Selasa, 31 Maret 2015 | 09:03:08

Minggu, 12 Agustus 2012 , 04:22:00

Rhoma Irama. Foto: Arundono/JPNN
Rhoma Irama. Foto: Arundono/JPNN
JAKARTA - Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta terus mengusut dugaan pelanggaran suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dengan terlapor Rhoma Irama. Mereka sudah melengkapi alat bukti sebagai bahan untuk mengambil keputusan apakah akan meneruskan ke ranah pidana atau tidak.

"Kami akan umumkan kesimpulan pada Senin besok (13/8)," kata Ketua Panwaslu DKI Jakarta Ramdansyah kemarin (11/8).

Dia menambahkan, alat bukti tersebut, antara lain, video ceramah Rhoma di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat; kesaksian perekam video itu; tiga pengurus Masjid Al Isra; serta saksi ahli seorang pemuka agama Islam.

Beragam alat bukti tersebut juga dilengkapi sanggahan dari kedua pihak. Kubu pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dimintai keterangan sebagai pihak yang dirugikan dan kubu Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) sebagai pihak yang diduga diuntungkan.

Ramdansyah menegaskan bahwa alat bukti sudah sangat lengkap. Bahkan, bukti-bukti tersebut sudah sangat otentik. Karena itu, bisa saja insiden ceramah Rhoma langsung diteruskan ke kepolisian untuk diproses pidana. "Bisa saja diserahkan ke polisi karena sudah jelas diatur ada pasal pidana pemilu karena hasutan berbau SARA," ungkapnya.

Namun, keputusan final akan dibicarakan pimpinan Panwaslu. "Tidak berarti dalam pilkada semua hal dilarang, tapi juga tidak berarti semua hal boleh dilakukan. Bang Rhoma memang tidak ada dalam daftar tim sukses yang diserahkan. Tapi, kami akan lihat realitasnya di lapangan," kata Ramdansyah.

Sementara itu, dukungan politik kepada Foke-Nara terus bertambah. Setelah Golkar, giliran PKS memberikan dukungan. Hal itu disampaikan langsung Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq di kantor DPP PKS, Jakarta, kemarin. Hadir dalam acara tersebut, antara lain, calon dari PKS Hidayat Nur Wahid yang tereliminasi pada putaran pertama pilgub DKI Jakarta dan Foke-Nara.

Luthfi menyatakan, alasan utama PKS mendukung Foke didasari kesamaan visi dan misi untuk Jakarta. PKS mempertimbangkan kesiapan pasangan calon untuk bisa melaksanakan program kerja dan visi-misi pasangan Hidayat-Didik J. Rachbini. "Kami menilai (Foke-Nara) lebih siap dalam mengintegrasikan program-program yang diusung PKS yang sudah dijabarkan Pak Hidayat dan Pak Didik," ujar Luthfi.

Hidayat menambahkan, PKS sejatinya juga berkomunikasi dengan Jokowi. Mereka menawarkan agar Jokowi memasukkan program kerja Hidayat-Didik sebagai paket deklarasi. Namun, tidak ada respons. "Sampai saat-saat terakhir, Pak Jokowi belum menunjukkan sikap, belum memberikan ketegasan," ujarnya.

Menurut Hidayat, dirinya secara pribadi menjalin hubungan dengan Jokowi. Namun, dia menilai masa jabatan seorang kepala daerah harus diemban sesuai masa tugas. Karena itu, Hidayat mendorong Jokowi untuk tetap berkonsentrasi melaksanakan tugas sebagai wali Kota Solo. "Saya mendukung beliau sebagai wali Kota Solo," tegasnya.

Foke menyambut gembira dukungan PKS tersebut. Meski begitu, dia menyadari bahwa butuh kerja keras untuk memenangi pilgub putaran kedua bulan depan. "Tentu kerja ini harus diiringi kerja keras," ungkapnya.

Bergabungnya PKS dalam gerbong dukungan Foke-Nara menjadi ironi dalam pilgub DKI. Pada pilgub 2007, PKS menjadi satu-satunya partai yang mencalonkan pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar untuk melawan Foke yang ketika itu berduet dengan Prijanto. (aga/bay/c5/ca)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar