Jumat, 29 Mei 2015 | 07:10:34

Kamis, 21 Juni 2012 , 12:40:00

SUSAH sekali menyontek gaya I Gede Subawa M Kes, AAAK, Dirut PT Askes (Persero) saat melepas pukulan dengan wood satu di petak tee off. Back swing-nya panjang, snap-nya cepat, diikuti gerakan kaki kanan menyilang dan ujung kaki sepatu bertumpu sebagai penyeimbang.

Kawan-kawan golfer menyebut gaya pukulan itu sebagai perpaduan antara “pencak silat” dan golf. Tetapi, bagi penikmat olahraga di atas lahan hijau sekitar 60 hektare itu, model yang diperagakan pria kelahiran Tabanan Bali, 21 Maret 1951 itu sebagai the art of golf. Tidak ada yang salah, karena bola yang terlahir dari pukulan maut itu tetap berlari kencang, lurus, tinggi, dan jauh.

Dia menemukan sendiri gaya yang mirip tarian Flamingo yang terkenal di Spanyol itu. Dia konsisten dengan model pukulan itu, dan bola kecil yang terlempar oleh stik merek Beres itu tetap saja on track. Artinya, dia tetap lebih baik daripada produk golf sekolahan, yang sibuk dengan teknik sempurna, tetapi bola out of bond (OOB). ’’Saya golf kan bukan dari sekolah golf, jadi gerakan yang saya juga bisa beda.

:TERKAIT Yang penting saya merasa nyaman, dan bola tetap on track,” jelas golfer yang pernah tercatat di handicap 10 ini. Memang terlihat aneh, tetapi golf itu bukan hanya olahraga tontonan. ’’Yang penting hasilnya dong!” kata I Gede Subawa yang Minggu pagi lalu bermain di Bogor Raya itu. Dia tergolong pemberani, cepat mengambil keputusan, dan tidak merasa ragu dengan apa yang sudah dia putuskan.

Dia sosok yang pede alias percaya diri. Dan itu semua bisa dirasakan dari pilihan-pilihan dia dalam menentukan jenis stik. Usianya memang sudah kepala enam, namun jarak pukul 160 meter, dia tetap menggunakan iron-6. Lazimnya, untuk pemain-pemain amatir yang star di patok biru, di par 3 yang berjarak di atas 150 meter, lebih percaya diri dengan iron-5, atau bahkan stik jenis rescue.

Tetapi tidak buat I Gede Subawa. ’’Boleh dicoba, pukulan saya tetap jauh dan lurus,” ungkap dirut, yang sebelumnya pernah bertugas di Jawa Tengah-DIY, Bali, dan NTT itu. Tapi, golf itu bukan jauh-jauhan memukul. Golf itu akurasi dan seni mengatur jarak, arah, dan jumlah pukulan. Golf itu kepintaran membaca arah angin, memilik stik, dan berlatih menggunakan feeling. ’’Karena golf itu ibarat manajemen, harus punya planning, harus disiplin mengimplementasi perencanaan itu,” ujar dokter yang berpostur tinggi besar itu.

Soal gaya Flamingo itu, sesungguhnya dia menyadari, itu teknik yang tidak standar. Bahkan tidak ada dalam kamus bermain golf. “Terus terang, gaya ini bukan saya bikin-bikin. Tapi, karena pinggang saya tidak seperti dulu saat masih muda lagi.

Sendi di bahu kiri saya juga ada yang tidak beres, dan sebenarnya harus operasi. Jadi, gaya itu sebenarnya untuk mengurangi rasa sakit saat memukul keras,” akunya. I Gede sering menjadikan permainan golf sebagai bahan inspirasi dalam membuat kebijakan dalam perusahaannya. Mengelola sebuah perusahaan itu seperti mengelola poin, harus konsisten, akurat, dan selalu memahami lapangan dengan baik.

Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar