Kamis, 23 Oktober 2014 | 20:47:44
Home / Focus Group Discussion / Menimba Ilmu dari Pikiran-pikiran Goenawan Mohamad

Sabtu, 28 Juli 2012 , 00:03:00

SHARING: Goenawan Mohamad berbagi pengalaman di Forum Pemred Jawa Pos Group di Pekanbaru, Riau. Foto: Riau Pos/JPNN
SHARING: Goenawan Mohamad berbagi pengalaman di Forum Pemred Jawa Pos Group di Pekanbaru, Riau. Foto: Riau Pos/JPNN
BERITA TERKAIT

PENYAIR, sastrawan, jurnalis, penyunting, penulis “Catatan Pinggir” Majalah Tempo, Goenawan Mohamad turut berbagi pengalaman di Forum Pemred Jawa Pos Group di Pekanbaru, Riau itu. Dua jam penuh, pria yang tahun lalu, 29 Juli berulang tahun ke-70, dan dianggap ulang tahun terakhir, ---karena tahun-tahun ke depan dia akan mengaku 70 tahun itu— berbicara di hadapan 100 pemred dari 33 provinsi dari Aceh sampai Papua itu.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo ini berkisah soal politik. Dia berbicara sebagai pengamat, pemerhati, pelaku, dan mungkin juga bagian dari korban politik. Sejak muda, Mas Goen ---sapaan akrab Goenawan Mohamad, lagi-lagi biar tetap terkesan awet muda--- sudah ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan, tahun 1964 yang membuat dia di-black list di berbagai media umum. Padahal, pekerjaan dia sejak usia belasan tahun adalah menulis.

“Kita sebagai wartawan, saya juga sebagai pengarang ini paham, sebetulnya yang dimaksud dengan politik itu bukanlah seperti yang sekarang dipraktikkan oleh partai-partai politik itu. Dalam sejarah Indonesia, politik itu perjuangan untuk perbaikan masyarakat, menuju kemerdekaan. Setelah itu untuk menjaga lembaga-lembaga sosial ekonomi untuk kesejahteraan rakyat,” kenang pria yang belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, AS itu.

Pada perkembangannya, kata dia, saat demokrasi terpimpin, politik masih bisa bernyawa, tetapi hidupnya dikekang. Partai-partai lebih bebas bergerak, daripada era Orde Baru. Zaman Presiden Soeharto, politik hanya untuk memenangkan Golkar dan memilih kembali Soeharto sebagai presiden. “Partai hanya memperjuangkan kedudukan, bukan memperjuangkan kepentingan rakyat. Partai hanyalah satelit. Hanya mengikuti induknya. Bahkan untuk menjadi pemimpin partai harus seizin presiden. Ini yang membuat partai kehilangan elannya, sebagai tempat mencari kader pemimpin bangsa,” tutur Mas Goen.

Dia mengibaratkan seperti monyet, yang bergantung ke atas, tangannya lebih panjang daripada kakinya. Bagaimana di era reformasi? “Semula, saya berharap ada perubahan yang sehat dan signifikan. Ternyata tidak. Tabiatnya sama saja. Tempat mencari uang. Akhirnya publik menilai, politik dianggap kotor dan tidak menarik. Politik terlalu banyak dinegosiasikan untuk kepentingan sementara dan pribadi. Politik dianggap sebagai cara mencari kepentingan,” lanjutnya.

Mas Goen menyadari, dari pengalaman sejarah itu, politik selalu diawali dengan semangat yang menggebu-gebu. Misalnya, semangat untuk merdeka, berdemokrasi yang lebih sehat, ekonomi sehat, perjuangan hak asasi manusia, dan idealisme lain. Tapi, setelah diawali dengan menggebu-gebu itu, selalu antiklimaks dan terjadi kekecewaan. “Mungkin itu bagian dari perjalanan sejarah yang tak pernah henti. Karena dunia memang tidak ditakdirkan sebagai surga,” paparnya.

Dan itulah pentingnya demokrasi. “Demokrasi bukan menjanjikan sistem yang sempurna. Tidak ada sistem yang sempurna di dunia ini. Demokrasi itu hanyalah menjanjikan sistem yang bisa dikoreksi secara regular dan damai. Demokrasi tidak akan melahirkan pemimpin sempurna. Tetapi menghasilkan pemimpin yang bisa diganti dan dikoreksi. Demokrasi terus membuka peluang untuk perbaikan menjadi lebih baik. Dan itulah sesungguhnya letak demokrasi dalam politik,” jelasnya.

Apa yang dilihat dan diamati saat ini, wajah politik negeri ini masih jauh dari yang diharapkan. Dan memang tidak gampang untuk itu. Politik itu harus menegakkan keadilan di dunia yang tidak adil. “Partai-partai politik saat ini banyak yang mati, korup, atau hanya mendukung memimpin. Parlemen begitu berkuasa, dan berpotensi menyalahgunakan kekuasaan, pemerintahan yang tidak konsisten, yang cepat berubah,” lagi-lagi cerita Mas Goen yang membuat pemred-pemred Grup JP itu senyap mendengarnya.

Dengan intonasi yang konstan, bahasa yang runtut, kosa kata yang variatif, tak ada pengulangan kalimat, membuat audience di ballroom Labersa Hotel, Pekanbaru itu asyik mendengar kata demi kata. Inilah yang membuat problem leadership 2014 menjadi lebih rumit.

Ini matching dengan hasil survey Metro TV, soal calon presiden alternatif, di mana Dahlan Iskan mendapat 38,8 persen, disusul Joko Widodo 17,11 persen, Anis Matta 13,3 persen, Mahfud MD 10,96 persen, Anis Baswedan 7,1 persen, Teras Narang 3,69 persen, Chaerul Tanjung 2,19 persen, Sandiaga Uno 1,87 persen, Firmanzah 1,2 peren, Komarudin Hidayat 0,96 persen, Gita Wiryawan 0,9 persen, Soekarwo 0,67 persen, Rahmad Gobel 0,45 persen, Pramono Anung 0,52 persen, dan Priyo Budi Santoso 0,26 persen.

Sehari sebelumnya, Dahlan juga menegaskan sikapnya di Forum Pemred itu atas beberapa penanya soal pencapresan dirinya di 2014. “Saya berpendapat, pintu untuk saya itu tidak ada. Saya tidak berpartai, tidak mengikuti partai, tidak menjadi ketua umum partai. Teoretis, pintu untuk saya tidak ada. Tapi pintu itu kan masih bisa dibuka kalau mau. Misalnya dengan cara digedor-gedor. Tapi saya bukan tipe orang yang suka menggedor-gedor pintu seperti itu. Saya percaya urusan presiden itu ada campur tangan Tuhan. Saya percaya itu,” jelas Dahlan Iskan.

Rupanya, Goenawan Mohamad juga pernah menayakan dan meminta hal sama kepada Dahlan Iskan. “Ini bukan penugasan Tempo. Ini tugas sejarah. Ini tugas republik, tugas negara. Bukan untuk ambisinya, tetapi karena kapasitasnya. Seperti pemilihan Ketua RT, pasti tidak ada yang mau, semua menolak. Padahal, kalau tidak ada yang mau, suasana kerukunan tetangga juga bisa terancam?” ungkap Mas Goen.

Dia tidak sedang merayu Dahlan, apalagi membujuknya. Dia justru kasihan dengan Dahlan Iskan, karena begitu masuk bursa capres, secara otomatis sudah banyak “moncong senapan” yang mengarah ke mukanya. Itu akan menjadi beban baginya, dalam bekerja saat ini. Rival politiknya bisa melakukan apa saja untuk memangkas, sebelum bersemi. “Saya tahu, Dahlan tidak ada beban. Dahlan sendiri tentu tidak menyesal, kalau akhir tidak ada pintu partai. Saya tahu betul betul orangnya. Dia selalu tidak peduli dengan soal-soal beginian. Apalagi dengan politik dan calon mencalonkan itu,” paparnya.

Goenawan Mohamad tidak percaya, bahwa dunia ini ada optimisme. Dia juga tidak percaya pada pesimisme. Karena optimisme dan pesimisme itu berasumsi bahwa orang mengetahui masa depannya. “Yang harus dilakukan adalah menciptakan dan membuat harapan di setiap saat. Karena harapan itu tidak datang dari langit. Tidak bisa ditunggu, tidak bisa diberikan kepada orang lain. Tetapi harus diperjuangkan, dengan menyampaikan kepada rakyat Indonesia. Di situlah politik mengatasi soal kemenangan dan kekalahan. Di situ pula politik juga membawa pesan besar, yakni tentang perbaikan politik yang sehat dan fair,” sebut GM.(don/habis)

Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar