Minggu, 23 November 2014 | 09:10:08
Home / Bisnis / Saatnya Berburu Saham Unggulan

Senin, 04 Juni 2012 , 07:27:00

JAKARTA - Peluang investor kian terbuka menyusul melemahnya indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 3.799,7 akhir pekan lalu. Senior Research PT HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan kondisi saat ini membuka peluang untuk melakukan aksi buy on weakness dalam menghadapi teknikal rebound.

"Bila IHSG masih ada penurunan di bawah 3.800 akibat terkoreksinya indeks Dow Jones AS dan komoditas (minyak), kami rekomendasi melakukan akumulasi saham big cap (kapitalisasi besar)," ungkapnya dalam analisis untuk perdagangan hari ini.

Yuganur mengatakan, saham-saham unggulan itu mulai memasuki level jenuh jual (oversold). Bursa di Amerika Serikat (AS) akhir pekan lalu memang berakhir di teritori negatif. Indeks Dow Jones tergerus 274,88 poin (2,22 persen) ke posisi 12.118,57 dan Nasdaq anjlok 79,86 poin (2,82 persen) ke 2.742,48. Begitu pula indeks S&P 500 terkoreksi tajam 32,29 poin (2,46 persen) ke 1.278,04.

Meski begitu, Yuganur melihat masih ada sentimen positif pasca jobs report buruk di AS yang membuat The Fed (Bank Sentral AS) berpikir untuk mengeluarkan stimulus Q3 (tahap ketiga). "Hal ini bisa menahan downside market ke depan dan menguatkan komoditas serta rupiah dan pasar equity global," bebernya.

Pada perdagangan hari ini, Yuganur memerkirakan IHSG bergerak di kisaran support pada level 3.750-3.680 dan resistance 3.900-4.010. Saham rekomendasi beli di antaranya ADRO, ANTM, BBCA, dan BKSL.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan penurunan IHSG belakangan ini salah satu penyebab utama adalah hengkangnya investor asing dengan ramai-ramai melakukan aksi jual. Sepanjang Mei 2012, transaksi jual investor asing (foreign net sell) tercatat Rp 8,4 triliun. Meski begitu, secara kumulatif year to date dibandingkan awal 2012, investor asing masih melakukan pembelian bersih Rp 3,1 triliun. Artinya, nilai uang yang keluar masih lebih kecil dibandingkan yang masuk.
 
Kendati demikian, tidak perlu khawatir berlebih karena pemerintah bersama Bank Indonesia sedang menggodok kebijakan untuk menanggulanginya. Yang terpenting, secara fundamental, baik emiten maupun perekonomian Indonesia tidak ada masalah. "Ini sebetulnya fenomena jangka pendek," tegasnya. Hal yang kurang lebih sama, kata Ito, terjadi tahun lalu sekitar Agustus 2011. Saat itu, investor asing ramai-ramai hengkang akibat krisis Eropa dan Amerika Serikat (AS) sehingga IHSG terkoreksi dalam.

Belajar dari pengalaman Agustus 2011, September di tahun yang sama investor asing mulai berbondong-bondong masuk pasar Indonesia. karena itu, investor domestik diharapkan tidak terlambat memanfaatkan peluang ini. (gen/oki)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar