasti tercampur tanah dan lumpur. Ini membuat sekian persen garam menjadi garam kelas tiga. Sulit dijual. Murah pula harganya. Di Madura saja kini ada 350.000 ton garam jenis ini. Menumpuk. Tidak ada yang beli. Isunya pun negatif: BUMN tidak mau beli garam rakyat.
 
Membran adalah hope baru bagi petani garam. Ini juga belum banyak diketahui.
 
Selesai salat Jumat di sebuah masjid di pinggir jalan di Cirebon minggu lalu, ketika mulai mengenakan sepatu DI-19, saya didatangi camat dan kuwu setempat. Sambil melirik DI-19, Pak Camat mengemukakan bahwa di depan masjid itu ada aset BUMN yang sudah puluhan tahun menganggur. Itulah bangunan milik PT Garam yang sudah lama ditinggalkan.
 
Padahal, ada sekitar 1.000 petani garam di kawasan dekat masjid itu sampai ke Indramayu. PT Garam sebagai BUMN tidak pernah melakukan pembelian garam rakyat. Kepada Pak Camat, saya berjanji untuk menelusurinya. Saya juga bertanya: apakah sudah ada petani garam yang menggunakan membran. Ternyata belum. Bahkan, kata membran pun baru sekali itu dia dengar.
 
Sambil mengemudikan mobil ke Pabrik Gula Jatitujuh, saya hubungi Dirut PT Garam. Benar. Tidak ada pembelian itu. Bahkan sudah sejak 1992. Tapi, PT Garam yang baru mulai tahun ini bisa bernapas sudah bisa memberikan hope. Tahun ini PT Garam bisa membeli garam rakyat di Cirebon-Indramayu sebanyak 15.000 ton. Indikasi harganya pun sudah bisa disebut: Rp 700 hingga Rp 720 per kilogram, bergantung kualitasnyana. Ini sudah lebih baik daripada harga tahun lalu yang Rp 620 per kilogram.
 
Untuk garam, kawasan Cirebon-Indramayu memang tidak sebagus Madura. Di Indramayu, petani hanya bisa membuat garam sekitar empat bulan dalam setahun. Bulan ini, saat Madura sudah bisa menghasilkan garam, Indramayu masih hujan. Tentu di atas langit masih ada langit. Sebagus-bagus Madura masih lebih bagus lagi Kupang, NTT. Di sana garam bisa dibuat selama sembilan bulan dalam setahun!
 
Hanya belum ada ladang garamnya. PT Garam baru akan ke sana setelah napasnya genap. Mungkin tahun depan.
 
Hope memang tidak membuat perut terasa kenyang. Tapi, hope-lah yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup!


  Dahlan Iskan
Menteri  BUMN

 
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
    1. 09.07.2012,
      14:43
      miftakhudin
      secepatnya bapak ke pondok kyai kanjeng sewu demi bangsa
    2. 01.07.2012,
      23:10
      haposan siahaan
      kerja nyata yg di butuhkan,.NATO no way,.Indonesia harus sbg eksportir garam no 1 di dunia,.Aceh dan Sumut layak di galakan,petani garamnya
    3. 26.06.2012,
      13:50
      Putra Petan Garam
      Garam nginpor..??? padahal garam yg ada di Pulau Madura dari Ujung Sumenep ke ujung Bangkalan, garam produk rakyat indonesia berceceran tidak terbeli oleh pemerintah atau oleh swasta............
    4. 17.06.2012,
      12:04
      winarno zain
      MH is the best....
      DIS for RI 1...
    5. 08.06.2012,
      15:03
      desi anugrah
      SAya sangat berharap agar MANUFACTURING HOPE bisa ditampilkan di televisi, sehingga bisa menjadi tren pola kerja dan berpikir
    6. 08.06.2012,
      13:27
      sanam h
      mudah2an ALLAH SWT MERIDOINYA
    7. 08.06.2012,
      07:07
      syakur makkah almukaramah
      Subhanalloh,ternyata NEGERI ini masih ada pemimpin seperti DI, semoga sehat walafiat. (putra madura)
    8. 07.06.2012,
      22:23
      tomien
      Alhamdulillah msh ada pemimpin spt pak DIS. Ini anugerah bg bangsa. Smg sj pak DIS ga' dipukul K.O sama politikus. Tahu sendirilah para politikus
    9. 07.06.2012,
      19:40
      akku.wakakak
      Sayang menteri seperti Pak DIS hanya satu, Wah kalo Pak DIS mau ikut di 2014, pasti yang milih banyaaak bangeet neekh.
    10. 07.06.2012,
      13:37
      indonesia jaya
      pak DIS, waspada dengan yang ini:
      http://www.whokilledtheel ectriccar.com/
    11. 07.06.2012,
      12:41
      Erwan
      Saya berdoa semoga bapak panjang umur dan diberi kekuatan oleh Alloh untuk tetap meneruskan perjuangan dalam membenahi negara ini
    12. 07.06.2012,
      12:24
      suyudi
      terima kasih pak DI atas trobosan2, ide2 dan semangatnya. smga negara kita ini akan bangkit dari ketepurukannya. negara yang punya SDA melimpah tapi masih import.....
    13. 07.06.2012,
      10:00
      warsan
      SMUA DI DUNIA INI MUNGKIN-MUNGKIN SAJA...................Selamat Kepada Pak DI Atas Prestasinya......
    14. 07.06.2012,
      08:36
      ilyas
      Baca www.jpnn.com/read/2011/12/19/1 11594/Hope-di-Soekarno-Hatta-d an-Hope-di-Madura- soal garam di NTT, adanya PT. Garam disana.
    15. 07.06.2012,
      08:26
      sugito ito
      kalau pak DI berbicara ngatur negara terasa mudah. tapi kalau nazarudin kelompok parta ngatur negara susah amat. kayaknya sistem negara salah
    16. 07.06.2012,
      00:20
      terune langko
      jika menteri para TKI kayak gini kan hebat,gak hanya bisa ngoceh di balik meja.bravo pak dahlan From mobile
    17. 06.06.2012,
      22:43
      rustee
      betu, tak pikir suroboyo paling puanas ternyata NTT lebih gila lagi panasnya tapi aku kok gak pernah lihat petani garam di sana dimana ya?
    18. 06.06.2012,
      21:54
      Hadar A
      Maju terus Pak DI, semoga bpk diberikan kesehatan yg baik agar bs menata BUMN negeri ini, terutama Pabrik Gula dengan KUD nya agar di kelola dengan baik dan benar jangan aji mumpung, ini harapan rakyat kecil yg sering melihat ketidak adilan tp tdk bs berbuat apa-apa, cuma bisa mengelus dada...
    19. 06.06.2012,
      15:01
      ilyas
      Ketikkan 'catatan dahlan iskan' pada pencarian jpnn.com. Beliau sudah tahu persoalan garam Madura ini sejak lama.
    20. 05.06.2012,
      23:25
      Volta
      Perlu ada kompetisi antar sesama pabrik gula agar tercipta semangat continuos improvement. Katakanlah untuk merebut piala DI-1 Manis. From mobile
    21. 05.06.2012,
      17:30
      wigih
      Target harus dipegang...maju pak DI
      From mobile
    22. 05.06.2012,
      14:14
      sabri cielo
      banyak kalangan yg tdk suka melihat keberhasilan bangsa dan pemerintah, semoga penyebar virus pesimisme menjadi pecundang selamanya
    23. 05.06.2012,
      13:17
      Abdulrahim Takalamingan
      Pak DI adalah Motivator untuk pembangunan bangsa Indonesia tercinta.
      Sejahteralah bangsa ini bila semua anak bangsa mau BEKERJA KERAS...
    24. 05.06.2012,
      13:17
      Abdulrahim Takalamingan
      Pak DI adalah Motivator untuk pembangunan bangsa Indonesia tercinta.
      Sejahteralah bangsa ini bila semua anak bangsa mau BEKERJA KERAS...
    25. 05.06.2012,
      10:56
      akang
      Satu kata, excellent job.
      Semoga tetap sehat pak DI. MAJU FOR RI-1
    26. 05.06.2012,
      10:35
      miftahol.m
      Hidup adalah pilihan, Jadi Pejuang atau jadi Pecundang. DIS Mengajarkan kita jadi Pejuang.
    27. 05.06.2012,
      09:40
      alina
      terharu... semoga kejujuran dan kerja keras senantiasa melingkupi para pemangku bangsa... amiin
    28. 05.06.2012,
      02:08
      sahid
      iyaa..tuh pak, terlalu banyak berita2 tentang kejelekan negara,,padahal bagusnya juga ga kalah banyak,,optimis buat Indonesia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    29. 04.06.2012,
      14:55
      shochibul_burhan
      Setiap senin gak pernah absen untuk mbaca HOPE. Terus berkarya pak dahlan. Smoga hope nya mnular ke sluruh indonesia
    30. 04.06.2012,
      12:24
      cutayu
      sakit membaca tulisan Pak DI ini. sebenarnya bangsa ini bisa menjadi bangsa yg sejahtera kalau pemimpinnya bekerja keras seper pak DI ini...
    31. 04.06.2012,
      11:56
      syam
      Om DI,...MAJU TERUS..OM..
      Jgn pernah ragu...
      Di riau yg penduduknya lumayan sejahtera, masih belum dapat fasilitas infrastruktur dari beberapa BUMN..JADI...tolong bantu riau ni om..melalui PLN, JASAMARGA, PERTAMINA DLL. agar meningkatkan pelayanannya..thank From mobile
    32. 04.06.2012,
      11:38
      dino
      Pak Dahlan bagaimana tanggapan bapak soal penyatuan zona waktu? Terima kasih From mobile
    33. 04.06.2012,
      11:28
      Syamsuardi Abdullah
      Insyallah Bp. Dahlan dilimpahi Kesehatan
    34. 04.06.2012,
      11:24
      syahruddin
      Virus Hope ini harus disebar, supaya kondisi kehidupan petani di negeri ini lebih baik.Hidup pak DIS... From mobile
    35. 04.06.2012,
      10:41
      bagong
      tetap sehat pak dis panjang umur....semoga tumbuh lagi 100 orang pak dis di negri ini. indonesia pasti jaya. salam kerja kerja dan kerja From mobile
    36. 04.06.2012,
      10:37
      rafa
      aduh makin suka aja sama pak dahlan, terus pa tingkatkan kinerjanya
    37. 04.06.2012,
      10:28
      ariyanto
      Kebanyakan penyebaran virus berusaha untuk dicegah dan diberantas,tapi untuk jenis virus hope mohon untuk disebarkan,biar Indonesia makin hebat
    38. 04.06.2012,
      10:19
      Noor
      Pak Dis, HOPE di share di TV secara rutin
      dong, biar semakin banyak yang bisa menikmati.
    39. 04.06.2012,
      10:18
      aura K.
      Sy jadi pengen punya sepatu kayak Pak DI.Mulai dr sptu, sesudah itu, niru hope-nya, kerja kerasnya,njaga kesehatannya..ada yg punya gambarnya?
    40. 04.06.2012,
      09:56
      Muh. Arifin
      Beruntung daerah yg di singgahi P. DH.Belilas (Riau) 30 th tak kenal PLN, DH singgah sebentar PLN Okey...., Desa Garam, Ds Tebu bisa jaya o/ DH.
    41. 04.06.2012,
      09:12
      ammank
      semoga nasib petani garam bisa lbih baik lagi sebgaimana nasib petani tebu amin bravo buat pa mentri BUMN dan mentri PPERINDUSTIAN bravo GARUDA..
    42. 04.06.2012,
      08:56
      yono kartolo
      setiap senin sebelum aktivitas saya selalu cari hope mr.DIS untuk suport kerja yg optimis jd tinggalkan untuk komentar yg kotor dari politikus.
    43. 04.06.2012,
      07:01
      Rolis
      terima kasih ...kami petani tebu betul2 dpt merasakan manisnya menjadi petani tebu yg selama ini blm pernah kami rasakan.smg Allah melindungi Bpk
    44. 04.06.2012,
      06:59
      Ahmad Halwani M
      Memang penyebaran virus hope masih kalah cepat dengan virus pesimisme lewat mulut kotor politikus.
    45. 04.06.2012,
      06:04
      Aan Hunaifi
      Manteb jaya..viruse harapan penuh optimisme haru selalu ditularkan ke seluruh rakyat indonesia..tumpas habis keluh kesah,,www.aanhunaificeo.com
    46. 04.06.2012,
      05:41
      Teguh Setyoadi
      Trima kasih pak DIS, gula sudah akan terasa 'manis' bagi petani tebu karena ada rendemen minimal.Semoga
      'polos- polosan saja' terus di wujudkan. Tinggal 'asin' bagi petani garam. Selamat memberi HOPE bagi kami dan bangsa Indinesia.
    47. 04.06.2012,
      05:04
      Har
      Salut pak DI...! Memang masyarakat hrs tau info yg sbnrnya bukan yg negatif aja,yg menjadi pertanyaan saya adlh 'jika suatu hari nt p DI lengser masih adakah hope2 gini' From mobile
    48. 04.06.2012,
      01:31
      zanuarpages
      good job !!
    49. 04.06.2012,
      01:25
      vigan
      abdi mbangun hope juga, sehingga tiap liat komputer golek e Pak Dahlan sik!