Selasa, 30 September 2014 | 22:54:29
Home / Dahlan Iskan / Abah Sorgum yang Mendorong Tepung Antiautis

Senin, 16 Juli 2012 , 01:10:00

BERITA TERKAIT

SEJUMLAH ahli sorgum berkumpul di Kementerian Riset dan Teknologi. Saya dan Menristek Dr Gusti M. Hatta ikut hadir. Mereka bukan saja yang ahli dalam hal keilmuan seperti Prof Dr Sungkono dari Universitas Lampung (dan IPB), tapi juga para praktisi yang sudah mempraktikkan menanam sorgum di berbagai wilayah.
  
Kita memang punya problem yang kelihatannya sulit dipecahkan seumur hidup kita: Kita ini akan terus impor gandum besar-besaran setiap tahun. Sejak lebih 40 tahun lalu dan sampai entah berapa ratus tahun lagi.
  
Kebiasaan kita makan mi dan roti tidak akan bisa dibendung lagi. Berarti pemakaian gandum akan terus meningkat. Padahal, kita tidak bisa menanam gandum di Indonesia. Tanah kita dan iklim kita tidak cocok untuk tanaman gandum.
  
Kecuali, ahli-ahli pertanian kita menemukan cara baru kelak. Yakni, cara memanfaatkan lahan yang tidak subur untuk gandum. Kita tidak mungkin menggunakan sawah-sawah subur kita karena akan mengancam tanaman padi.
  
Itulah sebabnya, setelah belajar dari apa yang dilakukan BUMN PT Hijau Lestari di Jabar, saya terpikir untuk mengembangkan sorgum. Tanaman itu tidak asing bagi saya. Waktu kecil saya pernah menanam sorgum di desa saya. Waktu itu disebut jagung cantel. Bisa untuk nasi, bubur, camilan, ataupun tepung. Bisa juga untuk marning (popcorn dalam bentuk yang lebih kecil).
  
Menristek, Pak Gusti M. Hatta, menginformasikan bahwa di lingkungannya banyak ahli yang bisa digali ilmunya. Tidak hanya tentang menanam sorgum, tapi juga industri hilirnya. Termasuk yang dari IPB, Unpad, dan Unila. Mereka itulah yang berkumpul pekan lalu. Pertemuan pun berlangsung dengan dinamisnya.
  
Bahkan, mata Prof Sungkono sampai berlinang-linang. Saking terharu dan bersemangatnya. "Saya ini ahli sorgum yang baru sekarang didengar pendapat saya. Inilah mimpi saya. Sorgum diperhatikan," ujarnya.
  
Putusan pun dibuat hari itu. BUMN akan mencari 15.000 ha tanah tidak subur untuk ditanami sorgum secara besar-besaran. Selama ini, di Jabar BUMN memang sudah membina petani untuk menanam sorgum, tapi kecil-kecilan. Sebab, lahannya milik petani, yang luasannya memang terbatas.
  
Tapi, banyak petani lahan kering yang jatuh cinta. Sampai-sampai ada seorang petani yang aslinya bernama Supardi yang tinggal di Soreang, Kabupaten Bandung, mendapat panggilan baru: Abah Sorgum. Sebab, dia sangat gigih meyakinkan petani lain untuk menanam sorgum. Juga karena Abah Sorgum terus menciptakan makanan berbasis tepung sorgum.
  
Pengalaman Jabar itulah yang memberikan keyakinan untuk pengembangan besar-besaran. Lahan-lahannya siap didapat: Jatim (Banyuwangi Timur Laut yang kurang subur), Sulsel, Sultra, dan Sumba. Di lokasi-lokasi tersebut BUMN memang memiliki tanah tandus sangat luas yang kurang produktif. Akhir tahun ini lahan-lahan itu sudah harus berubah menjadi kawasan sorgum.
  
Tentu dalam waktu yang dekat, diperlukan benih sorgum dalam jumlah besar. Sampai 50 ton. Tapi, tidak akan sulit. Bisa disiapkan lahan 100 ha yang akan ditanami sorgum khusus untuk benih.
  
Kelebihan sorgum itu, saat untaian buahnya siap dipanen, batang dan daunnya masih hijau. Itu sangat seksi untuk makanan ternak. Tiap hektare bisa menghasilkan batang/daun sampai 50 ton. Karena itu, tanam sorgum dalam skala besar akan dikaitkan dengan program peternakan sapi skala besar pula. Baik yang di Sumba, Sulsel, Sultra, maupun Jatim.
  
Memang tepung sorgum memiliki kelemahan: tepungnya tidak bisa mengembang. Tidak seperti terigu. Karena itu, tepung sorgum tidak bisa untuk membuat roti. Harus dicampur gandum. Kalau dicampur gandum, rotinya justru akan lebih baik. Dengan demikian, impor gandum bisa berkurang 30 persen. Satu jumlah yang sangat besar.
  
Tapi, sorgum memiliki kelebihan yang luar biasa. Di samping harganya lebih murah, tepung sorgum tidak mengandung unsur gluten, zat yang bisa membuat anak menjadi autis. Karena itu, untuk makanan seperti kue dan biskuit yang tidak memerlukan proses mengembang, sorgum adalah jawabnya.
  
Walhasil, sorgum akan menjadi unggulan BUMN di samping program pangan lain, seperti Proberas, Yarnen, pencetakan sawah baru, pengadaan beras Bulog, peningkatan produksi gula, garam, pabrik sagu, dan ternak sapi.
  
Semuanya berat, tapi bukan tidak mungkin terwujud. (*)


    Dahlan Iskan
   Menteri BUMN
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 15.04.2014,
        11:35
        wito
        pengadaan bibit sorgum sweet dimana?
      2. 31.07.2012,
        09:06
        lelono
        salut pak, dan utk inovasi olahan sorgum libatkan para lulusan tehnologi pangan jadi inovatornya, sekalian buka lapangan kerja baru.
      3. 23.07.2012,
        14:00
        drg. Hamdan
        Salut buat pak Dahlan Iskan.....ponakan saya mempunyai usaha di bidang pertanian....insyaallah akan saya sarankan untuk menanam sorgum.
      4. 20.07.2012,
        12:32
        Yugitu Aijuga
        kok ngomngin negara orang...??
        optimis aja kita bisa maju...
        dimulai dari diri sendiri, bisa ngga? From mobile
      5. 18.07.2012,
        09:03
        IYA
        Jangan mau terjebak berita, Malaysia itu sesama saudara seagama
      6. 17.07.2012,
        21:00
        Adi
        Pak DI selalu ada terobosan yang banyak sekali manfaatnya untuk kemajuan ekonomi negara.. kerja,kerja,kerja
      7. 17.07.2012,
        18:53
        ahas
        @jemrie, lo jangan pongah gitu. Faktanya malaysia lebih maju GDP Malaysia 15rb USD sedang kita 4.5rb USD/tahun hanya sedikit lbh tinggi dari Philipine. Jd pemerintahan kita mesti pacu untuk lbh giat jg korupsi yg besar. Jd pembicaraan negara lain adalah ketimpangan, pemda (pemerintah) cuek dg rakyat sekitar. contoh di NTB newmont dan pemdanya kaya2 tapi disebelahnya banyak gubuk reyot dan sungguh ironi,, persis seperti film laskar pelangi,,huhhh
      8. 17.07.2012,
        16:39
        rustee
        si sorgum ini cocoknya kan didaerah yg kurang produktif sprti NTB-NTT(yg sdh pernah nanam)alangkah ciamiknya klo ditanam dekat padang Savana ituu
      9. 17.07.2012,
        16:16
        jemrie
        maju terus indonesia.. buat malaysia nggak ada apa2nya dlm segala hal....
      10. 17.07.2012,
        09:29
        Muh. Arifin
        Oke Banget Pak DIS, Gandeng Petani Deso tuk Maju dan bermitra, biar harkat-martabatnya Naik. Janga BUMN nya aja yang maju. Trimks