Sabtu, 01 November 2014 | 10:14:32
Home / Nasional / Pancasila Belum Dijadikan Ideologi Kerja

Jumat, 22 Juni 2012 , 21:42:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ali Masykur Musa, menyayangkan Pancasila yang hanya sebatas menjadi ideologi resmi namun tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disampaikan Ali Masykur saat jadi narasumber sarasehan cendekiawan nasional, di gedung Joeang, Cikini Jakarta, Jumat (22/6).

"Sayangnya, Pancasila terhenti pada titik ideologi verbal dan tidak mengakar kepada ideologi kerja penopang pembangunan nasional. Akibatnya, nilai-nilai luhur Pancasila tidak tercermin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dan belum menjadi kekuatan pendorong untuk mewujudkan cita-cita nasional," katanya.

Hadir pada acara tersebut antara lain Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) Tri Handoko Seto, Ketua Presidium ICMI Nanat Fatah Natsir, dan Ketua Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Muliawan Margadana serta Sekjen Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) Citra Surya.

Menurut Ali, kini Pancasila justru ditinggalkan. Misalnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa yang harusnya diamalkan, justru menjadi Keuangan Yang Maha Kuasa. Demikian pula dengan sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, tapi yang terjadi justru penistaan terhadap keadilan dan kemanusiaan, mewabahnya sikap semena-mena, dan hilangnya tenggang-rasa.

"Sedangkan Sila ketiga Persatuan Indonesia, tetapi yang dikembangkan adalah sistem yang meruntuhkan nasionalisme dan patriotisme serta menonjolnya pengagungan kepentingan pribadi dan golongan," tegas Ali Masykur.

Sedangkan untuk sila keempat, dalam praktiknya justru diterjemahkan menjadi demokrasi menang-kalah, tirani mayoritas, serta terkikisnya semangat kekeluargaan dan gotong royong. "Sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sementara yang terjadi ketidakadilan yang merata, jurang ketimpangan kesejahteraan yang kian menganga," imbuh Ali Masykur.

Fakta ini, lanjutnya, kontradiktif dengan empat tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

"Harus diakui pencapaian empat tujuan nasional yang merangkum empat inti kebutuhan dasar warga negara yaitu keamanan, kesejahteraan, kecerdasan, dan harga diri di mata bangsa-bangsa lain tersebut masih jauh panggang dari api," tegasnya.(fas/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 24.06.2012,
        22:02
        Linda Trisiana Wati
        tema yg mnarik,berkaitan dg tema talkshow yg akan diadakan SKI FH unair : Karakteristik Sarjana Cendekiawan Indonesia dg pembicara tokoh nasional